Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Bencana, SMK-SMTI Jogja Rutin Gelar Simulasi Kebakaran dan Gempa

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 21:20 WIB
CAPTION: Kepala SMK-SMTI Yogyakarta Sarman saat ditemui di kantornya, Senin (12/10/2026).  IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA
CAPTION: Kepala SMK-SMTI Yogyakarta Sarman saat ditemui di kantornya, Senin (12/10/2026).  IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA

JOGJA - Sebagai langkah mengantisipasi ancaman bencana alam yang dapat terjadi sewaktu-waktu, SMK-SMTI Yogyakarta rutin menggelar simulasi kebencanaan setiap tahun. Langkah tersebut dilaksanakan untuk menumbuhkan kesadaran dan kesiapsiagaan seluruh warga sekolah dalam menghadapi bencana.

Kepala SMK-SMTI Yogyakarta Sarman memahami bahwa Yogyakarta merupakan wilayah rawan bencana. Oleh karena itu, pihak sekolah berkomitmen menggelar simulasi kebencanaan rutin setiap tahun. Simulasi yang dilakukan berupa menghadapi bencana gempa bumi dan kebakaran.

Ia menyatakan, simulasi tersebut dirancang agar seluruh para siswa hingga jajaran guru maupun staf dapat memahami prosedur evakuasi yang benar ketika terjadi bencana. Misalnya paham dalam melakukan perlindungan diri dan memetakan jalur menuju titik evakuasi.

Baca Juga: Bukan Lembaga Terpisah, Setwan Tulang Punggung DPRD DIY

"Di Jogja kan sering terjadi gempa. Ketika memang ada kejadian, harapannya anak-anak dan seluruh warga sekolah sudah mengerti apa yang harus dilakukan. Makanya ini menjadi agenda tahunan yang rutin diadakan," ujar Sarman kepada Radar Jogja, Senin (12/10/2026).

Dalam pelaksanaannya, SMK SMTI Yogyakarta bekerja sama dan berkonsultasi langsung dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Konsultasi yang dilakukan meliputi penyusunan skenario serta memastikan ketersediaan infrastruktur aman bencana di lingkungan sekolah. 

Sarman menjelaskan, simulasi kebencanaan diikuti secara masif oleh sekitar 700 warga sekolah. Terdiri dari 600 siswa serta 100 guru dan staf karyawan. Simulasi diterapkan dengan suasana di tengah-tengah kegiatan belajar mengajar (KBM) yang sedang berlangsung.  

“Saat guru sedang mengajar, tiba-tiba terjadi gempa. Dari situ kami lihat dan arahkan bagaimana anak-anak merespons. Sebelum simulasi, tentu sudah ada pembekalan di kelas terkait penanggulangan gempa," jelasnya.  

Baca Juga: Status Gunung Merapi Turun Level Dipastikan Hoaks, BPPTKG Jogjakarta Tegaskan Masih Siaga

Selain membekali siswa, pihak sekolah juga membentuk Tim Siaga Bencana yang bertugas sebagai koordinator di lapangan. Para guru yang tergabung dalam tim ini siap mengambil alih kendali dan mengarahkan proses evakuasi jika situasi darurat benar-benar terjadi.  

Sarman menegaskan, pengetahuan tentang kebencanaan dan konsistensi dalam mengasah kesadaran mitigasi bencana di lingkungan sekolah menjadi hal penting. Sebab tanpa simulasi dapat memicu kepanikan, terutama bagi siswa baru yang belum pernah menerima pelatihan.

Ke depan, SMK-SMTI Yogyakarta berencana bekerja sama dengan BPBD untuk memasukkan materi penanggulangan bencana ke dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Supaya para siswa baru bisa memiliki pengetahuan kebencanaan.

"Gempa bumi itu tidak bisa diprediksi. Jadi kesadaran ini harus terus-menerus dipupuk dan diingatkan. Simulasi minimal harus diadakan satu kali dalam setahun,” tegas Sarman. (inu)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
SMK-SMTI Yogyakarta Simulasi Kebakaran antisipasi ancaman bencana simulasi gempa mitigasi bencana