Keterbatasan air saat musim kemarau di Saptosari mendorong tiga siswa MAN 1 Gunungkidul mengembangkan alat penyiram tanaman otomatis. Tak sekadar membuat tanaman bisa disiram tanpa harus dilakukan manual, alat tersebut dirancang untuk mengatur pemberian air sesuai kondisi tanah.
Hasil uji coba awal menunjukkan inovasi tersebut mampu menekan penggunaan air hingga sekitar 50 persen dibandingkan penyiraman biasa. Inovasi itu dikembangkan Jamila Nur Aini, Arum Ika Wahyuni, dan Firman Wahyu Pradana.
Ketiganya bekerja sebagai satu kelompok, mulai dari mengembangkan gagasan, membuat alat hingga melakukan pengujian. Dalam prosesnya, mereka didampingi Faiz Miftarica El Barqy.
Baca Juga: Vienna Botanical Living, Nuansa Taman Eropa di Tengah Kota Medan
Ide pembuatan alat berangkat dari persoalan yang dihadapi masyarakat Saptosari ketika kemarau. Karena di musim kemarau pertanian hampir berhenti total. Masyarakat takut menanam karena keterbatasan akses air. “Ditambah tidak ada sumur bor maupun sumur timba," kata Faiz.
Masyarakat, lanjut dia, selama ini mengandalkan air dari bak penampungan untuk memenuhi kebutuhan pertanian. Persoalan semakin terasa ketika kemarau karena air harus dibeli. Di sisi lain, air yang tersedia juga harus diprioritaskan untuk kebutuhan rumah tangga.
Kondisi tersebut kemudian diterjemahkan para siswa menjadi sebuah sistem penyiraman otomatis. Alat bekerja dengan membaca tingkat kelembapan tanah menggunakan sensor.
Baca Juga: Selesaikan Aduan Warga dan Edukasi Cegah Kebakaran, Tiga Pilar Wirogunan Jogja Sambang Lingkungan
Ketika kondisi tanah sudah membutuhkan air, sistem akan mengaktifkan penyiraman. "Alat ini diciptakan untuk mengefisiensi penggunaan air, jadi air bisa menyiram sendiri saat air itu sudah kritis," jelasnya.
Menurut Faiz, penggunaan sensor kelembapan sebenarnya bukan hal baru dalam teknologi pertanian. Karena itu, siswa mencoba mengembangkan sistem dengan menambahkan fitur lain untuk membuat alat lebih efisien.
Salah satunya berupa sensor yang dapat tracking posisi matahari. Alat juga dilengkapi sistem deep sleep yang membuat perangkat berhenti menggunakan energi ketika malam hari."Jadi ketika malam alatnya akan tidur, tidak akan menarik energi dari baterai. Akan aktif kembali ketika pagi hari," katanya.
Baca Juga: Polda DIY Bersama Polres Gunungkidul dan BPBD Salurkan 10.000 Liter Air Bersih untuk Warga Patuk
Sistem tersebut dibuat dengan mempertimbangkan kondisi tanaman pada malam hari. Menurut Faiz, kebutuhan air relatif lebih rendah karena penguapan tidak sebesar pada siang hari.
Dalam pengujian awal, alat tersebut dinyatakan berhasil bekerja sesuai rancangan. Penggunaan air juga disebut dapat ditekan hingga sekitar 50 persen dibandingkan penyiraman manual. Meski begitu, pengembangan alat belum berhenti pada uji coba pertama.
Para siswa masih akan melakukan penyempurnaan sebelum alat diarahkan untuk dapat diproduksi secara massal.(pra)
Editor : Heru Pratomo