Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Amjad Jabbar, Mahasiswa UPN asal Pakistan Senang Lihat Keanekaragaman di Jogja, Kaget Banyak Warung Buka Siang saat Ramadan

Agung Dwi Prakoso • Jumat, 20 Februari 2026 | 20:32 WIB
TERSENTUH: Amjad Jabbar, mahasiswa UPN Veteran Jogja asal Pakistan senang bisa menjalani puasa Ramadan di Jogjakarta. Agar membaur dengan masyarakat, ia pun memilih tinggal di perkampungan.
TERSENTUH: Amjad Jabbar, mahasiswa UPN Veteran Jogja asal Pakistan senang bisa menjalani puasa Ramadan di Jogjakarta. Agar membaur dengan masyarakat, ia pun memilih tinggal di perkampungan.

JOGJA - Mahasiswa Universitas Pembangunan Negeri (UPN) Veteran Jogjakarta asal Pakistan Amjad Jabbar menceritakan pengalamannya menjalani ibadah Ramadan di Indonesia, khususnya di DIY. Perbedaan sosial maupun budaya yang mencolok kerap ia temui, bahkan beberapa membuatnya terkejut.

Amjad kali pertama ke Indonesia pada Agustus 2024. Perjalanannya ke Indonesia untuk mengenyam pendidikan. "Saya sedang menempuh studi di Jogjakarta di bidang komunikasi kampus UPN Veteran," ujarnya kepada Radar Jogja, Kamis (19/2).


Ia tinggal di Ngunggon, Sendangtirto, Berbah, Sleman. Sudah 16 bulan Amjad bermukim di perkampungan itu. Ia merasakan suasana tempat tinggalnya nyaman seperti rumah sendiri. Tetangga sekitar sangat peduli dan perhatian.


Tak jarang mereka menanyakan kesehatan, perkembangan studi hinnga kabar keluarganya di Pakistan. "Itu sangat menyentuh hati dan saya selalu merasa senang setiap bertemu mereka," bebernya.


Selama di Jogja ia aktif mengeksplorasi budaya dan membaur dengan kehidupan lokal. Kebiasaan anak-anak di Jogjakarta yang semangat menyapa dan mengobrol, membuatnya tersentuh. Pertemuan dengan tetangganya cukup intens, terlebih saat salat jamaah di masjid yang menjadi momen spesial baginya.


"Rasanya sangat menyenangkan dan benar-benar membuat saya merasa seperti berada di rumah sendiri di Pakistan," paparnya.


Menjalankan ibadah puasa di DIY banyak ditemukan perbedaan budaya dan sosial dengan Pakistan. Misalnya di Pakistan, semua restoran tutup di siang hari dan baru buka kembali menjelang waktu berbuka. Namun, ia memperhatikan banyak restoran yang tetap buka di Jogjakarta.


"Awalnya membuat saya terkejut, namun saya mulai menghargai bagaimana Jogjakarta memadukan tradisi dengan pendekatan yang lebih modern dan fleksibel," ucapnya.


Ia memaknai fenomena itu dan banyak mendapatkan pelajaran. Keanekaragaman Indonesia, khususnya DIY menciptakan beragam budaya dengan organik. Suasana Ramadan yang damai dan penuh hormat ia temui di Jogjakarta. "Terutama saat berbuka bersama teman dan tetangga," ungkapnya.


Selama hidup di DIY, ia menilai ritme kehidupan yang ia rasakan menjadi melambat dibandingkan saat di Pakistan. Perbedaan lainnya adalah pada rasa makanan. Di Jogjakarta rasa makanan cenderung lebih manis, sedangkan makanan Pakistan lebih pedas dan kaya akan bumbu.


"Selain itu, selama Ramadan di Pakistan, kami biasanya menyiapkan makanan di rumah dan makan bersama keluarga. Namun di Jogjakarta, orang-orang tampaknya lebih suka makan di luar (restoran atau warung), yang mana cukup berbeda dengan tradisi kami," jelasnya.


Ia banyak menemukan beragam etnis di Jogja, di antaranya, Tionghoa, Sunda, Jawa, Madura dan banyak lagi. Mereka hidup rukun saling merangkul dan menghormati perbedaan itu. Keharmonisan itu menjadi pemandangan menarik bagi Amjad.


"Semua orang tampak merayakan serta menghormati tradisi dan agama yang berbeda. Hal yang sungguh mengagumkan," tandasnya.


Ada satu pengalaman unik yang tidak bisa ia lupakan ketika awal tinggal di Jogja. Saat itu ia sedang menjalankan ibadah Ramadan di salah satu masjid. Beberapa anak kecil dilihatnya membuat keributan dan keramaian. Mereka bermain pukul-pukulan satu dengan lainnya saat imam memimpin salat.


Lucunya lagi, sering kali ia mendengar anak-anak itu menirukan lantunan bacaan salat dari imam dengan suara keras di barisan saf paling belakang.


Mungkin, fenomena itu jarang ia lihat saat berada di Pakistan, sehingga pengalaman itu menarik diceritakannya. "Itu menjadi pengingat akan semangat keceriaan orang-orang di sini. Bahkan di saat yang sakral sekalipun," ujarnya.


Kota ini benar-benar ia jadikan sebagai rumah kedua. Orang-orang di Jogjakarta dinilai hangat dan rendah hati. Tradisi masyarakat lokal sangat mengakar kuat yang menjadikan dirinnya belajar pentingnya rasa hormat.


Selain itu, ia merasa cuaca di Jogjakarta relatif lebih menyenangkan. "Kota ini memiliki keseimbangan yang sempurna antara tradisi dan kehidupan modern. Sehingga mudah untuk merasakan ikatan yang dalam," papar Amjad. (oso/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#upn #Mahasiswa #Budaya #komunikasi #ramadan