JOGJA - Para praktisi hingga akademisi hadir dalam agenda bertajuk Kongres Pancasila XII yang diinisiasi Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (PSP UGM), kemarin (26/9). Beberapa nama seperti Rocky Gerung, Haedar Nashir, Mahfud MD, hingga Sujiwo Tedjo datang dalam diskusi panel di Balai Senat UGM.
Dalam kongres bertema Pancasila Nyawa Bangsa: Menghalau Kemerosotan Moral dan Praktik Penyelenggaraan Berbangsa dan Bernegara itu, pengamat politik Rocky Gerung secara gamblang menyampaikan, moral bangsa jadi entitas penting yang perlu terus dijaga.
Salah satunya, ia mengapresiasi UGM melalui para pakar dan guru besarnya yang memberikan seruan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas berbagai manuver politik di akhir masa kepemimpinannya.
"Bicara soal moral, UGM ini jadi patokan moral bangsa. Karena ada sejumlah guru besar yang memberi seruan kepada Jokowi. Seruan moral itu penting, tidak mungkin kita teruskan kebohongan publik Jokowi. Dasarnya itu," kata Rocky.
Baca Juga: Tingkatkan Produksi Nasional, Wamentan Dorong Produsen Benih Jagung
Baca Juga: Perda Gunungkidul Nomor 1/2020 Tak Bertaji, Masih Marak Kasus Kekerasan Seksual pada Pelajar
Pada kesempatan itu, ia juga menyinggung soal pentingnya moral untuk dimiliki masyarakat, serta kaitannya dengan moral yang harusnya bisa ditunjukkan oleh para pemimpin negara. "Ibarat lambung, ide dari republik adalah tentang common good dan public fear, tapi lambung itu diisi mereka yang hanya mampu mencerna asam sulfat," ujarnya diiringi tepuk tangan audiens.
Lebih lanjut ia berpesan, salah satu indikator penegakan moral yang bisa dilakukan bersama adalah, mengimplementasikan nilai-nilai dan pikiran yang terkandung di dalam Pancasila.
"Kita hidupkan Pancasila, karena ada misi suci di dalamnya. Pikiran Pancasila itu bukan asli dari Indonesia. Pancasila itu adalah kompilasi dari semua pikiran di dunia," tambahnya.
Selanjutnya, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setprov DIJ Tri Saktiyana mewakili Gubernur HB X menyampaikan, bagi bangsa dan negara Indonesia, Pancasila sudah final. Memang beberapa tahun terakhir jiwa Pancasila sedang rapuh.
"Pada saat kita belajar berdemokrasi, ruang publik terpecah-belah oleh berbagai kepentingan ideologis partai, oleh kepentingan pemilik modal, dan aksi massa masyarakat. Korupsi, kerusakan lingkungan, kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan, krisis integritas, serta polarisasi politik jadi menu media massa akhir-akhir ini," sambungnya.
Seluruh permasalahan itu, sesungguhnya dapat dicegah jika dan hanya Pancasila hadir sebagai pedoman untuk menjaga moralitas dalam sistem republik ini. Disebutkan, demokrasi di Indonesia tampaknya memang sedang memasuki titik kritis dan titik balik yang membingungkan publik. (iza/laz)
Editor : Heru Pratomo