RADAR JOGJA - Museum selama ini sering dibayangkan sebagai bangunan tenang dengan deretan benda bersejarah di balik kaca. Namun, gambaran itu perlahan mulai berubah. Museum kini tidak hanya dipandang sebagai tempat menyimpan masa lalu, tetapi juga berpotensi menjadi ruang budaya yang menghidupkan pariwisata, kreativitas, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Perubahan cara pandang tersebut kembali mencuat setelah Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengunjungi National Museum of Egyptian Civilization (NMEC) di Kairo, Mesir, pada Senin (21/9/2026).
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi pemerintah Indonesia untuk melihat secara langsung bagaimana museum dikembangkan agar tidak berhenti pada fungsi penyimpanan dan pameran koleksi. Pengelolaan museum di Mesir menjadi salah satu bahan pembelajaran untuk mengembangkan museum di Indonesia.
NMEC menjadi salah satu contoh museum yang menggabungkan sejarah dengan pengalaman pengunjung. Koleksi yang ditampilkan tidak berdiri sendiri, tetapi didukung berbagai fasilitas yang membuat museum dapat menjadi tujuan wisata budaya.
Kehadiran toko suvenir dan kedai kopi menjadi bagian dari fasilitas yang dapat membuat pengunjung menghabiskan lebih banyak waktu di kawasan museum. Aktivitas tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sektor budaya dapat memiliki hubungan dengan kegiatan ekonomi tanpa harus menghilangkan fungsi utama museum sebagai tempat pelestarian sejarah.
Baca Juga: Jejak Panjang SMA Muhi Jogja, Menembus Batas Zaman, Merawat Memori, dan Melahirkan Para Tokoh Bangsa
Bagi Indonesia, pendekatan semacam itu membuka peluang untuk melihat museum dengan cara yang berbeda. Museum tidak harus hanya mengandalkan koleksi sebagai daya tarik. Cara bercerita, teknologi, fasilitas, serta kegiatan yang ditawarkan kepada pengunjung juga dapat menentukan apakah sebuah museum mampu menarik perhatian masyarakat.
Hal tersebut menjadi semakin penting ketika museum ingin menjangkau generasi muda. Anak muda saat ini terbiasa dengan konten visual dan pengalaman interaktif. Karena itu, penyajian sejarah yang lebih kreatif berpotensi membuat museum terasa lebih dekat dan tidak monoton.
Kementerian Kebudayaan juga tengah mempelajari berbagai aspek pengelolaan museum melalui kunjungan ke Mesir. Hal yang diperhatikan mencakup pengelolaan koleksi, konservasi, kurasi pameran, teknologi, fasilitas, pengalaman pengunjung, hingga keberlanjutan operasional museum.
Langkah pengembangan museum di Indonesia juga mulai diarahkan ke konsep yang lebih modern. Salah satunya melalui revitalisasi Museum Majapahit di Trowulan, Jawa Timur. Museum tersebut diarahkan untuk memperkenalkan sejarah dan peradaban Nusantara dengan dukungan teknologi serta pengalaman yang lebih interaktif.
Baca Juga: 45 Tim Terbagi dalam Grup, DBL D.I. Yogyakarta 2026 Siap Memanas
Jika konsep tersebut berjalan, museum berpotensi memberikan dampak lebih luas bagi lingkungan sekitarnya. Meningkatnya kunjungan dapat membuka ruang bagi usaha suvenir, kuliner, jasa kreatif, hingga berbagai kegiatan seni dan budaya.
Artinya, museum bisa menjadi salah satu titik temu antara pelestarian sejarah dan ekonomi kreatif. Benda-benda bersejarah tetap menjadi inti, tetapi keberadaannya dapat dikembangkan menjadi pengalaman yang memiliki nilai bagi pengunjung sekaligus masyarakat.
Bagi generasi muda, perubahan ini juga bisa mengubah cara memandang museum. Berkunjung ke museum tidak lagi hanya dilakukan karena tugas sekolah atau kuliah. Museum dapat menjadi tempat mencari pengalaman, membuat konten, menikmati kegiatan budaya, sekaligus mengenal sejarah dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, menjadikan museum sebagai bagian dari ekonomi budaya bukan berarti mengubah museum menjadi pusat bisnis semata. Justru, pengembangan tersebut dapat menjadi salah satu cara agar warisan sejarah tetap hidup dan memiliki daya tarik di tengah perubahan zaman.
Museum tidak hanya menyimpan cerita tentang masa lalu. Jika dikelola dengan pendekatan yang tepat, museum juga dapat menjadi ruang tempat sejarah bertemu dengan pariwisata, kreativitas, generasi muda, dan pergerakan ekonomi masyarakat.
(Maria Margaretha Nirong Gedo)
Sumber: Kementerian Kebudayaan dan ANTARA.
Sumber : Berbagai Sumber