Jejak Panjang SMA Muhi Jogja, Menembus Batas Zaman, Merawat Memori, dan Melahirkan Para Tokoh Bangsa

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 11:09 WIB
Buku MUHI untuk Negeri Diluncurkan: Rekam Sejarah, Kiprah Alumni, dan Inspirasi Pendidikan. (ist)
Buku MUHI untuk Negeri Diluncurkan: Rekam Sejarah, Kiprah Alumni, dan Inspirasi Pendidikan. (ist)

 JOGJA - Lorong waktu SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (MUHI) menyimpan jutaan cerita. Rasa bangga, jejak perjuangan, hingga tawa masa seragam putih-abu-abu tidak lagi sekadar menjadi memori usang yang perlahan memudar di kepala para alumninya. Lewat karya mahakarya berhakikat murni, segudang kenangan dan bakti alumni itu kini diabadikan secara elegan dalam lembaran buku bertajuk MUHI untuk Negeri: Sejarah, Alumni, Sumbangsih.

Diterbitkan oleh LaksBang Akademika, buku ini lahir dari rajutan kolaborasi hangat antara Ikatan Alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (IKAMUHI) dan pihak sekolah. Kehadirannya pada September 2026 menjadi momen monumental untuk merawat ingatan kolektif, menjaga kisah luhur salah satu benteng pendidikan Islam paling berpengaruh di Kota Gudeg agar tetap menyala.

Buku megah setebal xxviii+418 halaman ini digarap begitu telaten oleh empat jurnalis tangguh: Fernan Rahadi (Republika/Alumni MUHI 2003), Arif Koes Hernawan (penulis lepas), Latief Noor Rochmans (Kedaulatan Rakyat), serta Rahajeng Kartika Anindita Pramesi (Beritajatim). Peluncuran awalnya (soft launching) berlangsung penuh keharuan di tengah kemeriahan Milad ke-77 MUHI di Sportorium UMY, Rabu (23/9/2026).

Di balik keindahan bukunya, ada perjuangan emosional yang menyentuh hati selama tiga bulan lebih masa penyusunan. Fernan Rahadi, selaku Ketua Tim Penulis, menceritakan betapa berlikunya proses pemburuan jejak alumni. Ada nomor telepon yang mati, janji temu yang gagal, hingga alumni terkemuka yang dengan rendah hati enggan dipublikasikan. Perburuan foto-foto sejarah bahkan berlangsung menegangkan hingga detik-detik akhir menjelang cetak.

Buku ini dirancang bukan sekadar arsip kaku, melainkan dokumentasi hidup lintas zaman. Lebih dari 120 narasumber diwawancarai, mulai dari guru senior, mantan kepala sekolah, pegiat ekstrakurikuler, hingga keluarga dari mendiang tokoh penting MUHI yang telah berpulang.

Baca Juga: Bayar Pakai QRIS Sering Kena Admin? Ini Aturan Resmi Bank Indonesia Soal Biaya Tambahan 

Rentang waktu cerita yang terkumpul menembus rentang enam dekade. Tim penulis merangkul kisah hidup alumni dari lulusan era 1963 hingga generasi muda lulusan 2025. Salah satu momen paling berkesan sekaligus mengharukan terjadi saat mewawancarai Siti Hadiroh, alumni tertua lulusan 1963, yang mengembuskan napas terakhirnya tak lama setelah kisah hidupnya berhasil diabadikan dalam buku ini.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa merekam perjalanan lembaga pendidikan adalah panggilan moral. "Sejarah sebuah lembaga pendidikan akan kehilangan maknanya jika tidak dirawat dan diwariskan," tuturnya bijak. Bagi Haedar, karya ini adalah warisan tak ternilai bagi generasi hari ini dan esok.

Bagi Ketua Umum IKAMUHI, Ida Pujiastuti (Alumni 1984), buku ini merupakan buah dari cinta dan ikatan batin yang tak pernah padam pada almamater. MUHI baginya bukan sebatas tempat menuntut ilmu formal, melainkan kawah candradimuka yang menanamkan fondasi iman, karakter, serta semangat pengabdian tanpa batas.

Senada dengan itu, Kepala Sekolah MUHI, Herynugroho, mengungkapkan rasa harunya atas terbitnya buku ini. Ia berharap setiap lembar cerita perjuangan di dalamnya sanggup menyulut semangat anak-anak didik masa kini untuk berani bermimpi dan mengukir prestasi setinggi-tingginya.

Baca Juga: Bukan Cuman Soal Main Game, Roblox Kini Disorot Karena Keamanan Anak di Dunia Virtual

Tokoh nasional sekaligus alumni MUHI 1971, Busyro Muqoddas, melihat karya ini sebagai pijakan moral bagi gerakan MUHI Reborn. Di tengah gempuran arus zaman yang dihadapi Generasi Z, sejarah panjang ini harus menjadi pengingat agar MUHI terus melahirkan pemimpin bangsa yang cerdas sekaligus berakhlak mulia.

Sederet nama besar bangsa pun menghiasi halaman buku ini sebagai Tokoh MUHI, seperti legenda musik Ebiet G. Ade dan Eros Candra, budayawan kondang Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono, sutradara kondang Fajar Nugros, hingga ilmuwan kenamaan Prof. Amir Hamidy.

Lahirnya buku ini menempatkan SMA MUHI dalam daftar elite pendidikan nasional. Di seluruh Indonesia, baru ada 5 SMA yang berhasil menerbitkan buku sejarah dan kiprah alumni secara komprehensif, dan MUHI mencatatkan sejarah sebagai satu-satunya sekolah swasta yang sanggup mewujudkannya.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
SMA MUHI Yogyakarta IKAMUHI Buku MUHI untuk Negeri Tokoh Alumni MUHI Sejarah Pendidikan Muhammadiyah