JOGJA - Tak dipungkiri bahwa keterlibatan anak muda termasuk para mahasiswa pada kontestasi pemilu 14 Februari mendatang cukup tinggi.
Salah satu alasan yang membuat animo mereka cukup tinggi untuk terlibat dalam konteks pemilu adalah karena adanya debat terbuka dalam kampanye yang dilakukan.
Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM Arga Pribadi Imawan mengatakan, dari pantauannya para mahasiswa memang memiliki kecenderungan untuk lebih senang terlibat dalam metode kampanye yang sifatnya diskusi atau debat terbuka.
"Misalnya seperti desak Anies, itu metode kampanye yang juga banyak disukai anak-anak muda dan mahasiswa," katanya, Rabu (17/1).
Bahkan, Arga menuturkan, sebelumnya ia turut terlibat dalam sebuah survei yang dilakukan kepada 1.001 responden.
Salah satu indikator yang juga ditanyakan adalah respon mereka terhadap adanya metode debat terbuka.
"Sebanyak 69,93 persen dari total partisipan survei itu menyukai metode kampanye yang sifatnya debat terbuka," paparnya.
Arga menuturkan, dalam metode debat terbuka juga jadi ajang kampanye yang cukup efektif dan relevan untuk menempatkan posisi anak-anak muda sebagai partisipan aktif karena mereka bisa melakukan diskusi dan tanya jawab secara langsung.
Tak hanya itu, metode debat terbuka disebut Arga juga cukup inovatif karena pada momentum pemilu sebelum-sebelumnya tidak atau belum dilakukan.
"Dari yang saya lihat, debat terbuka ini jadi metode baru, yang refreshing dan menarik untuk semua kalangan," tuturnya.
Lebih lanjut, ia juga menyampaikan bahwa secara tidak langsung metode kampanye tersebut memang cenderung lebih diterima anak-anak muda bila dibandingkan metode kampanye konvensional seperti melalui baliho, pamflet, atau kampanye door to door.
Baca Juga: Pep Guardiola Peringatkan Barcelona Agar Tidak Grusa-Grusu Ambil Keputusan dan Berikan Xavi Waktu
Dikatakannya, konsumsi informasi dan konten sosial media dari anak-anak muda tersebut cukup berpengaruh terhadap metode kampanye yang harus dilakukan oleh parpol.
Mereka pada akhirnya juga menyesuaikan dengan relevansi anak-anak muda tersebut karena juga memiliki demografi yang tinggi sebagai pemilih.
"Sosial media itu banyak jadi preferensi utama politik anak muda, jadi partai juga berusaha mencari metode kampanye yang relevan," tandasnya. (iza)
Editor : Amin Surachmad