Masjid Agung Purworejo masih melestarikan tradisi tabuh bedug setiap waktu berbuka puasa tiba. Selama Ramadan, bedug terbesar di dunia yang berada di area masjid itu selalu ditabuh sebagai tanda berbuka puasa. Tradisi tabuh bedug ini mengakar kuat sampai sekarang.
Petugas keamanan Masjid Agung Darul Mutaqqin Purworejo Toha Muhammad Suwito, 45, menjelaskan, sampai saat ini takmir masjid masih menjaga nilai tradisi tabuh bedug.
Menurutnya, keberadaan bedug terbesar dengan bahan kayu jati itu bukan sekadar simbol kebesaran Islam, tetapi juga terdapat nilai pelestarian budaya. "Setiap mau berbuka puasa bedug itu dipukul," ungkapnya, Jumat (20/2).
Kepada Radar Jogja, Toha mengatakan, di Masjid Agung Purworejo bedug berukuran besar itu menjadi salah satu identitas. Namun demikian, bedug yang sudah berusia lebih dari satu abad itu hanya dipukul pada waktu dan hari tertentu. Seperti Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha.
Bedug itu juga tidak boleh ditabuh sembarang orang. Hanya petugas khusus yang diperbolehkan menabuhnya. "Tanda salat Subuh, Dzuhur, Ashar dan Isya, itu pakai bedug ukuran kecil," katanya.
Dia menjelaskan, Masjid Agung Purworejo memiliki dua bedug. Masing-masing digunakan sesuai fungsi dan momentum tertentu. Selama Ramadan, lanjut Toha, di Masjid Agung Purworejo biasanya melaksanakan tradisi tabuh bedug setiap selepas salat Tarawih.
Namun bedug yang digunakan berukuran kecil. Bukan bedug besar yang selama ini menjadi perhatian masyarakat. "Habis Tarawih ada pukul bedug sambil salawatan. Biasanya anak-anak muda sini, bergantian," jelasnya.
Bedug terbesar yang berada di Masjid Agung Purworejo memiliki nama lain Bedug Pendowo. Disebut Pendowo karena diambil dari kayu jati bercabang lima dari Padukuhan Pendowo, Desa Bregolan, Kecamatan Purwodadi. Sebagian masyarakat juga menyebut sebagai Bedug Kyai Bagelen.
Bedug ini memiliki panjang 2,92 meter dengan diamater 1,94 meter. Bedug ini menyimpan banyak cerita sejarah karena dibuat sekitar tahun 1834. Keberadaan bedug ini juga memiliki kaitan erat dengan pembangunan Masjid Agung Purworejo. (fid/laz)
Editor : Heru Pratomo