JOGJA – Sejak diwajibkannya sekolah menerima siswa difabel atau anak berkebutuhan khusus (ABK), label sekolah inklusi di DIJ mulai hilang. Hal ini terhitung sejak adanya Kurikulum Merdeka.
Namun, tidak bagi SMPN 1 Jogja yang sudah lebih dulu menjalankannya. Sekolah ini konsisten menerima siswa ABK sejak Kurikulum 13. "Atau kurang lebih sejak 2013 lalu, sampai sekarang ini," ungkap Kepala Sekolah SMPN 1 Jogja Yosepha Niken Sasanti Selasa (17/9/2024).
Praktiknya, langkah tersebut tidak selalu berjalan mulus. Sebab banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Mulai dari guru, orang tua siswa ABK, hingga antarsiswa. "Tapi kami fokus menanamkan di mindset para guru, bahwa siswa ABK ini punya hak yang sama untuk mendapat pendidikan," tegasnya.
Sehingga, sekolah inklusi tidak hanya sekadar julukan dan infrastruktur yang memadai. “Tapi mindset dan program itu yang utama," sambungnya.
Disebutkan, saat ini SMPN 1 Jogja memiliki 20 siswa ABK. Dalam proses belajarnya, diampu oleh guru pendamping khusus yang disediakan unit layanan disabilitas (ULD). Namun para guru lainnya, kata Niken, juga dibekali pemahaman dasar dan sosialisasi berkala. "Saya dan para guru ada briefing rutin, untuk cara handle anak ABK seperti apa. Karena akhirnya kami juga jadi belajar hal-hal baru lagi," tuturnya.
Baca Juga: Universitas Widya Mataram Coba Mewujudkan Peradaban lewat Budaya Akademik bagi Mahasiswa
Dari 20 siswa ABK yang ada, didominasi oleh anak-anak slow learner. Dalam proses pembelajaran sendiri, tidak jarang ABK tersebut mendapat sesi khusus dengan guru pendamping.
"Misal mata pelajaran matematika, siswa ABK itu nanti dipisah, karena dia harus dapat metode khusus menyesuaikan kondisinya," ungkapnya.
Lalu untuk mata pelajaran lain seperti olahraga, agama, dan seni digabung. “Karena memang dia bisa mengikuti," jelasnya.
Baca Juga: Pj Bupati Sampaikan Konsep Peringatan Hari Jadi Ke-73 Kulon Progo, Angkat Geblek Dirayakan Dua Bulan
Niken menegaskan, sekolah punya peran signifikan sebagai fasilitator pendidikan dan pembentukan karakter siswa. Menurutnya, sekolah harus bisa menciptakan ekosistem, dan program yang aksesibel bagi semua warga sekolah. Terutama bagi para ABK.
"ABK ini harus diberi porsi perhatian yang lebih besar dibanding siswa umumnya, dan ini harus ada keselarasan antara guru, siswa, dan orang tua," tuturnya.
Baca Juga: Tes Tekanan Darah, Gula Darah dan Kolesterol untuk Daftar KPPS di KPU Kabupaten Magelang
Menurutnya, stereotip bahwa kepintaran siswa harus pada hal-hal yang bersifat eksak, harus diubah. Karena tiap siswa punya ketertarikan dan bakat masing-masing. Tugas guru dan sekolah sendiri adalah mengarahkan siswa semaksimal mungkin sesuai potensinya.
"Kita ciptakan pendidikan berdiferensiasi, indikator pintar itu bukan cuma mahir di MTK saja. Tapi prestasi di seni, olahraga itu juga kepintaran," serunya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita