JOGJA - SD Tarakanita Bumijo, Kota Jogja, berupaya menyeimbangkan pembelajaran di dalam dan luar kelas melalui program pembelajaran luar sekolah (PLS). Kegiatan ini dirancang agar siswa memperoleh pengalaman langsung sekaligus menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SD Tarakanita Bumijo Matheus Saparyanto mengatakan, PLS dilaksanakan satu kali dalam setahun untuk setiap jenjang kelas. Bentuk kegiatannya disesuaikan dengan materi pembelajaran dan kebutuhan siswa.
"Tujuannya agar anak-anak betul-betul mendapat pengalaman langsung di luar sekolah. Tidak hanya belajar teori di lingkup sekolah saja," ujarnya pada Radar Jogja, Jumat (18/9/2026).
Pelaksanaan PLS untuk kelas II hingga VI berlangsung pada semester pertama. Sementara itu, siswa kelas I mengikuti kegiatan pada semester kedua untuk memberi waktu penyesuaian di lingkungan sekolah. Kegiatan berlangsung selama satu hari dan dapat melebihi jam sekolah, hingga sekitar pukul 15.00.
Baca Juga: Sempat Unggul Terlebih Dahulu, PSIM Jogja Akhirnya Tumbang 1-2 di Kandang Madura United
Setiap jenjang memiliki lokasi dan aktivitas pembelajaran berbeda. Siswa kelas II, misalnya, mengikuti kegiatan di Solo dengan mengunjungi sejumlah tempat, termasuk Museum Radya Pustaka dan Gedung Sriwedari.
Selain mengenal sejarah dan budaya, mereka mendapat pengalaman menggunakan KRL dan bus tingkat. Siswa juga diperkenalkan dengan tata cara menggunakan transportasi umum serta aturan ketika berada di ruang publik.
Sementara itu, siswa kelas IV mengunjungi Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FTB UAJY) untuk mempelajari teknologi pangan sederhana. Kegiatan tersebut berangkat dari materi kokurikuler yang dikaitkan dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), khususnya perubahan wujud benda.
Salah satu praktik yang pernah dilakukan adalah membuat permen susu. Melalui kegiatan tersebut, siswa mempelajari proses pengolahan bahan makanan secara langsung.
Baca Juga: Bazar Buku Festival Literasi Gunungkidul, Ribuan Buku Dibanderol Mulai Rp 5.000
"Kalau mengolah makanan itu kan ada perubahan wujud. Jadi pembelajaran IPAS dan kokurikulernya kami kaitkan dengan teknologi pangan sederhana," terangnya.
Kegiatan PLS juga membawa siswa kelas III ke Desa Wukirsari, Bantul, untuk belajar membatik tulis. Sementara siswa kelas V mengunjungi Museum Sonobudoyo dan Ibarbo Park, dengan materi mulai dari budaya, sifat cahaya, lingkungan biotik dan abiotik, hingga matematika. Adapun siswa kelas VI mengikuti pembelajaran di Desa Wisata Grogol, Seyegan, Sleman. Mereka mempelajari budaya lokal melalui jemparingan atau panahan tradisional dan wayang suket.
Pemilihan lokasi dan aktivitas PLS mempertimbangkan jenjang pendidikan, materi pembelajaran, serta kemampuan siswa dalam memahami pengalaman yang diperoleh. Perencanaan kegiatan diserahkan kepada masing-masing paralel kelas dengan melibatkan wali kelas dan guru bidang studi.
Sapar menjelaskan, program disusun satu tahun sebelumnya. Perencanaan tersebut mencakup penentuan lokasi, rancangan kegiatan, hingga kebutuhan anggaran. Lokasi pun tidak bersifat tetap dan dapat disesuaikan berdasarkan evaluasi pelaksanaan sebelumnya.
Baca Juga: DKPP Sebut 25 Merek Beras Fortifikasi Nihil di Bantul, Warga Diklaim Konsumsi Beras Lokal
Dari sisi pembiayaan, anggaran PLS masuk dalam uang kegiatan tahunan siswa. Sekolah memperhitungkan kebutuhan biaya dan menentukan komponen yang dapat ditanggung melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). "Mana yang bisa di-backup pakai dana BOS, yang tidak itu nanti dibagi jumlah siswa, masuk ke uang kegiatan," jelasnya.
Untuk pendampingan, sekolah melibatkan perwakilan orang tua bagi siswa kelas I dan II yang mengikuti kegiatan di Solo. Sementara itu, kelas III hingga VI umumnya hanya didampingi guru. Pun, respons orang tua terhadap program tersebut sejauh ini cenderung positif. Dokumentasi kegiatan dibagikan oleh wali kelas melalui grup komunikasi masing-masing kelas agar orang tua dapat mengikuti perkembangan anak.
"Orang tua cukup puas. Kemarin yang ke Solo itu juga orang tua mengatakan anak-anak senang sekali. Setiap kali PLS, wali kelas mengambil dokumentasi, lalu langsung dikirim update di grup kelas," ungkapnya.
Ke depan, sekolah berencana melengkapi PLS dengan kegiatan guru tamu. Pihaknya akan menindaklanjuti komunikasi dengan UAJY melalui penyusunan nota kesepahaman atau MoU. "Harapan kami bukan selalu anak-anak SD yang ke sana, tetapi mungkin dari pihak sana, entah dosennya, entah mahasiswa, datang ke sekolah untuk menjadi guru tamu," tambahnya.
Baca Juga: 9.216 KPM di Kabupaten Bantul Terindikasi Judol, Pengajuan Sanggah Tak Sampai Separo
Sementara itu, Guru Bahasa Inggris sekaligus anggota Humas SD Tarakanita Bumijo Theresia Vina Indriyani menambahkan, lokasi PLS dipilih berdasarkan keterkaitannya dengan materi pelajaran, seperti IPAS dan seni budaya. "Anak-anak itu ada proses belajar. Biar lebih riil belajarnya ya dengan PLS ini. Misalnya IPAS, kemudian seni budaya. Temanya nanti menyesuaikan dengan lokasi PLS-nya," katanya.
Menurutnya, kegiatan untuk kelas kecil dirancang lebih sederhana dan dekat dengan keseharian siswa. Sementara itu, siswa kelas besar mulai diarahkan untuk mengolah pengalaman menjadi laporan maupun refleksi. "Menyesuaikan dengan anak juga, kira-kira output-nya bagaimana. Saat disuruh menceritakan kembali, mereka bisa atau tidak. Setelah direfleksi, itu bagaimana," ujarnya.
Salah satu penerapannya terlihat pada siswa kelas IV setelah mengikuti PLS di UAJY. Pengalaman selama kegiatan menjadi bahan pembelajaran Bahasa Indonesia, terutama materi laporan perjalanan dan teks prosedur. Siswa diminta mencatat hal-hal menarik selama perjalanan untuk kemudian diolah menjadi laporan. Mereka juga menuliskan kembali tahapan praktik pengolahan makanan yang dilakukan di kampus.
Baca Juga: Polresta Usut Dugaan Pungli dan Anggota Minta Jatah Makan Pengusaha Kuliner di Alkid Jogja
Untuk siswa kelas besar, hasil pembelajaran diarahkan pada kemampuan merangkum pengalaman dan memikirkan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, siswa kelas kecil dapat menyampaikan hasil belajar melalui gambar, keterangan sederhana, maupun poster.
"Jadi mereka tidak hanya sekadar pergi, terus belajar, lalu sudah hilang. Harus ada output-nya. Apa yang didapat, apa yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," tandasnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita