JOGJA - Bangunan cagar budaya yang hingga kini masih eksis digunakan sebagai tempat mengenyam pendidikan itu masyhur disebut Padmanaba. Selain mencetak banyak intelektual pendiri bangsa, di balik temboknya yang kokoh tersimpan segudang peninggalan kuno sejak era kolonial.
SMAN 3 Jogja lahir sekitar tahun 1942 dengan nama Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Bagian A dan B. Setelah mengalami tiga kali perubahan nama, lalu pada tahun 1964 resmi menyandang nama SMAN 3 Jogja.
Selama 83 tahun berdiri, puluhan benda-benda peninggalan di masa kolonial banyak ditemukan di setiap sudut ruang sekolah. Mulai dari buku, peralatan laboratorium hingga sepasang kerangka asli manusia yang dulunya digunakan sebagai penelitian siswa.
Melihat potensi ini, Kepala SMAN 3 Jogja Suhirno memiliki keinginan untuk melakukan inventarisasi dan pencarian setiap barang-barang bersejarah di gedung sekolah itu. Tujuan akhirnya adalah berdirinya Museum Padmanaba yang berisi koleksi peninggalan barang-barang bersejarah sejak awal bendirinya sekolah itu.
"Saat ini kami masih menggali adanya potensi temuan barang apa lagi dan melakukan konsultasi dengan purbakala dan arsip untuk inventarisasinya," ujarnya saat ditemui di meja kerjanya Kamis (6/3).
Konon dua kerangka yang saat ini di simpan di lemari laboratorium sekolah itu merupakan kerangka manusia asli, sepasang suami istri. Kerangka itu tersimpan rapi dengan bentuk yang masih utuh lengkap dengan gigi dan tulang belulangnya.
Dua pasang kerangka itu satu dalam posisi rahang terbuka dan satunya tertutup. "Kami tidak berani membuka, karena tulangnya sudah rapuh," bebernya.
Belum lama ini pihak sekolah membuka rak dalam lemari kuno yang berisi sejumlah uang kuno yang diduga sejak tahun 1950-an. Uang itu masih tersimpan rapih dalam amplop, beberapa masih dalam satu gepok. "Uangnya saat ini tergolong langka. Mulai satu rupiah, satu setengah hingga uang sen masih ada," terangnya.
Gedung yang berdiri di lahan seluas 23.798 meter persegi itu hampir 100 persen struktur bangunannya masih terjaga keasliannya.
Barang-barang interior seperti meja kursi lengkap dengan papan tulis asli dari awal berdirinya sekolah masih dirawat. Bentuknya unik, bangku dan meja menjadi satu dan terbuat dari kayu dengan penyangga besi.
"Termasuk kami punya tempat yang unik juga, namanya bangsal (semacam ruang olahraga zaman Belanda) yang 100 persen original," tuturnya.
Beberapa aspek yang telah diinventarisasi, di antaranya, dokumen administrasi sekolah bingga ratusan buku-buku, ruangan-ruangan pembelajaran, dan peralatan laboratorium.
Barang-barang tersebut sudah dikumpulkan, namun ia yakin masih terdapat banyak barang bersejarah yang belum ditemukan di gedung tersebut.
"Termasuk nanti kalau ada alumni atau keluarga Padmanaba yang masih menyimpan barang bersejarah punya sini, akan kami imbau agar bisa dititipkan untuk melengkapi museum kami," terangnya.
Ia menargetkan Museum Padmanaba bisa direalisasikan pada 2027 dan siap dikunjungi masyarakat. Museum itu juga diharapkan bisa menjadi pemikat generasi dulu dan sekarang dari segi substansi perjuangan dan kesejarahannya. (laz)
Editor : Heru Pratomo