RADAR JOGJA - Badan pengawas pemilu (Bawaslu) DIY menyebut para peserta pemilu lebih takut dengan pemilih dibandingkan dengan penyelenggara pemilu. Baik itu Bawaslu maupun KPU.
Karena itu Bawaslu menggandeng media massa untuk ikut mewartakan proses pemilu senyatanya. Sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.
Hal itu disampaikan Ketua Bawaslu DIY Muhammad Najib dalam Sosialisasi Pengawasan Partisipatif: Persiapan Publikasi dan Dokumentasi Pengawasan Tahapan Kampanye Pemilihan Umum 2024 kepada awak media , Jumat (20/10).
"Para peserta pemilu itu lebih takut pada pemilih daripada penyelenggara pemilu, karena pemilih memiliki hak pilih," kata Najib.
Karena itu, lanjut dia, informasi yang berseliweran terkait aktivitas maupun perilaku para peserta pemilu akan menjadi salah satu dasar pemilih menentukan pilihannya nanti.
Termasuk saat salah satu tahapan penting pemilu, saat masa kampanye nanti Najib berharap informasi yang disampaikan apa adanya.
"Jangan sampai ada upaya untuk membelokkan informasi, memframing agar kemudian yang senyatanya terjadi itu justru tidak sampai ke masyarakat," pesannya.
Diakuinya, salah satu pemicu yang ikut menyulut kerusuhan itu terjadi adalah karena beredarnya informasi yang tidak benar yang berseliweran di media sosial.
Menurut dia, harus ada upaya meluruskan disinformasi melalui media konvensional. Baik itu media cetak, online maupun televisi.
"Kita ini satu visi, visi untuk kebenaran, visi untuk keadilan dan visi untuk mengawal pemilu yang berintegritas," ujar Najib.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY Hudono pun sependapat dengan Najib. Dia pun kembali mengingatkan salah satu elemen jurnalisme yang disusun oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.
Yaitu wartawan harus tertib verifikasi. Dalam jurnalisme, kata Hudono, proses verifikasi sangat penting karena wartawan harus melakukan cek dan ricek, konfirmasi, serta membuktikan kebenaran sebuah peristiwa.
Dia pun mengingatkan wartawan untuk tidak menggunakan informasi yang berasal dari media sosial sebagai sumber berita. Apalagi dilakukan tanpa melakukan verifikasi terkait informasi tersebut. "Asal comot medsos itu keliru, karena tidak ada verifikasi. Wartawan harus disiplin melakukan verifikasi," tegasnya.
Editor : Heru Pratomo