Unik! SD Alam Al Marina Hadirkan Konsep Belajar Bertani hingga Memasarkan, Begini Konsepnya..

Dzika Fajar • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 08:04 WIB
PENDIDIKAN UNTUK SEMUA: SD Alam Al Marina, Karangmojo, Gunungkidul, menjadi tempat belajar bagi siswa dari masyarakat sekitar maupun anak-anak yang tinggal di panti asuhan Yayasan Al Marina. (Dzika Fajar/Radar Jogja)
PENDIDIKAN UNTUK SEMUA: SD Alam Al Marina, Karangmojo, Gunungkidul, menjadi tempat belajar bagi siswa dari masyarakat sekitar maupun anak-anak yang tinggal di panti asuhan Yayasan Al Marina. (Dzika Fajar/Radar Jogja)  

GUNUNGKIDUL - Ruang kelas beratap jerami dan ladang di lingkungan sekolah menjadi bagian dari keseharian siswa SD Alam Al Marina, Karangmojo, Gunungkidul. Sekolah ini mengajarkan siswa bertani mulai dari mengolah tanah hingga memasarkan hasilnya. Pembelajaran praktik tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah membentuk karakter, kemandirian, dan jiwa kewirausahaan siswa.

Ladang sekolah menjadi ruang praktik bagi siswa untuk mengenal proses pertanian sejak dini. Setelah tanaman dipanen, pembelajaran dilanjutkan melalui kegiatan cooking class atau kelas memasak dan market day untuk memperkenalkan pengolahan serta pemasaran hasil pertanian.

Guru SD Alam Al Marina Wahyuningsih Wihdyawati mengatakan, pertanian dan kewirausahaan menjadi bagian dari kegiatan kokurikuler yang dirancang untuk membentuk karakter dan kemandirian siswa.

"Selain mengolah tanah, bibit yang ditanam sampai dipanen hingga pemasaran, kami ajarkan sejak dini," katanya, Jumat (8/10/2026).

Baca Juga: Aklamasi di KLB 2026, Dessy Arfianto Kembali Pimpin Asprov PSSI DIJ

Dia menjelaskan, kegiatan kokurikuler memiliki tema dan sasaran yang disusun secara bertahap. Saat ini, sekolah mengarahkan kegiatan pada market day. Melalui program tersebut, siswa diharapkan memahami bahwa proses menghasilkan suatu produk tidak berhenti pada kegiatan produksi, tetapi juga mencakup pengolahan dan penjualan.

Pendekatan itu sekaligus mengenalkan siswa pada proses yang tidak selalu mereka dapatkan melalui pembelajaran teori di kelas. Anak-anak berkesempatan mencoba langsung, memahami tahapan pekerjaan, serta belajar bertanggung jawab terhadap kegiatan yang mereka jalankan.

Sekolah juga memiliki program Jumat Hijau. Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak melakukan penghijauan dengan menanam tanaman di ladang sekolah.” Upaya ini menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini,” ujarnya.

Baca Juga: Ingin PSS Sleman Raih Kemenangan di Laga Melawan PSM Makassar

SD Alam Al Marina berdiri sekitar tujuh tahun lalu. Lokasi sekolah tersebut sebelumnya masih berupa lahan yang ditumbuhi pohon jati. Area seluas sekitar 1.800 meter persegi itu kemudian dikembangkan menjadi lingkungan pendidikan dengan bangunan yang mengusung konsep alam.

Kini, sekolah tersebut memiliki 35 siswa. Jumlah terbanyak berada di kelas III, IV, dan V. SD Alam Al Marina juga telah mengantongi akreditasi A.

Namun, ada hal lain yang membuat sekolah ini memiliki karakter tersendiri. Sebanyak 11 dari total 35 siswanya merupakan anak-anak yang tinggal di panti asuhan di bawah naungan Yayasan Al Marina. Mereka belajar bersama siswa dari masyarakat sekitar, meski memiliki latar belakang kehidupan yang beragam.

Wahyuningsih menyebut, anak-anak dari keluarga kurang mampu juga mendapat subsidi. Dengan demikian, keterbatasan ekonomi diupayakan tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk memperoleh pendidikan.

Baca Juga: Van Gastel Enggan Berspekulasi soal Kekuatan Persija Jakarta, Tetap Rahasiakan Game Plan PSIM Jogja

Menurut dia, jumlah siswa yang relatif sedikit memungkinkan pendampingan dan pelaksanaan program sekolah dilakukan secara lebih intensif. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kemandirian, dan rasa syukur.

Di balik kegiatan belajar tersebut, SD Alam Al Marina juga menjadi bagian dari upaya Yayasan Al Marina mendampingi anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus. 

Pembina anak di panti, Pujiati Rahayu mengatakan, anak-anak yang berada dalam pengasuhan yayasan memiliki latar belakang berbeda.  "Ada yang dari lahir telantar, ada mantan pengamen, ada juga yang memiliki penyakit yang tidak biasa," bebernya.

Dalam mendampingi anak-anak tersebut, Pujiati berupaya tidak membedakan mereka berdasarkan masa lalu maupun kondisi yang dihadapi. Ia memilih menyebut mereka sebagai anak-anak istimewa.

Baca Juga: Muryati, Pembuat Sagon Khas Bantul; Warisan Ortu sejak 1991, Pemasakan di Pantat Anglo

Pengasuh Yayasan Al Marina Alifatun Mardiah mengatakan, pendirian sekolah tersebut salah satunya berangkat dari cita-cita orang tuanya yang belum terwujud. Cita-cita itu kemudian dilanjutkan melalui pengembangan sekolah dan kegiatan yayasan.

Ke depan, ia ingin SD Alam Al Marina semakin berfokus pada pemberdayaan pertanian sebagai sarana pembelajaran. "Proyeksi ke depan akan menjadi sekolah yang fokus pada pemberdayaan pertanian anak-anak, supaya anak belajar bukan hanya materi, tetapi juga praktik. Bagaimana cara menghasilkan hingga ke penjualan. Semua itu yang jarang diajarkan di bangku sekolah," tambahnya.

Bagi Alifatun, dukungan terhadap anak-anak panti juga menjadi bagian dari pengabdian yang dijalankan melalui yayasan. Sekolah diharapkan menjadi ruang bagi anak-anak dengan latar belakang berbeda untuk memperoleh pendidikan sekaligus mengembangkan kemampuan diri.(zik/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
konsep belajar pemberdayaan pertanian SD Alam Al Marina kewirausahaan bertani