Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tingginya Tingkat Keterpilihan Anak Muda di Parlemen, Pengamat Sebut Sudah Dikader, Ada Keterkaitan dengan Politisi Senior

Adib Lazwar Irkhami • Rabu, 13 Maret 2024 | 15:30 WIB

 

M. Nastain (Pengamat Politik UMBY).Dok Pribadi 
M. Nastain (Pengamat Politik UMBY).Dok Pribadi 


RADAR JOGJA - Tingginya tingkat keterpilihan anggota parlemen generasi milenial  dalam Pileg 2024 bukan hal yang mengejutkan. Ibarat koin mata uang, di dalamnya terdapat sisi gelap dan terang.


Pengamat politik Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) M Nastain menyebut, berdasarkan data internal dan rilis beberapa lembaga survei, suara milenal dan gen Z menyentuh angka 55 persen suara atau sekitar 114 juta suara di daftar pemilih tetap (DPT).


"Sehingga hal itu akan memungkinkan (pemilih milenial dan gen Z) mencari calon-calon yang mereka kenal secara faktor usia. Akan sangat mempengaruhi itu," kata Nastain kepada Radar Jogja.


Tentu pemilih milenial dan gen Z mempunyai semangat yang sama bahwa keterwakilan pemuda menjadi hal krusial bagi generasi muda di waktu sekarang. Faktor kedua penyebab besarnya tingkat keterpilihan anggota dewan milenial, ada semacam efek domino dari naiknya Gibran Rakabuming Raka. Yakni terkait isu anak muda di panggung politik.


"Dan ini sebenarnya ornamen atau orkestra itu sudah dimainkan sejak lama oleh PSI (Partai Solidaritas Indonesia)," ujarnya. Kemudian diperkuat dengan pencalonan Gibran sebagai wapres dan terpilih dalam versi real count KPU RI.


Hal itu membuktikan bahwa anak muda kini juga punya pilihan yang sangat menentukan. "Dan itu sudah disadari oleh partai politik sehingga mereka sudah melakukan asesmen terkait strategi rekrutmen caleg dari kalangan milenial dalam rangka menaikkan angka keterpilihan," ujarnya.


Terbukti salah satu yang mendongkrak itu adalah PAN. Di mana penghitungan sampai saat ini sudah diangka enam persen. Tingginya tingkat keterpilihan kaum milenial justru menjadi oase wajah demokrasi di Indonesia.


Sekarang semakin banyak anak muda melek politik. "Semoga idealisme mereka akan dibawa sampai ke gedung parlemen, sehingga akan mengikis oportunis para sesepuh di parlemen itu," ucapnya.


Peneliti di Data Politik Indonesia itu menyebut, sejumlah faktor menjadi pemicu banyaknya generasi milenial mendapatkan panggung di Pileg 2024. Jika kemudian muncul keraguan sejumlah pihak terhadap kemampuan wakil rakyat generasi milenial dan itu datang dari generasi tua, menurutnya wajar. 


"Karena kadang-kadang para sesepuh merasa yang paling tahu. Tapi perkembangan dan tantangan zaman akan menjawab itu semua," ucapnya.

Baca Juga: Menuju Pahala Berlimpah: 3 Amalan Tajam yang Wajib Dilakukan di Bulan Ramadhan!


Dalam konteks demokrasi, penilaian tidak bisa seperti itu. Sebab suara mereka adalah suara rakyat, dipilih secara sah dalam demokrasi sehingga tidak bisa mengecilkan kapasitas anggota dewan milenial. "Seharusnya bisa dilihat dari track record," jelasnya. 


Jika meragukan secara keseluruhan bahwa anak muda kurang kompeten, seharusnya dapat melihat satu per satu rekam jejak. Mulai keikutsertaan dalam latar belakang organisasi sampai pada capaian prestasi.


"Bisa jadi (terpilihnya anggota dewan milenial) menjadi solusi bagi permasalahan bangsa ke depan yang para orang tua itu sudah tidak bisa memikirkannya, karena tantangan sudah berbeda," jelasnya.


Dosen politik di Fikom UMBY ini berpendapat, mungkin ke depan akan masuk ke dalam era yang membutuhkan anak-anak muda untuk melakukan akselerasi dan inovasi dalam demokrasi Indonesia.


Namun jika berbicara soal sisi gelap demokrasi, ketika ditelisik satu persatu ternyata anggota dewan milenial Pileg 2024 masih punya ketertarikan dengan politisi sepuh. Memang sudah dikader.


"Harapannya mereka akan memiliki idealisme sendiri, greget dan memiliki semangat sendiri di luar apa yang telah dilakukan oleh orang tuanya," pintanya.


Karena kalau melihat anggota dewan milenial peraih suara terbanyak memang tidak jauh dari  politisi tua. Bahkan anggota dewan milenial lolos ke kursi parlemen rata-rata sudah kaya dari lahir.


"Sehingga bukan hal mengagetkan ketika kita berbicara mengenai demokrasi 2024 dengan ongkos termahal yang sulit dicapai oleh orang-orang yang tidak memiliki popularitas tinggi," terangnya.


Berbicara ada anomali seperti artis komedian Komeng, menurutnya, itu karena popularitasnya sudah tinggi. Di satu sisi kejenuhan masyarakat juga besar sehingga menjadi alasan untuk memilih calon itu.


Tapi dosen yang tengah menempuh pendidikan doktor ini mengakui, dalam akar rumput ongkos politik memang gila-gilaan. Menurutnya, merekalah yang punya uang besar dan potensial untuk memenangkan kontestasi. 


"Sehingga itu sisi gelap dari anggota dewan milenial terpilih di 2024. Ternyata masih memiliki keterkaitan erat dengan politisi-politisi tua," ungkapnya. (gun/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#pileg 2024 #daftar pemilih tetap #UMBY