Bagaimana Research Bootcamp dan Research Partnership Membuka Akses Pelajar ke Dunia Sains

Bahana. • Dipublikasikan Minggu, 1 November 2026 | 11:41 WIB
Fumalife menghadirkan Research Bootcamp dan Research Partnership
Fumalife menghadirkan Research Bootcamp dan Research Partnership

Pengalaman riset tidak harus menunggu bangku kuliah. Melalui pembelajaran berbasis penelitian dan kolaborasi akademik, pelajar dapat mengenal proses ilmiah, mengeksplorasi teknologi, dan mengembangkan gagasan sejak sekolah menengah.

Riset sains kerap diasosiasikan dengan perguruan tinggi dan laboratorium profesional. Padahal, proses penelitian dapat diperkenalkan lebih awal melalui pengalaman belajar yang tepat. Pelajar dapat mulai memahami cara merumuskan pertanyaan, mencari bukti, menguji gagasan, dan menyampaikan hasil secara sistematis.

Hal ini semakin relevan di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (AI), keamanan siber, nanoteknologi, dan robotika. Untuk mengenal bidang-bidang tersebut, pelajar tidak cukup hanya mempelajari teori di kelas. Mereka juga perlu berinteraksi dengan akademisi, mengenal fasilitas laboratorium, dan mencoba mengembangkan proyek ilmiah.

Fumalife menghadirkan Research Bootcamp dan Research Partnership untuk mendekatkan proses penelitian dengan pengalaman belajar sekaligus membuka peluang kolaborasi akademik.

Research Bootcamp: Mengenal Proses Riset melalui Pengalaman Langsung

Baca Juga: Menggugah Selera, Ini Lima Jenis Seafood yang Lezat Dimakan Mentah Beserta Tips Mengolahnya

Melalui layanan Science Research Camp, Fumalife menggabungkan pembelajaran konseptual, praktik, diskusi dengan mentor, dan pengembangan proyek. Peserta diajak mengenal tahapan penelitian, mulai dari identifikasi masalah dan pencarian referensi hingga pengujian gagasan, analisis, serta komunikasi ilmiah. Program ini juga dapat membantu pelajar mengeksplorasi minat sebelum menentukan pilihan pendidikan lebih lanjut.

Salah satu penerapannya adalah Science Research Camp (SRC) 2026, yang diselenggarakan Fumalife Research Academybersama Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM).

“Melalui SRC 2026, kami ingin membuktikan bahwa riset ilmiah bukan sekadar konsumsi mahasiswa, melainkan bisa dimulai sejak sekolah menengah. Dengan terjun langsung ke laboratorium kampus, para peserta tidak hanya memahami sains secara mendalam, tetapi juga terbiasa berpikir kritis dan solutif. Kami berharap pengalaman ini menjadi pijakan awal bagi lahirnya para peneliti muda Indonesia,” ujar CEO & Founder Fumalife Hanif Khoirudin, S.Si., M.Sc.

SRC 2026 mempertemukan pelajar SMA dan sederajat dari berbagai daerah di Indonesia dalam tiga bidang pembelajaran: AI and Cybersecurity, Nanomaterials and Nanotechnology, serta Robotics and Instrumentation. Kegiatannya meliputi kuliah umum, demonstrasi eksperimen, pengenalan keselamatan kerja laboratorium, tur laboratorium, dan sesi bersama dosen serta mentor.

Peserta juga memperoleh kesempatan belajar dari akademisi dengan bidang keahlian yang beragam. Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si. berbagi perspektif penelitian nanomaterial dan teknologi sensor; Rifki Afina Putri, S.T., M.S., Ph.D. terlibat dalam bidang kecerdasan artifisial dengan kepakaran pemrosesan bahasa alami; sedangkan Dr. Oskar Natan dari Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM mendukung bidang robotika dan sistem otonom.

Research Partnership: Menghubungkan Pembelajaran dengan Keahlian Akademik

Selain pembelajaran langsung, pengembangan riset membutuhkan kolaborasi lembaga pendidikan, akademisi, peneliti, dan organisasi yang memiliki kebutuhan atau tujuan penelitian. Melalui Research Partnership, Fumalife membuka peluang kerja sama untuk memperluas akses terhadap pengetahuan, keahlian akademik, dan pengalaman penelitian.

