SLEMAN - Ramadan adalah momen istimewa bagi setiap muslim. Ada tradisi khas dan banyak dirindukan untuk bisa meraih pahala maksimal. Bagaimana dengan para mahasiswa dari warga negara asing (WNA) yang kebetulan menjalani bulan puasa di Jogja?
Ramadan di negeri orang bisa jadi kesempatan untuk memadukan ibadah, studi, sekaligus adaptasi budaya. Salah satunya yang dilakukan Yassein Mohamed Gomaa Ali Metwally. Pria yang akrab disapa Yas ini merupakan mahasiswa program internasional dari Universitas Islam Indonesia (UII).
Ramadan kali ini merupakan tahun kedua pria asal Mesir ini menjalankan ibadah di Jogjakarta. "Tidak ada kesulitan saya dalam beradaptasi. Semua terasa lancar dan menyenangkan," katanya saat dihubungi lewat panggilan Zoom, Rabu (18/2).
Mahasiswa Teknik Kimia itu mengaku tahun ini mengikuti program relawan yang diadakan oleh Organisasi Dakwah Hijrah Mahasiswa UII. Di sini dia akan tinggal selama 17 hari di rumah warga di lereng Merapi. Tepatnya di Dusun Genengsari, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman.
Bersama kawan-kawannya dia akan mengajarkan cara membaca Alquran, menjadi imam, dan membantu membuat bahan materi khutbah. Utamanya untuk menulis hadis dan membantu membaca huruf Arab.
Yas hanya berharap, kegiatan relawan ini bisa memberikan manfaat bagi warga sekitar. Termasuk menambah pengalaman eksplorasinya lebih jauh di Jogjakarta.
Lewat program ini, dia juga ikut membantu mempersiapkan menu berbuka dan sahur. Yas mengaku menyukai berbagai menu Indonesia, sehingga tidak kesulitan berdaptasi. Favoritnya adalah nasi goreng, bakso, soto, telur, dan mi ayam.
Khusus saat Ramadan dia mengaku menghindari makanan berminyak. "Kami mempersiapkan buka, sahur, dan menghabiskan waktu bersama seperti warga umumnya tinggal di desa," kata pria yang mengaku sudah bisa berbahasa Indonesia meski sedikit ini.
Mahasiswa angkatan 2024 ini bercerita tahun sebelumnya banyak menjalankan tarawih di Masjid At Tauwabiin di Ngaglik, Sleman. Suasananya nyaman dan menyenangkan. Dia bahkan juga mengaku pernah mencoba mencari makanan berbuka gratis di Masjid Jogokariyan. Namun tidak jadi melakukannya karena melihat kondisi yang begitu ramai. Tidak menutup kemungkinan dia akan mencobanya lagi pada tahun ini.
Baca Juga: Transportasi Umum Jadi Pilihan Promosi I'm UII, Fathul Wahid Beberkan Alasannya...
Selama masa studi tinggal di kos, Yas mengaku betah tinggal di Jogjakarta, bahkan saat Idul Fitri nanti tidak ada rencana pulang kampung. Dia memilih menyelesaikan beberapa aktivitasnya di UII.
Disinggung soal pilihannya kuliah di Indonesia, Yas mengaku banyak mahasiswa internasional seperti dirinya mencari beasiswa. UII sendiri juga bisa mengakomodasi kebutuhan itu. "Saya memilih UII karena jurusannya bagus dan salah satu yang terbaik di Indonesia," katanya. (laz)