RADAR JOGJA – Setelah kampus, kini giliran guru besar dan akademisi dari lintas kampus yang menyuaran keprihatinannya terhadap kondisi bangsa di Kampus UII Cok Di Tiro Sabtu (3/2). Tergabung dalam Forum 2045 para professor tersebut menyebut Indonesia kini berada di tepi jurang tuna etika.
Saat membacakan seruan, mewakili para guru besar lainnya, Prof Heru Kurnianto Tjahyono dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menyebut, jalan politik telah secara vulgar, tanpa tedeng aling-aling, bertindak atau berperilaku, dengan tidak lagi mengindahkan etika, dan bahkan cenderung melanggar etika dan moral.
Kekuasaan negara yang seharusnya menjadi sarana rakyat untuk mencapai tata hidup bersama yang adil dan makmur, yang berdasarkan pada Pancasila dan Konstitusi, dalam nyatanya justru sebaliknya. “Kekuasaan negara seakan-akan diubah menjadi peralatan privat, yang melawan kepentingan publik,” tuturnya.
Publik menyaksikan dengan sangat jelas bagaimana kekuasaan telah menggunakan peralatan-peralatan publik, untuk kepentingan sempit, kepentingan pribadi, keluarga atau kelompok. Presiden sebagai kepala negara dan segenap jajarannya yang seharusnya menyelenggarakan pemilihan umum sebagai wahana kedaulatan rakyat untuk suksesi kepemimpinan nasional secara baik, jujur dan adil.
“Tapi dalam praktiknya berpotensi menjadi sarana mempertahankan atau melanggengkan kekuasaan,” ujarnya lagi.
Karena itu mereka mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk melakukan tobat etika dan moral untuk memperbaiki akhlak bangsa. Dengan langkah bersama, diharapkan keadaan itu akan mendorong seluruh pihak, baik warga maupun para penyelenggara negara, termasuk pimpinan nasional untuk melakukan pertobatan.
Baca Juga: Ternyata Kebersamaan dan Kekeluargaan yang Kuat Tidak Cukup, Langkah PSIM Jogja Terhenti
Mereka pun menyerukan kepada semua pihak, para pimpinan dan khususnya pimpinan nasional, untuk mempelopori suatu tobat etika dan moral. Kemudian kepada para pemangku kepentingan yang bertanggungjawab bagi bekerjanya "check dan balances", agar benar- benar menjalankan tugas utamanya, agar demokrasi berjalan secara baik, dan tidak dibiarkan mengalami kemunduran.
Kepada kaum terpelajar atau kaum intelektual, yang punya tugas mulia, baik tugas intelektual maupun moral, untuk bersama- sama menjaga etika dan moral, sehingga dapat menjadi bagian dari kompas moral bagi pergerakan bangsa. Kemudian seluruh rakyat Indonesia untuk bersama- sama menjadi saksi atas seluruh proses politik yang berlangsung, dan tidak tinggal diam atas segala kerusakan yang terjadi. "Kita percaya rakyat yang telah tercerahkan akan menjadi bagian utama dari langkah bangsa menghentikan segala langkah politik yang merusak sendi-sendi etika dan moral bangsa," tuturnya.
Editor : Heru Pratomo