Kemitraan semacam ini dapat mendorong pertukaran pengetahuan, pengembangan program berbasis sains, serta keterlibatan akademisi dalam kegiatan pendidikan dan penelitian. Kolaborasi Fumalife dengan FMIPA UGM dalam SRC 2026 menjadi salah satu contohnya. Keterlibatan institusi akademik memungkinkan peserta belajar langsung dari para ahli dan mengenal beragam perspektif penelitian.

Baca Juga: Jadi Tersangka, Sopir Innova Tabrak Lari di Ketandan Ditahan, Terancam 3 Pasal Sekaligus

Dari Gagasan Menjadi Proyek Ilmiah

Dalam SRC 2026, peserta mengembangkan proyek akhir secara berkelompok sesuai bidang yang dipelajari. Mereka didorong untuk mengidentifikasi masalah, mencari referensi ilmiah, menyusun dasar pemikiran, dan mempertimbangkan kelayakan gagasan. Hasilnya kemudian dipresentasikan dan dipertanggungjawabkan melalui sesi tanya jawab.

Penilaian mempertimbangkan kejelasan masalah, dasar ilmiah, kreativitas, kelayakan solusi, potensi manfaat, kualitas presentasi, serta kemampuan menjawab pertanyaan. Proses ini membantu peserta memahami pentingnya landasan pengetahuan dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus membedakan hasil eksperimen, informasi referensi, dan gagasan yang masih perlu diuji.

Sebagai apresiasi atas capaian peserta, SRC 2026 memberikan penghargaan dalam sejumlah kategori. The Best Overall Participant diraih Zidni Nasywa Syarif dari SMA 1 Yogyakarta. Best AI & Cyber Security Innovator diberikan kepada Delin Anggraeni dari SMAN Banua Kalsel. Sementara itu, Best Nanomaterial & Nanotechnology Researcher diraih Kiyoshi Nathan P dari SMA 2 Yogyakarta, dan Best Robotics & Instrumentation Engineer diberikan kepada Shafa Haura Patra dari SMAI Al-Azhar 5 Cirebon.

Untuk kategori tim, Best Project Presentation Award diberikan kepada Robotik 2 Tardigrade, yang beranggotakan Attila B Syahputra (Prime One School), Keisha Afradhia Ali (Al-Irsyad Satya Islamic School), dan Danish Fathul Aiham (SMA Unggulan Darul Hikam Bandung).

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas partisipasi dan hasil kerja peserta. Namun, proses mengembangkan gagasan, bekerja sama, dan mengomunikasikan proyek ilmiah juga merupakan bagian penting dari pengalaman belajar mereka.

Membangun Fondasi Pemikiran Ilmiah Sejak Dini

Memperkenalkan riset sejak sekolah bukan berarti setiap pelajar harus menjadi ilmuwan. Pengalaman penelitian dapat membangun keterampilan yang berguna di berbagai bidang, seperti berpikir kritis, mengevaluasi informasi, menyusun argumentasi, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti.

Melalui Research Bootcamp dan Research Partnership, Fumalife berupaya membuka ruang bagi pembelajaran dan kolaborasi yang mendekatkan peserta dengan proses penelitian.

Baca Juga: Bukan Cuma Penyakit Orang Tua, Nyeri Pinggang Juga Mengintai Anak Muda

Research Bootcamp berfokus pada pengalaman belajar dan pengembangan keterampilan riset, sedangkan Research Partnership membuka peluang kerja sama dengan pihak yang memiliki keahlian dan kepentingan dalam pengembangan pengetahuan.

Riset dapat dimulai dari rasa ingin tahu, pertanyaan yang jelas, kemauan mencari bukti, dan keberanian menguji gagasan. Dengan akses terhadap pengalaman belajar, bimbingan, dan kolaborasi, pelajar dapat mulai mengenal dunia penelitian sebelum memasuki perguruan tinggi.

Editor : Bahana.
kecerdasan ai FMIPA UGM riset