JOGJA – Fenomena maraknya kasus kenakalan remaja seperti tawuran pelajar di Kota Jogja menjadi perhatian DPRD Kota Jogja. Komisi D mendorong penguatan pendidikan karakter di sekolah dan penguatan dalam keluarga guna mencegah perilaku menyimpang di kalangan remaja.
Anggota Komisi D DPRD Kota Jogja Tri Waluko Widodo mengatakan, aksi kenakalan remaja seperti tawuran pelajar memang mewarnai dinamika sosial masyarakat beberapa waktu terakhir. Mengantisipasi hal ini, pendekatan pendidikan karakter di lingkungan keluarga dan sekolah menjadi kunci utama untuk meredam perilaku menyimpang tersebut. Sebab, aksi kenakalan remaja merupakan cerminan dari rapuhnya karakter.
“Kita tidak bisa hanya memadamkan api dengan polisi atau patroli. Akar masalahnya ada pada bagaimana kita menanamkan nilai-nilai budi pekerti, empati, dan kontrol diri kepada anak-anak kita sejak dini,” ujar Widodo, Rabu (20/5/2026).
Widodo menegaskan, Kota Jogja yang menyandang predikat sebagai kota pelajar sudah seharusnya menjadi barometer bagi pembentukan generasi muda yang beradab dan berintelektual tinggi. Artinya, aksi kenakalan remaja seperti tawuran atau tindakan kriminal yang dilakukan pelajar seharusnya tidak terjadi.
Politisi PAN ini pun menekankan bahwa pendidikan karakter tidak boleh hanya menjadi jargon di atas kertas. Dia mendorong sekolah untuk lebih mengintensifkan kegiatan ekstrakurikuler yang mampu menyalurkan energi remaja ke hal-hal positif. Seperti seni, olahraga, dan organisasi kepemimpinan.
Lebih lanjut, Widodo juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam pengawasan di luar jam sekolah. Dia menilai sering kali orang tua abai terhadap aktivitas anaknya setelah pulang sekolah. Sehingga ruang kosong anak-anak remaja sering diisi oleh pergaulan yang salah.
"Rumah adalah sekolah pertama. Orang tua harus lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Jangan sampai anak-anak kita kehilangan arah hanya karena kurangnya pendampingan di rumah," tambahnya.
Widodo memastikan Komisi D memiliki komitmen untuk terus mendorong Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) memperkuat kurikulum pendidikan karakter.
Di samping itu, perlunya ada kolaborasi lintas sektor yang melibatkan tokoh masyarakat, komunitas pemuda, serta perangkat wilayah (RT/RW) untuk menciptakan lingkungan yang ramah remaja.
"Yogyakarta harus kembali ke jati dirinya sebagai kota pelajar yang berbudaya. Sehingga jangan sampai generasi mudanya justru terjebak dalam lingkaran kekerasan,” tegasnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita