JOGJA - Suasana Ramadan di Indonesia menghadirkan kesan mendalam bagi Isac da Costa, mahasiswa asal Timor Leste yang kini menempuh studi Magister Manajemen di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Sejauh ini baru enam bulan tinggal di kota Jogja, Isac mengaku merasakan atmosfer Ramadan yang jauh berbeda dibandingkan di negara asalnya.
Salah satu yang melatarbelakangi adalah besarnya populasi muslim di Indonesia.
"Perbedaan paling terasa antara Ramadan di sini dan di negara saya adalah karena di sini mayoritas Muslim, suasananya itu lebih dapat dan menyenangkan," ujar Isac, Sabtu (28/2/2026).
Baca Juga: Prediksi Skor Liverpool vs West Ham Premier League Sabtu 28 Februari 2026
Ia menuturkan, di Timor Leste, jumlah Muslim tidak lebih dari satu persen.
Kondisi tersebut membuat suasana Ramadan tidak begitu terasa.
Sebaliknya, di Indonesia, gema adzan, ramainya perburuan takjil, hingga berbagai kegiatan buka puasa bersama menjadi pengalaman yang istimewa baginya.
"Saya bisa dengar adzan di mana-mana, bisa ikut salat di masjid mana pun, banyak pilihan. Jadi feel-nya lebih dapat dibanding di negara saya," tuturnya.
Sebelum melanjutkan studi magister di UGM, Isac telah lebih dulu menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Sebelas Maret, Solo.
Pengalaman tinggal cukup lama di Indonesia membuatnya lebih mudah beradaptasi dengan budaya Muslim di tanah air.
Selama Ramadan, ia berujar salah satu momen yang paling ia nantikan adalah saat buka puasa bersama.
Baginya, kegiatan tersebut bukan sekadar makan bersama, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan antar mahasiswa, dosen, maupun komunitas kampus.
"Biasanya ada buka puasa bersama dengan dosen, dengan Office of International, dan teman-teman kelas. Itu menjadi momentum untuk lebih dekat satu sama lain," katanya.
Untuk menu berbuka, Isac mengaku menyukai berbagai makanan hangat khas Indonesia seperti soto dan rawon.
Namun, sebagai mahasiswa, ia lebih sering berbuka puasa di masjid karena kemudahan dan kebersamaan yang ditawarkan.
Sejauh ini, selama di Jogja, ia kerap berbuka dan melaksanakan salat tarawih di Masjid Pogung Dalangan, yang lokasinya dekat dengan tempat tinggalnya.
"Masjid ini sangat ramai dan ada buka puasa gratis. Salat tarawih berjamaahnya juga masyaallah, imam-imamnya bacaannya bikin hati benar-benar tenang," ungkapnya.
Meski mengaku tidak menghadapi tantangan berarti dalam beradaptasi, Isac tetap merasakan rindu kepada keluarga di momen-momen tertentu.
Namun, ia menyadari bahwa perasaan tersebut adalah hal wajar bagi siapa pun yang merantau.
"Kadang kangen sama keluarga. Itu wajar bagi siapa pun yang jauh dari keluarga," ujarnya.
Bagi Isac, Ramadan tahun ini bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan.
Ia memaknainya sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan memperdalam kualitas keimanan.
"Saya melihat suasana di Jogja ini sangat bagus untuk memperbaiki diri menjadi Muslim yang sebaik-baiknya Muslim. Jadi ini momen belajar dan memperbaiki diri untuk menjadi Muslim yang lebih baik," tutupnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva