Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mahasiswa asal Patani Tailan Muslim Sama Berganti-ganti Lokasi Masjid di Jogja untuk Dengarkan Kultum

Rizky Wahyu Arya Hutama • Sabtu, 21 Februari 2026 | 21:50 WIB

Muslim Sama
Muslim Sama

Menjadi perantau di negeri orang saat Ramadan bukanlah perkara mudah. Sebab rasa rindu akan suasana kampung halaman seringkali menjadi musuh utama bagi setiap orang.

Hal inilah yang dirasakan salah satu mahasiswa asing asal Tailan yang sedang mengenyam pendidikan di UNY Muslim Sama.

Umat muslim di negara yang dulunya ditulis Thailand itu memang banyak di wilayah utara. Yaitu di Patani, Tailan. Meski begitu suasana Ramadan di Patani dan Jogja tak jauh berbeda. Justru di sinilah Muslim Sama merasakan menjadi mahasiswa di perantauan.

Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sasta Indonesia (PBSI) UNY ini memilih untuk berburu ilmu dari satu masjid ke masjid lain di penjuru Jogjakarta. Bukan tanpa alasan Muslim memilih kesibukan tersebut. Sebab baginya Ramadan di Jogja merupakan panggung intelektual dan spiritual yang luas. 

Jika pagi hingga siang hari ia berkutat dengan tugas-tugas kuliah di kampus UNY, maka saat fajar dan petang, ia bertransformasi menjadi pengelana rumah ibadah. Kutum atau kuliah tujuh menit, ceramah jelang berbuka atau tarawih juga yang dinantikannya.

Apalagii masjid di Jogja ini banyak yang menghadirkan tokoh-tokoh hebat. Ada tokoh agama, filsuf, hingga politikus yang bicara soal banyak hal. Saya ambil kesempatan itu untuk tambah ilmu," ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (20/2) sore. 

Kegiatan yang dipilih Mulsim itu pun juga tak main-main. Bahkan demi mendapatkan ilmu yang luas, ia kerap berganti-ganti lokasi salat berjamaah demi mendengarkan kultum atau kajian yang berbeda. "Saya cari infonya dulu, siapa tokoh yang bicara, baru saya ke sana," bebernya. 

Selain urusan ilmu dan batin, Muslim mengaku juga harus pintar-pintar mengelola rindu pada kuliner kampung halaman. Untuk urusan perut, ia lebih memilih menciptakan suasana rumah di dalam kamar kosnya.

Biasanya, Muslim memilih untuk berbuka puasa bersama teman-teman organisasi atau sesama mahasiswa Tailan. Mereka memasak sendiri makanan khas negaranya agar bisa mengobati rasa rindu terhadap kampung halamannya.

"Kami hindari buka puasa sendirian, karena kalau sendiri itu terasa sepi sekali di luar negeri begini," ungkapnya. 

Meski begitu, Muslim mengaku bahwa suasana Ramadan di Jogja dan Tailan Selatan memiliki kemiripan, terutama ramainya pasar takjil menjelang berbuka. Ia merasa Jogja punya daya tarik tersendiri pada kedalaman diskusinya.

"Selagi masih rajin dan ada kemauan, saya akan terus cari ilmu. Karena bagi saya, ilmu di kelas saja tidak cukup. Harus dicari sendiri di luar," tandasnya. (pra)

Editor : Heru Pratomo
#muslim #kultum #BUKBER #UNY #Patani #thailand #tailan