Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kritik Konstruktif dalam Politik, Seni dan Budaya Harus Kembali Menjadi Alat Pemersatu

Gunawan RaJa • Jumat, 18 Oktober 2024 | 23:12 WIB
Warhi Pandapotan Rambe.  (Doc pribadi untuk Radar Jogja)
Warhi Pandapotan Rambe. (Doc pribadi untuk Radar Jogja)

JOGJA – Perkembangan politik saat ini dinilai semakin kehilangan elemen seni dan budaya yang dulunya berperan penting sebagai alat menyampaikan kritik secara konstruktif.

Hal ini disampaikan Dewan Pakar Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Wilayah Jogja-Jawa Tengah periode 2021-2024 Warhi Pandapotan Rambe.

"Seni dan budaya seharusnya kembali menjadi sarana menyampaikan kritik secara baik dan berbudi, bukan sekadar alat untuk menyerang atau mendukung satu kubu saja," kata Warhi Pandapotan Rambe pada Jumat (18/10/2024).

Menurutnya, perkembangan media yang begitu pesat kini memungkinkan kritik dilakukan dengan cara lebih elegan dan beradab.

Namun kenyataannya beberapa musisi dan seniman justru memilih berpihak kepada kubu tertentu, yang justru membuat kebingungan di kalangan masyarakat.

"Di tengah kecanggihan media sosial memungkinkan kritik tersebar begitu cepat, kritik kasar dan tidak beretika justru berisiko memperburuk suasana politik," ujarnya.

Kritik kasar dan penuh makian bisa membuat masyarakat bingung.

Pihaknya khawatir masyarakat justru menjadi simpati kepada pihak yang sebenarnya salah hanya karena cara kritik yang berlebihan.

"Dalam konteks demokrasi, kita seharusnya bisa memberikan kritik lewat seni yang berbudi, bukan dengan cara merusak tatanan," ungkapnya.

Dia melanjutkan, model kritik mengandalkan makian atau cacian hanya akan menurunkan kualitas diskusi politik di Indonesia, yang seharusnya bisa dijadikan contoh bagi negara lain.

Menurutnya, ada ketidaksesuaian antara budaya demokrasi yang diterapkan di Indonesia dengan nilai-nilai di negara barat.

"Kita jangan terlalu meniru budaya luar tanpa melihat kesesuaiannya dengan konteks lokal. Dalam politik, etika dan sopan santun adalah hal yang tidak bisa diabaikan," ujarnya.

Masyarakat, lanjutnya, kini tampaknya semakin mudah terpengaruh dengan sentimen emosional yang dipicu oleh kritik yang tidak beradab.

Pihaknya khawatir masyarakat menjadi apatis atau marah secara tidak terkendali, yang justru bisa merugikan demokrasi itu sendiri.

"Sebagai solusi, saya mengajak semua pihak, baik seniman, politisi, maupun masyarakat, untuk kembali mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan masalah politik," ucapnya.

Politik yang sehat seharusnya tidak hanya tentang mengkritik, tetapi juga memberikan contoh yang baik dan benar dalam bertindak.

Harus kembali ke budaya musyawarah. Seni dinilai sangat penting sebagai alat efektif menyampaikan kritik dengan cara konstruktif.

Baca Juga: Kronologi Pemimpin Hamas Yahya Sinwar Tewas dalam Operasi Militer Israel di Gaza

"Seni bisa menjadi jembatan bagi kritik agar lebih bermartabat. Jangan biarkan seni hanya menjadi alat politik partisipan. Mari kita bangun budaya lebih baik, mulai dari politik," tegasnya. (gun)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#konstruktif #Politik #menjadi #alat #Pemersatu #Seni dan Budaya #kritik