BANTUL - Pelaksanaan asesmen standarisasi pendidikan daerah (ASPD) di Kabupaten Bantul masih terganjal masalah. Salah satunya adalah minimnya komputer yang dimiliki sekolah dasar negeri maupun swasta.
Kepala Bidang SD Disdikpora Bantul, Edi Sutrisno menyebut, hanya sedikit sekolah yang mampu menyediakan komputer hingga setengah dari jumlah siswa. Akibatnya, banyak sekolah terpaksa menggelar ASPD dalam dua sesi sehari.
“Agar sesinya tidak panjang, menggunakan laptop guru, siswa, bahkan milik komite sekolah,” beber Edi Rabu (8/1/2025).
Baca Juga: Ada 2.372 Janda Baru di Tahun 2024, Ini Penjelasan Pengadilan Agama Kebumen
Masalah itu semakin terasa karena pengadaan komputer setiap tahun sangat terbatas. Pada 2024, Bantul hanya mampu mengalokasikan 32 unit komputer melalui APBD. Itu pun dibagi rata empat unit per sekolah.
"Bantuan dana alokasi khusus (DAK) menambah 15 unit untuk beberapa sekolah, tapi tetap belum mencukupi kebutuhan," ujarnya.
Baca Juga: Setuju Pemberlakukan Kembali UN pada 2026, Disdikbud Kota Magelang Sebut Diperlukan untuk Standardisasi Nilai
Dia berharap, ada perhatian lebih dari pemerintah pusat mendukung pengadaan komputer. Sehingga pelaksanaan ASPD di Bantul bisa lebih optimal tanpa harus meminjam perangkat dari berbagai pihak.
Sementara itu, Kepala Sekolah SD Kanisius Kembaran FY Ridwan Rahadiyanto mengakui, salah satu kendala pelaksanaan ASPD adalah keterbatasan komputer.
"Memang ada kendala komputer dari kami. Mudah-mudahan dari dinas bisa membantu," harap Ridwan. (gun/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita