PURWOREJO - Kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Purworejo memastikan akan tunduk dan patuh terhadap hasil keputusan Muktamar ke-X. Hal ini diungkapkan menyusul adanya kepastian setelah berakhir seluruh rangkaian muktamar yang berlangsung di Jakarta pada (27/9) lalu.
Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PPP Purworejo Muhammad Kartika Zuhala mengatakan, apa pun kehendak partai yang diputuskan melalui muktamar akan menjadi pedoman bagi kader PPP di Purworejo. Dia mengajak para kader tidak terbelenggu dalam suasana konflik yang justru berpotensi akan merugikan partai. "Kami akan mendukung dan mengikuti keputusan formal dari hasil sidang muktamar," jelasnya saat dihubungi Rabu (1/10).
Dia tak menampik, suhu politik di tataran internal sempat memanas pada saat gelaran muktamar. Namun, baginya persoalan tersebut tidak perlu diperpanjang. Menurut Zuhala, hal yang paling mendesak sekarang adalah perlunya konsolidasi untuk meredam konflik yang sempat terjadi ketika perhelatan muktamar.
Zuhala mengajak seluruh kader merapatkan barisan selepas muktamar. Sebab tantangan menghadapi Pemilu ke depan semakin kompleks. Tanpa soliditas dan kekompakan, menurutnya PPP akan sulit meraih kembali masa kejayaan. "Kalau terus berseteru, PPP yang rugi," ucapnya.
Zuhala cukup mengapresiasi kekompakan utusan para pengurus dari berbagai daerah dalam ajang muktamar. Menurut dia, masing-masing telah mengambil peran untuk mematuhi mekanisme dan tata tertib yang disepakati muktamirin atau peserta muktamar.
Dia berharap, terpilihnya Agus Suparmanto berdasar hasil muktamar lalu akan membawa gerbong PPP ke arah lebih baik. "Sebagai partai bernafaskan Islam, kita harus mengutamakan musyawarah dan mufakat. Dinamika itu sah, tapi jangan sampai jadi batu sandungan," katanya.
Terpisah, Ketua DPC PPP Kebumen Wahid Mulyadi memastikan, akan mengawal suksesi peralihan kepemimpinan ketua umum PPP berdasar hasil Muktamar ke-X. Dia bersama kader PPP lain menyatakan bakal mengawal sampai tuntas perjalanan pergantian pucuk pimpinan, dari sebelumnya Mardiono ke Agus Suparmanto.
Mulyadi membeberkan, insiden kericuhan hingga berujung baku hantam pada gelaran Muktamar ke-X kemarin menjadi preseden buruk bagi perjalanan PPP di kancah perpolitikan nasional. Dia menyebut, peristiwa ini sebagai bentuk kegagalan pengurus lama. Sebab baru terjadi pertama kali sepanjang sejarah sejak berdirinya PPP pada tahun 1973.
Mulyadi juga cukup heran perhelatan Muktamar ke-10 justru tidak dihadiri pimpinan partai politik lain. Termasuk tamu undangan kehormatan sebagaimana lazimnya seremoni pembukaan pada muktamar sebelumnya. "Muktamar kemarin terkacau. Adanya insiden bisa diartikan pimpinan pusat gagal menjaga marwah partai. Tidak kuasa menjaga suasana kondusif bagi muktamirin," tegasnya. (fid/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita