RADAR JOGJA – Pengamat politik Universitas Indonesia menilai pasangan dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka saat ini sedang digemborkan membentuk dinasti politik. Nyatanya, tidak membuat elektabilitas keduanya anjlok.
“Isu dinasti politik terhadap tingginya survey untuk Prabowo-Gibran saya rasa tidak terlalu berpengaruh terhadap dukungan Masyarakat,” ujar Meidi dihadapan wartawan, Rabu (29/11/2023).
Ia mengatakan, jika para pemilih pasangan nomor urut dua ini sebagian merupakan pemilih loyal Presiden Joko Widodo dari dua periode terakhir pemilu.
Oleh sebab itu, isu dinasti politik untuk Gibran sebagai pendamping Prabowo tidak terlalu berpengaruh.
Hasil dari beberapa survei lembaga pun menyatakan Prabowo-Gibran masih di atas 40 persen dan mengungguli pasangan lainnya.
“Saya kira, masyarakat yang mendukung memang tidak terpengaruh dengan dinasti politik,” lanjutnya.
Meidi menerangkan, Gibran maju sebagai pasangan Prabowo bukan dalam rangka membentuk dinasti politik. Kata itu kurang tepat karena dinasti politik memiliki arti upaya untuk memonopoli kekuasaan.
Baca Juga: Sensasi Baru Eskrim Rasa Jangkrik Hadir Sebagai Kejutan Kuliner, Berani Coba?
Sedangkan dalam praktik Pemilu 2024, ujarnya, ada proses demokrasi yang ditempuh Gibran. Kata yang sesuai adalah political clan bukan dinasti politik.
“Jadi, tidak terlihat adanya monopoli kekuasaan tapi lebih ke aspirasi keluarganya (Jokowi) untuk ikut pemilihan. Jadi, Masyarakat tidak terpengaruh dengan isu dinasti politik,” kata Meidi.
Baca Juga: Ketersediaan Air Tanah Masih Kurang, Status Darurat Kekeringan di Bantul Diperpanjang
Dari segi teoritis, ungkapnya, pasangan Prabowo-Gibran sudah berjanji melanjutkan program pemerintahan saat ini.
“Pemilih loyal dari pedesaan yang Pemilu-pemilu sebelumnya mendukung Prabowo Sebagian besar masih setia. Ditambah pula pendukung baru yang setuju dengan kebijakan pemerintah,” ungkapnya. (Caswati)