BANTUL - Berani tampil di depan orang banyak bukan perkara mudah bagi sebagian anak. Namun, Friday Acting Class (FAC) menjawab tantangan tersebut. Sebab ruang belajar seni teater di sini tidak hanya membekali anak dengan kemampuan seni peran, tetapi juga menanamkan kepercayaan diri, kedisiplinan, kemampuan public speaking, dan pendidikan karakter sejak dini.
Melalui latihan rutin hingga pementasan, peserta dibiasakan berani tampil, mengambil keputusan, serta menghargai orang lain.
Direktur Artistik FAC Iwan RS mengatakan, kelas akting tersebut sejak awal dirancang sebagai media ekspresi bagi anak. Melalui proses bermain peran, anak diberi ruang untuk mengenali dan mengembangkan potensi dirinya. “Kelas akting itu didirikan karena saya merasa sebagai sebuah kebutuhan untuk media ekspresi anak,” katanya, Jumat (11/9/2026).
Baca Juga: Menuai Kritik, France Football Coret 5 Nama Besar dari Ronaldo hingga Pedri dari Ballon d’Or 2026
Namun, bagi Iwan, membangun kepercayaan diri bukan berarti proses pendidikan selesai. Justru setelah anak mulai percaya diri, pendampingan terhadap pembentukan karakter perlu terus dilakukan. Sebab, rasa percaya diri yang tumbuh tanpa diimbangi kemampuan menghargai orang lain bisa berkembang menjadi persoalan baru. Terlebih ketika anak mulai mendapatkan pengakuan dan eksistensinya meningkat.
Karena itu, FAC berupaya membangun kepercayaan diri sekaligus karakter anak secara beriringan. Kelas juga menjadi ruang pendampingan bagi anak-anak dengan karakter dan kebutuhan berbeda.
"Termasuk anak dengan ADHD maupun anak yang mengalami kesulitan berbicara dan melakukan public speaking, kami dampingi," ujarnya.
Program FAC berlangsung selama enam bulan. Setiap pekan peserta mengikuti latihan membangun keberanian tampil di depan, mengenal disiplin dalam seni peran, bekerja secara kolektif, membangun kemitraan, hingga memahami naskah. "Seluruh proses tersebut diarahkan pada satu output, yaitu pementasan bersama,” jelasnya.
Baca Juga: Nyai Husnul Khotimah Warsun, Potret Kepemimpinan Perempuan di Pesantren
Naskah disiapkan oleh tim FAC, sedangkan anak-anak menjalani proses latihan dan pendalaman karakter sesuai peran yang diberikan. Ketika pementasan semakin dekat, intensitasnya meningkat menjadi dua kali dalam sepekan. Bahkan, memasuki H-7 pementasan, latihan bisa dilakukan setiap hari. "Pesertanya berasal dari jenjang TK hingga SMP," tuturnya.
Dia pun melatih kepercayaan diri anak. Saat seorang anak maju ke depan untuk presentasi atau latihan, peserta lain wajib diam dan menyimak. Kebiasaan sederhana itu ditanamkan agar anak memahami keberanian berbicara harus diikuti dengan kemampuan mendengarkan.
“Saya menekankan disiplin untuk menghargai orang lain,” tegasnya.
Selain itu, FAC menerapkan kurikulum pengajaran dan pemetaan capaian peserta. Setiap anak memiliki target perkembangan. Salah satu target paling dasar adalah anak mampu berani tampil di atas panggung.
Baca Juga: 10 Klub Pegadaian Championship Harus Mulai Musim 2026/2027 dengan Poin Minus
Tidak semua peserta langsung mampu melakukannya. Ada yang sempat ingin mundur karena takut tampil. Namun, melalui latihan yang berulang, rasa takut tersebut perlahan dihadapi.
Pendekatan kepada anak pun tidak hanya mengandalkan ketegasan. Suasana kelas terlebih dahulu dibuat menyenangkan agar anak merasa nyaman. Setelah hati anak didapat, barulah disiplin dan target pembelajaran diterapkan. “Kerja kolektif itu memang agak militer. Kalau tidak, agak susah kerja kolektif itu dengan hanya memakai kelembutan," terangnya.
Bagi Iwan, keberanian bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Keberanian dibentuk melalui kebiasaan mengambil keputusan. Hal tersebut yang ingin ditanamkan kepada anak melalui seni peran. Di atas panggung, anak dituntut mengambil keputusan sendiri selama pementasan. Mereka harus menjalankan peran, merespons situasi, serta berkomunikasi dengan pemain lain.
Dari keberanian tersebut, diharapkan muncul kemampuan lain. Anak menjadi lebih mandiri dalam berpikir, berani menyampaikan pendapat, memiliki prinsip, hingga berkembang secara kreatif.
Baca Juga: Bukit Gundaling Berastagi, Menikmati Sejuknya Udara Dataran Tinggi dan Keindahan Alam Tanah Karo
Hasil pembinaan FAC juga mulai terlihat melalui prestasi peserta di berbagai kompetisi. Dalam kurun waktu setahun, enam anak tercatat berhasil meraih prestasi hingga tingkat nasional. Prestasi tersebut di antaranya diraih melalui Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS2N). Salah satu peserta kelas nonreguler bahkan berhasil menjadi juara pertama FLS2N tingkat Bantul dan melaju ke tingkat nasional.
“Pokoknya saya sudah menghasilkan sampai hari ini ada enam yang berprestasi di kelas nasional,” bebernya.
FAC telah berjalan sekitar satu tahun dengan sistem pembelajaran enam bulanan. Setelah satu periode berakhir, kelompok dapat dibubarkan. Peserta yang ingin melanjutkan akan mengikuti periode berikutnya.
Kegiatan latihan salah satunya berlangsung di Balai Budaya Karangkitri, Panggungharjo, Sewon. Tempat tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk menjalani latihan rutin hingga persiapan pementasan.
Baca Juga: Mikie Funland Berastagi, Tempat Bermain dan Menantang Keberanian di Tengah Sejuknya Dataran Tinggi
Ke depan, Iwan berharap FAC dapat terus menjadi ruang yang mengakomodasi tumbuh kembang kreativitas anak. Sebab, seni peran memiliki cakupan yang luas dan dapat menjadi bekal anak dalam kehidupan sehari-hari.
"Tidak hanya ditujukan bagi anak yang ingin menjadi aktor. Kemampuan yang dikembangkan juga mencakup public speaking, MC, teater, akting kamera, hingga film," tambahnya. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita