JOGJA - Meskipun bulan Ramadan identik dengan perayaan agama Islam, hal tersebut tidak membuat agama-agama lainnya diabaikan.
Salah satu contoh nyata toleransi beragama dapat ditemukan di SMAN 8 Jogja.
Kepala SMAN 8 Jogja Fadiyah Suryani mengatakan, selama bulan Ramadan, pihak sekolah memfasilitasi seluruh kegiatan dan program untuk siswa dari berbagai agama.
“Siswa beragama Kristen, Katolik, dan Hindu mengadakan kajian keagamaan bersama guru agama masing-masing di ruangan berbeda,” katanya, Minggu (9/3/2025).
Fadiyah menjelaskan, secara keseluruhan, sekolah berusaha memberikan layanan pembelajaran yang optimal dengan menciptakan suasana belajar yang kondusif dan representatif bagi semua siswa, tanpa membedakan agama.
Menurutnya, hal ini penting untuk menciptakan kultur toleransi dan membiasakan diri dengan perbedaan, yang menjadi hal krusial dalam kehidupan bersekolah.
"Ini jadi momentum pembelajaran toleransi bagi semua, terutama oleh sesama siswa," ujarnya.
Terkait bulan Ramadan, dia mengakui bahwa siswa beragama Islam lebih banyak menerima materi dan program khusus.
Salah satu program yang rutin dilaksanakan di SMAN 8 adalah Kajian Pagi Ramadan, yang merupakan program dari Sivitas Akademika Islamika OSIS SMA Negeri 8 Jogja.
Program yang digelar tiap Ramadan ini sudah dimulai sejak 6 Maret saat siswa masuk sekolah kembali setelah libur awal Ramadan.
Guru Agama Islam SMAN 8 Jogja Sugeng Dhani merinci, kegiatan tersebut serentak diikuti siswa beragama Islam dari kelas 10, 11 dan 12.
Adapun, aktivitas pagi setelah membaca kitab suci, siswa menuju masjid untuk melaksanakan salat Duha dan menerima materi kajian.
Ia menilai, bahwa bulan Ramadan ini jadi momen peningkatan integritas setiap pribadi.
Integritas tidak hanya sebatas kejujuran saat ujian namun semangat untuk berprestasi dalam berbagai sisi.
"Termasuk kualitas keimanan untuk menjadi umat yang lebih baik," ujarnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita