RADAR JOGJA - Ahmad Shidqi sejak kecil sudah memiliki ketertarikan dan sepak terjang pada isu-isu politik. Kini membawanya menjadi sopir demokrasi Pemilu 2024 dengan menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) DIJ periode 2023-2028. Kini, komitmennya ingin mewujudkan pemilu di DIJ ini bermartabat dan berbudaya.
Sebelum bergelut di lembaga penyelenggara pemilu, Shidqi memang aktif di berbagai organisasi. Saat SLTA, dia menjadi sekretaris Osis. Memasuki kuliah di Universitas Negeri Islam (UIN) Sunan Kalijaga, Shidqi bahkan menjadi ketua BEM.
Shidqi yang juga lulusan S2 dari Studi Agama dan Resolusi Konflik di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta itu memandang, politik penting untuk menata kondisi kehidupan masyarakat. Terlebih, kehidupan politik akan lebih baik jika pemilunya juga baik.
"Maka kami masuk menjadi penyelenggara pemilu dengan idealisme ikut berkontribusi dalam proses engineering terhadap penataan kehidupan sosial kebangsaan di masyarakat melalui pemilu itu," ujarnya.
"Termasuk kebebasan kita untuk berlibur bersama keluarga sudah otomatis terbatasi. Jadi memang membagi waktu dengan keluarga itu juga sebuah seni yang harus saya lakukan," ceritanya.
Baginya, kesukesan pemilu tak terlepas juga diukur dari bagaimana menjaga solidaritas dengan sesama penyelenggara. Baik di internal KPU maupun di eksternal. Termasuk menjelang pesta demokrasi 2024, dia bersama jajaran komisioner KPU di DIJ maupun kabupaten/kota selalu berupaya mewujudkan pemilu yang bermartabat dan berbudaya. Sebab Jogjakarta merupakan daerah istimewa.
Baca Juga: Logistik Pemilu Datang, KPU Gunungkidul Siapkan Tiga Gudang
Salah satu keistimewaannya bukan hanya budaya secara fisik. Melainkan nilai-nilai budaya yang dipegang teguh oleh masyarakat Jogjakarta dengan semangat gotong-royong, tepo seliro, eling lan waspada.
"Itu menjadi spirit bagi masyarakat Jogjakarta untuk hidup," pesannya. (wia/eno)
Editor : Heru Pratomo