Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Nostalgia Ramadan Zaman Dulu; Perang Sarung Murni Permainan untuk Menunggu Tarawih, Makin Meriah saat Padang Bulan

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 1 Maret 2026 | 07:05 WIB

 

Mantan pemain perang sarung Slamet Siswanto
Mantan pemain perang sarung Slamet Siswanto

BANTUL - Jauh sebelum balutan sarung diisi batu atau gir motor, aktivitas perang sarung ternyata banyak menyimpan kenangan manis bagi orang-orang zaman dulu. Bukan untuk berkelahi, kegiatan itu dilakukan oleh para remaja untuk menunggu salat Tarawih atau azan Isya berkumandang saat Bulan Ramadan.


Salah seorang mantan pemain perang sarung Slamet Siswanto menjelaskan, saat masa mudanya dulu perang sarung tak lebih dari sekadar gojekan atau guyonan antarpemuda kampung. Kegiatan itu murni hanya sebuah permainan. Perang sarung cuma gebuk-gebukan biasa, tidak ada niat menyakiti apalagi sampai masuk rumah sakit.


"Jadi benar-benar cuma gojek," ucap pria yang tinggal di Dusun Druwo RT 04, Bangunharjo, Sewon, Bantul itu, Jumat (27/2).


Menurut Slamet, pada medio 1980-an perang sarung biasanya pecah di pelataran masjid. Waktunya pun spesifik, setelah buka puasa dan sebelum salat Tarawih dimulai. Suasana kian syahdu jika bertepatan dengan momen padang bulan.


Tanpa koordinasi melalui media sosial karena memang belum ada, lanjut Slamet, dulu anak-anak secara alami berkumpul. Sarung yang mereka kenakan untuk beribadah, dilepas sejenak, diikat ujungnya, lalu jadilah senjata untuk bermain. "Kami tidak ada niat melukai. Jadi murni hanya bermain saja," tegasnya.


Tak hanya itu, pria berusia 53 tahun ini juga menjelaskan, bahwa esensi perang sarung adalah keakraban. Tidak ada dendam setelah kain sarung mendarat di bahu lawan. Begitu muazin mengumandangkan iqamah, semua senjata atau sarung itu kembali dipakai dengan rapi untuk menghadap Sang Pencipta. "Dulu memang seru. Apalagi saat padang bulan," tandas ayah anak dua ini.


Ia pun menyesalkan kalau kini perang sarung telah bergeser orientasi dan identik dengan tawuran. Juga disesalkan kalau sarung yang dipakai sebagai slepet, diisi gir, batu atau benda lainnya. "Kalau sudah seperti ini kriminal namanya," ungkapnya prihatin. (ayu/laz)

Editor : Herpri Kartun
#oldies #Padang bulan #perang sarung #tarawih #ramadan