Naik KRL hingga Membuat Permen Susu, SD Tarakanita Bumijo Hadirkan Pembelajaran di Luar Sekolah

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 13:21 WIB
Siswa SD Tarakanita Bumijo mengikuti pembelajaran luar sekolah praktik membuat permen susu. (Dokumen SD Tarakanita Bumijo)
Siswa SD Tarakanita Bumijo mengikuti pembelajaran luar sekolah praktik membuat permen susu. (Dokumen SD Tarakanita Bumijo)
 

 

JOGJA - SD Tarakanita Bumijo, Kota Jogja, berupaya menyeimbangkan pembelajaran di dalam dan luar kelas melalui program Pembelajaran Luar Sekolah (PLS). 

Kegiatan ini dirancang agar siswa memperoleh pengalaman langsung sekaligus menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SD Tarakanita Bumijo Matheus Saparyanto mengatakan, PLS dilaksanakan satu kali dalam setahun untuk setiap jenjang kelas.

Bentuk kegiatannya disesuaikan dengan materi pembelajaran dan kebutuhan siswa.

Baca Juga: Bursa Transfer Super League Segera Ditutup, Van Gastel Tegaskan Skuad PSIM Jogja Sudah Final

"Tujuannya agar anak-anak betul-betul mendapat pengalaman langsung di luar sekolah. Tidak hanya belajar teori di lingkup sekolah saja," ujarnya pada Radar Jogja, Jumat (18/9/2026).

Pelaksanaan PLS untuk kelas II hingga VI berlangsung pada semester pertama.

Sementara itu, siswa kelas I mengikuti kegiatan pada semester kedua untuk memberi waktu penyesuaian di lingkungan sekolah.

Kegiatan berlangsung selama satu hari dan dapat melebihi jam sekolah, hingga sekitar pukul 15.00.

Setiap jenjang memiliki lokasi dan aktivitas pembelajaran berbeda.

Baca Juga: Timnas Indonesia Panggil 23 Pemain untuk FIFA ASEAN Cup 2026, Ada Emil Audero hingga Ole Romeny

Guru SD Tarakanita Bumijo saat mengikuti pembelajaran luar sekolah. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
Guru SD Tarakanita Bumijo saat mengikuti pembelajaran luar sekolah. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
 

Siswa kelas II, misalnya, mengikuti kegiatan di Solo dengan mengunjungi sejumlah tempat, termasuk Museum Radya Pustaka dan Gedung Sriwedari.

Selain mengenal sejarah dan budaya, mereka mendapat pengalaman menggunakan KRL dan bus tingkat.

Siswa juga diperkenalkan dengan tata cara menggunakan transportasi umum serta aturan ketika berada di ruang publik.

Sementara itu, siswa kelas IV mengunjungi Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FTB UAJY) untuk mempelajari teknologi pangan sederhana.

Kegiatan tersebut berangkat dari materi kokurikuler yang dikaitkan dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), khususnya perubahan wujud benda.

Baca Juga: Carrick Klaim Sebuah Hal yang Konyol jika Dirinya Berada dalam Tekanan di Manchester United

Salah satu praktik yang pernah dilakukan adalah membuat permen susu.

Melalui kegiatan tersebut, siswa mempelajari proses pengolahan bahan makanan secara langsung.

"Kalau mengolah makanan itu kan ada perubahan wujud. Jadi pembelajaran IPAS dan kokurikulernya kami kaitkan dengan teknologi pangan sederhana," terang Sapar.

Kegiatan PLS juga membawa siswa kelas III ke Desa Wukirsari, Bantul, untuk belajar membatik tulis.

Sementara siswa kelas V mengunjungi Museum Sonobudoyo dan Ibarbo Park, dengan materi mulai dari budaya, sifat cahaya, lingkungan biotik dan abiotik, hingga matematika.

Baca Juga: Arsenal Buka Opsi Pinjamkan Max Dowman, Ada yang Minat?

Adapun siswa kelas VI mengikuti pembelajaran di Desa Wisata Grogol, Seyegan, Sleman.

Mereka mempelajari budaya lokal melalui jemparingan atau panahan tradisional dan wayang suket.

Pemilihan lokasi dan aktivitas PLS mempertimbangkan jenjang pendidikan, materi pembelajaran, serta kemampuan siswa dalam memahami pengalaman yang diperoleh.

Perencanaan kegiatan diserahkan kepada masing-masing paralel kelas dengan melibatkan wali kelas dan guru bidang studi.

Sapar menjelaskan, program disusun satu tahun sebelumnya.

Perencanaan tersebut mencakup penentuan lokasi, rancangan kegiatan, hingga kebutuhan anggaran.

Baca Juga: Cristian Kily Gonzalez: Kita Harus Dengarkan Pendapat Lionel Messi

Lokasi pun tidak bersifat tetap dan dapat disesuaikan berdasarkan evaluasi pelaksanaan sebelumnya.

Dari sisi pembiayaan, anggaran PLS masuk dalam uang kegiatan tahunan siswa.

Sekolah memperhitungkan kebutuhan biaya dan menentukan komponen yang dapat ditanggung melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

"Mana yang bisa di-backup pakai dana BOS, yang tidak itu nanti dibagi jumlah siswa, masuk ke uang kegiatan," jelasnya.

Untuk pendampingan, sekolah melibatkan perwakilan orang tua bagi siswa kelas I dan II yang mengikuti kegiatan di Solo.

Sementara itu, kelas III hingga VI umumnya hanya didampingi guru.

Baca Juga: Lima Wajah Baru Dipanggil untuk Perkuat Prancis saat Zidane akan Pimpin Les Blues di Nations League

Sapar menyebut, respons orang tua terhadap program tersebut sejauh ini cenderung positif.

Dokumentasi kegiatan dibagikan oleh wali kelas melalui grup komunikasi masing-masing kelas agar orang tua dapat mengikuti perkembangan anak.

"Orang tua cukup puas. Kemarin yang ke Solo itu juga orang tua mengatakan anak-anak senang sekali. Setiap kali PLS, wali kelas mengambil dokumentasi, lalu langsung dikirim update di grup kelas," ungkapnya.

Ke depan, sekolah berencana melengkapi PLS dengan kegiatan guru tamu.

Sapar mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti komunikasi dengan Universitas Atma Jaya Yogyakarta melalui penyusunan nota kesepahaman atau MoU.

"Harapan kami bukan selalu anak-anak SD yang ke sana, tetapi mungkin dari pihak sana, entah dosennya, entah mahasiswa, datang ke sekolah untuk menjadi guru tamu," pungkasnya.

Baca Juga: Harry Kane Dinobatkan Sebagai Pemain Tercepat dalam Sejarah yang Mencetak 100 Gol di Bundesliga

Sementara itu, Guru Bahasa Inggris sekaligus anggota Humas SD Tarakanita Bumijo Theresia Vina Indriyani menambahkan, lokasi PLS dipilih berdasarkan keterkaitannya dengan materi pelajaran, seperti IPAS dan seni budaya.

"Anak-anak itu ada proses belajar. Biar lebih riil belajarnya ya dengan PLS ini. Misalnya IPAS, kemudian seni budaya. Temanya nanti menyesuaikan dengan lokasi PLS-nya," jelas Vina.

Menurutnya, kegiatan untuk kelas kecil dirancang lebih sederhana dan dekat dengan keseharian siswa.

Sementara itu, siswa kelas besar mulai diarahkan untuk mengolah pengalaman menjadi laporan maupun refleksi.

"Menyesuaikan dengan anak juga, kira-kira output-nya bagaimana. Saat disuruh menceritakan kembali, mereka bisa atau tidak. Setelah direfleksi, itu bagaimana," katanya.

Baca Juga: PSS Sleman Masih Mencari Formasi Ideal demi Hentikan Tren Buruk di BRI Super League

Salah satu penerapannya terlihat pada siswa kelas IV setelah mengikuti PLS di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Pengalaman selama kegiatan menjadi bahan pembelajaran Bahasa Indonesia, terutama materi laporan perjalanan dan teks prosedur.

Siswa diminta mencatat hal-hal menarik selama perjalanan untuk kemudian diolah menjadi laporan.

Mereka juga menuliskan kembali tahapan praktik pengolahan makanan yang dilakukan di kampus.

Untuk siswa kelas besar, hasil pembelajaran diarahkan pada kemampuan merangkum pengalaman dan memikirkan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Soal Dugaan Pungli Pelaku Usaha Food Truck di Alkid, Wawali Jogja: Pemkot Juga Merasa Malu

Sementara itu, siswa kelas kecil dapat menyampaikan hasil belajar melalui gambar, keterangan sederhana, maupun poster.

"Jadi mereka tidak hanya sekadar pergi, terus belajar, lalu sudah hilang. Harus ada output-nya. Apa yang didapat, apa yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," tandas Vina.

Vina menambahkan, uang kegiatan dibayarkan sekali dalam setahun, biasanya pada Juli, dengan rincian penggunaan yang disampaikan kepada orang tua.

Melalui skema tersebut, tidak ada penarikan tambahan khusus untuk kegiatan selama tahun berjalan.

Dengan pendekatan tersebut, PLS tidak berhenti pada kunjungan ke luar sekolah.

Pengalaman yang diperoleh siswa ditindaklanjuti melalui kegiatan belajar dan refleksi di kelas, sehingga pembelajaran di luar sekolah tetap terhubung dengan proses pendidikan di dalam kelas. (iza)

Editor : Meitika Candra Lantiva
Naik KRL Permen Susu Pembelajaran di Luar Sekolah program Pembelajaran Luar Sekolah (PLS) SD Tarakanita Bumijo