KEBUMEN - Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kebumen mengajak guru penggerak terlibat aktif dalam penanaman pohon bakau di area Konservasi Penyu, Kaliratu, Kecamatan Klirong, Sabtu (5/10). Aksi tersebut dilakukan sebagai wujud nyata para tenaga pendidik dalam menjaga kondisi lingkungan.
Kepala Disdikpora Yanie Giat Setyawan mengatakan, penanaman pohon bakau menjadi salah satu bentuk kepedulian para guru penggerak atas kondisi alam. Dari aksi tersebut dia berharap dapat mendukung pelestarian lingkungan, terutama agar area di pesisir selatan Kebumen tetap terjaga.
"Kami pilih di Kaliratu karena sebagai habitat penyu yang dilindungi. Kalau alam terjaga, penyu pasti nyaman berkembangbiak," kata Yanie.
Baca Juga: Hasil Juventus vs Cagliari: Penalti Razvan Marin Gagalkan Kemenangan Didepan Mata Bianconeri
Selain guru penggerak, dalam aksi tersebut Disdikpora juga melibatkan para pelajar serta pegiat lingkungan. Sedikitnya ada 3.000 pohon bakau yang ditanam di bantaran hingga muara Sungai Kaliratu. "Tantangan alam, soal isu lingkungan juga perlu diperhatikan guru," sambungnya.
Yanie menerangkan, aksi penanaman bakau serentak ini merupakan gelaran perdana. Dia berharap, gerakan serupa dapat lebih intensif. Caranya dengan melibatkan guru dan pelajar di Kebumen secara bergilir.
"Kami memang dituntut ikut peduli terhadap lingkungan. Kalau bisa target cakupan lebih luas," jelasnya.
Sementara itu, Pegiat Konservasi Penyu Kaliratu Syarif Hidayat bersyukur semakin banyak masyarakat peduli dengan kondisi pesisir selatan akan menjaga pelestarian penyu. Dia pun mengapresiasi gerakan Disdikpora dalam upaya merawat alam.
"Bukan cuma guru, sekalipun anak SD yang datang pasti kami beri edukasi. Betapa penting dan berharganya kekayaan alam ini. Tidak semua kabupaten punya," ungkapnya.
Dia menjelaskan, hutan bakau dan konservasi penyu di Kaliratu merupakan area yang tak bisa dipisahkan. Keduanya saling berkaitan karena memiliki fungsi masing-masing. Sampai sekarang masyarakat cukup peduli terhadap kawasan tersebut karena sebagai tempat penyu mendarat untuk bertelur.
"Susah payah kami itu mulai 2018. Awalnya penyu diburu untuk dijual. Sekarang masyarakat sudah sadar. Dari wisata edukasi justru bisa jadi ladang rezeki," terangnya. (fid)
Editor : Heru Pratomo