MUNGKID - Lantunan dua kalimat syahadat menggema di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) An-Nuur Kabupaten Magelang, kemarin sore (17/3). Sebab, ada dua insan yang memperoleh hidayah untuk memeluk agama Islam. Mereka adalah Estri Nuryaningsih dan Benediktus Ruben Valencia Putra, warga Tegalrejo, Magelang. Seperti apa ceritanya?
Usai salat Asar, sejumlah jamaah MAJT An-Nuur Kabupaten Magelang tidak beranjak dari tempatnya. Mereka ingin menyaksikan dua orang yang mengikrarkan diri menjadi muslim. Momentum itu menjadi sakral ketika alam seolah ikut andil dalam proses tersebut.
Kedua insan itu adalah Estri Nuryaningsih, 38 dan Benediktus Ruben Valencia Putra, 17 warga Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Semula, pergolakan terus merajai di antara kebimbangan hati dan pikiran. Hingga akhirnya mereka mantap memeluk agama Islam. Derasnya air hujan menjadi saksi di tengah harunya dua insan yang telah melewati jalan panjang.
Sebelumnya, ibu dan anak tersebut memeluk agama Katolik. Kutipan surah Al-Baqarah ayat 256 yang berarti, "tidak ada paksaan dalam beragama," menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih keyakinan mereka tanpa paksaan. Bertepatan dengan tanggal 17 Ramadan, mereka dengan lancar melafazkan dua kalimat syahadat. Meski sempat berkaca-kaca.
Estri bercerita, sebetulnya dia sejak lahir menganut agama Islam. Namun dia memilih jalan yang berbeda saat menikah dengan mantan suaminya. Dia pun menganut agama Katolik. Kala itu, keputusan Estri ditentang keluarga besar. Bahkan tidak ada perwakilan keluarga yang menyaksikan pernikahannya di gereja.
Perasaan bersalah terus menghantuinya. Namun, dia juga sudah mantap untuk menempuh jalan beriringan dengan sang suami. Tak berselang lama, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Ruben. Sang anak turut mengikuti agama kedua orang tuanya.
Kehidupan mereka berjalan seperti biasa. Empat tahun kemudian, Estri melahirkan anak kedua. Berbeda dengan si sulung, anak keduanya lahir dengan agama Islam. Begitu pula dengan anak ketiga dan keempatnya. Waktu itu, dia banyak merenung soal nasib dan ketakutan-ketakutan di kehidupan mendatang.
Hingga akhirnya, dia memutuskan agar sang anak menempuh jalan lain. Waktu semakin melaju dan kehidupan Estri tidak berjalan mulus. Dia berpisah dengan sang suami dan hidup bersama empat anaknya yang berbeda keyakinan.
Meski begitu, ketiga anaknya yang beragama Islam, tidak kekurangan ilmu agama. Sebab, Estri juga meminta mereka untuk belajar mengaji di taman pendidikan Alquran (TPA) setempat. Estri dan si sulung, Ruben, terpaksa harus sembunyi-sembunyi saat hendak pergi beribadah. Pun saat merayakan Natal. Namun, Estri kerap merasa ketakutan. "Ada ketakutan, besok ending-nya saya itu kayak gimana," katanya.
Di situlah pergolakan antara hati dan pikiran mulai berjalan. Dirinya mulai goyah dan ingin kembali menjadi seorang muslim. Hanya saja, penghalang kerap datang dari berbagai arah. Termasuk keraguan dan perselisihan dari si sulung. Kendati begitu, pada Ramadan tahun ini, Ruben kerap mengikuti salat tarawih berjamaah di musala dekat rumahnya.
Penantiannya pun terbayar. Ruben tetiba mengajak dirinya untuk segera mualaf. Ajakan itu pun disambut baik oleh Estri dan keluarga. Pada Jumat (14/3), dia bersama Ruben datang ke MAJT An-Nuur untuk menyampaikan maksudnya supaya membimbing mereka masuk Islam.
Sebetulnya, dia bisa saja mualaf di rumah, musala, masjid, atau kantor urusan agama (KUA) setempat. Namun, dia memilih di MAJT An-Nuur agar niatnya semakin mantap. Lantas, pada Senin (17/3), mereka kembali datang ke MAJT An-Nuur untuk mengikrarkan diri menjadi seorang muslim.
Estri mengaku perasaannya sempat tak keruan saat memasuki masjid. Tubuhnya gemetar. Hatinya berdebar-debar. Dia bersyukur, prosesi itu berjalan lancar meski sempat berkaca-kaca. Dia mengakui, masih membutuhkan bimbingan untuk memperdalam ilmu agamanya.
Setelah resmi memeluk agama Islam, praktis dirinya dan si sulung ikut berpuasa. Bahkan, anak-anaknya sudah antusias menyambut sahur perdana dengan Estri dan Ruben. "Mereka bilang, 'nanti kita salat bareng ya bu,'. Mereka bahagia banget," ujarnya lirih.
Sementara itu, Ketua Badan Pengelola MAJT An-Nuur Kabupaten Magelang Asfuri MS mengutarakan, beberapa hari lalu, Estri dan sang anak datang untuk menyampaikan niat tulusnya memeluk agama Islam. "Ketika beliau mau masuk Islam, tentu kami terima dengan baik karena tidak ada paksaan dalam agama," paparnya.
Dia berharap, setelah masuk Islam, Estri dan sang anak memperoleh kedamaian batin. "Ini kebetulan Ramadan, tepat Nuzulul Quran. Ini artinya mereka mendapat hidayah yang jarang didapatkan. Mencari kebenaran, apalagi agama itu susah," tambahnya. (laz)
Editor : Heru Pratomo