RADAR JOGJA - Pemilih muda diketahui mendominasi pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mendatang.
Sekitar 52 persen pemilih muda merupakan kalangan milenial dan generasi Z.
Pakar politik Fisipol UGM Mada Sukmajati menilai karakter para pemilih muda bisa dengan mudah berubah pikiran.
Hal ini dikarenakan banyak faktor yang mengubah pilihan mereka.
Suasana hati dan pandangan bisa berubah dengan mudah.
Salah satunya dipengaruhi oleh konten media daring. Banjir informasi mempengaruhi pandangan dan pilihan anak muda.
"Generasi ini masih moody menentukan pilihan, gampang sekali merubah pilihan. Tidak seperti generasi sebelumnya, tingkat keajegan dalam memilih itu lebih tinggi," ujarnya, Jumat (1/12/2023).
Pemilih muda yang gampang mengganti pilihannya juga berpotensi tidak memilih.
Sejak awal mungkin mereka sudah punya pilihan, namun tidak menjamin memilih juga.
Sehingga potensi tidak menggunakan hak pilih atau golongan putih (golput) juga tetap ada. Kondisi ini harus mendapatkan perhatian yang serius.
“Mereka bisa menentukan pilihan yang di luar dugaan kita. Bahkan mungkin bisa jadi mereka tetap kesulitan menentukan pilihan. Bahkan hingga di bilik suara pun nantinya (bisa berubah)," jelasnya.
"Dengan moody, bukan berarti menentukan pada satu pilihan. Bisa jadi nanti tidak mampu menentukan pilihan. Jadi kalau melihat potensi itu akan menjadi golput," lanjutnya.
Mada juga menilai, perubahan pilihan bahkan saat terakhir juga dipengaruhi oleh konten yang disajikan.
Anak muda memiliki kecenderungan menyukai konten politik yang ringan dan singkat.
Ada kecenderungan tidak suka konten mendalam dengan durasi penjelasan yang lama. Hal ini cukup riskan karena banyak informasi penting yang akhirnya tidak disampaikan dan terpangkas.
“Mereka menyukai konten-konten politik yang ringan sehingga memiliki cara yang berbeda memahami profil dari para kandidatnya,” ujarnya.
Sebelumnya, Perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Indonesia menggelar deklarasi di Jogja pada Rabu (29/11/2023).
BEM dari UGM, UMY, UII, Universitas Indonesia dan sejumlah perguruan tinggi lain menyuarakan kekecewaan terhadap pemerintahan Joko Widodo.
Salah satu kekecewaan ialah pasca Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memuluskan jalan politik anak presiden Jokowi bernama Gibran Rakabuming Raka.
Dia menjadi cawapres dari Prabowo Subianto dan digadang-gadang mewakili suara anak muda Indonesia.
Ketua LEM UII Jogja Muhammad Rayhan menolak gagasan Gibran Rakabuming Raka menjadi representasi anak muda Indonesia. Menurutnya, lolosnya anak Presiden sebagai Cawapres tidak murni, penuh dinamika.
“Pemuda yang mana. Mungkin sudah tidak usah dijelaskan bahwa di sini tidak ada yang diuntungkan kecuali anak papa,” ujarnya. (lan/bah)
Editor : Bahana.