JOGJA – DPW PKB DIY menyelenggarakan Women's Forum #1 bertajuk "Isi Dompet Makin Tipis, Kebutuhan Makin Manis? Realitas Pengelolaan Keuangan Keluarga di Tengah Tekanan Ekonomi", Senin (2/11/2026), di Joglo Yoso, Palbapang, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Forum ini menjadi ruang diskusi sekaligus berbagi pengalaman bagi perempuan dalam menghadapi tantangan ekonomi keluarga, khususnya meningkatnya kebutuhan rumah tangga di tengah tekanan biaya hidup. Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Sulasmi, M.Pd., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta, sebagai narasumber.
Ketua Perempuan Bangsa DPW PKB DIY, Rahayu Widi Nuryani, S.H., M.H., atau yang akrab disapa Ibu Nunung, menyampaikan bahwa tema yang diangkat merupakan realitas yang dirasakan banyak keluarga saat ini.
Baca Juga: Berkat Sleman Style, PSS Sleman Bantai PSGC Ciamis dengan Skor 6-0 di League Cup
Kenaikan harga kebutuhan pokok membuat perempuan, terutama yang bertanggung jawab mengelola rumah tangga, turut merasakan dampaknya secara langsung.
"Ini adalah tema yang kita rasakan hari ini. Kebutuhan semakin banyak, sementara isi dompet justru semakin menipis. Women's Forum kali ini ingin saya jadikan sebagai ruang curhat sekaligus ruang mencari solusi," ungkapnya.
Nunung juga menyoroti kondisi inflasi, khususnya pada kelompok bahan makanan, yang berdampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga. Menurutnya, perempuan menjadi salah satu kelompok yang paling dekat dengan persoalan tersebut karena memiliki peran penting dalam pengelolaan kebutuhan dapur dan keuangan keluarga.
Baca Juga: Foto Wapres Dicopot Saat Audiensi DPRD DIY, Ini Respons Sultan HB X
"Ketika ibu-ibu merasa kebutuhan semakin banyak dan dompet semakin menipis, ibu-ibu tidak sendirian. Kita merasakan hal yang sama. Ini bukan semata-mata karena gaya hidup kita yang mahal atau karena kita boros, tetapi juga karena biaya hidup yang terus meningkat," jelasnya.
Ia berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan mampu memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis bagi perempuan dalam mengelola keuangan keluarga, bahkan membuka peluang untuk menambah pendapatan rumah tangga.
"Semoga melalui forum ini kita bisa menjadi perempuan yang lebih cakap dalam mengelola keuangan dan, lebih jauh lagi, mampu menemukan peluang untuk menambah penghasilan keluarga. Dompet boleh tipis, tetapi jangan sampai harapan hidup kita ikut tipis. Kebutuhan boleh manis, tetapi kebersamaan kita harus tetap manis," tambah Nunung.
Baca Juga: League Cup: 19 Gol Tercipta dalam Tiga Laga, PSS Sleman, Java United dan Persikad Pesta Gol
Sementara itu, narasumber Dr. Sulasmi, M.Pd., menjelaskan bahwa persoalan ekonomi masih menjadi salah satu perhatian utama masyarakat Indonesia. Ia menyebutkan bahwa berdasarkan data yang dipaparkannya, sebanyak 52,4 persen masyarakat Indonesia menempatkan persoalan ekonomi sebagai masalah utama.
Dalam pemaparannya, Sulasmi mengajak peserta untuk memahami kembali perbedaan antara kebutuhan, kewajiban, dan keinginan. Menurutnya, pengelolaan keuangan keluarga tidak cukup hanya dengan membatasi pengeluaran, tetapi juga membutuhkan kemampuan menentukan prioritas secara tepat.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan dasar manusia mencakup sandang, pangan, dan papan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, keluarga juga memiliki berbagai kewajiban serta keinginan yang harus dikelola secara proporsional.
Baca Juga: Aduan PJU Masuk, Perbaikan Lampu Tenaga Surya di Gunungkidul Terkendala Anggaran
"Yang perlu kita pahami adalah bagaimana membedakan mana yang benar-benar menjadi kebutuhan, mana kewajiban yang harus dipenuhi, dan mana yang sekadar keinginan. Ketiganya perlu dikelola dengan bijak agar kondisi keuangan keluarga tetap sehat," jelasnya.
Sulasmi juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran, menyusun skala prioritas, serta menyiapkan dana darurat sesuai kemampuan keluarga. Menurutnya, pengelolaan keuangan yang baik bukan semata-mata tentang seberapa besar pendapatan yang dimiliki, melainkan bagaimana pendapatan tersebut direncanakan dan dimanfaatkan secara bijaksana.
Pada kesempatan yang sama, Ketua DPW PKB DIY, Umaruddin Masdar, S.Ag., menyampaikan bahwa Women's Forum merupakan salah satu program yang dirancang DPW PKB DIY bersama Perempuan Bangsa DIY untuk diselenggarakan secara berkeliling di kabupaten/kota se-DIY.
Baca Juga: Pecat Nuno Espirito Santo, West Ham Tunjuk Scott Parker Sebagai Nahkoda Anyar
Menurut Umaruddin, forum tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong perempuan agar semakin berdaya, memiliki ruang untuk berkembang, serta terlibat aktif dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan pembangunan daerah.
"Women's Forum ini kami rancang bersama Perempuan Bangsa DIY agar bisa berkeliling di setiap kabupaten dan kota di DIY. Kami ingin mengajak kaum perempuan untuk bersama-sama bangkit, tetap semangat, dan tetap optimistis menghadapi berbagai tantangan," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Peran perempuan tidak hanya penting dalam lingkup keluarga, tetapi juga menjadi bagian penting dari kemajuan masyarakat dan pembangunan ekonomi.
Baca Juga: Wilayah Utara Kulon Progo Diguyur Hujan, BPBD Minta Warga Waspada Ancaman Longsor
"Perempuan adalah salah satu tiang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbagai studi global juga menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi perempuan dalam dunia kerja dan perekonomian berkaitan erat dengan produktivitas serta pertumbuhan ekonomi. Karena itu, keterlibatan perempuan tidak boleh dipandang sebelah mata," tegasnya.
Lebih lanjut, Umaruddin menyampaikan bahwa PKB berkomitmen untuk terus membuka ruang dan memfasilitasi perempuan serta generasi muda agar dapat mengambil bagian dalam pembangunan daerah maupun pembangunan nasional.
"PKB hadir dengan komitmen untuk mengajak dan memfasilitasi perempuan serta anak muda agar memiliki kesempatan yang lebih luas untuk terlibat dalam pembangunan. Kita ingin perempuan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi bagian dari pengambil peran dan penentu arah kemajuan masyarakat," pungkasnya.
Editor : Heru Pratomo