Diterima dengan Baik di Kampus Islam, Kisah Suster Sebastiana Bukti Toleransi Nyata di Yogyakarta

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 11:47 WIB
Sebastiana Bwarleling tampil berbeda. Perempuan asal Kepulauan Tanimbar, Maluku, itu mengenakan pakaian biarawati lengkap di Universitas
Sebastiana Bwarleling tampil berbeda. Perempuan asal Kepulauan Tanimbar, Maluku, itu mengenakan pakaian biarawati lengkap di Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Kamis (10/9/2026).

 YOGYAKARTA – Di antara ribuan mahasiswa baru yang memadati kampus Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, sosok Sebastiana Bwarleling tampil berbeda. Perempuan asal Kepulauan Tanimbar, Maluku, itu mengenakan pakaian biarawati lengkap. Ia bukan mahasiswa biasa, melainkan seorang suster Katolik yang memilih menempuh pendidikan di kampus berbasis Islam tersebut. Kehadirannya menjadi cermin nyata bahwa Unisa Yogyakarta benar-benar membuka pintu bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang agama.

Sebastiana merupakan anggota Kongregasi Suster-Suster Dina Santo Yoseph (DSY) Manado. Ia resmi menjadi mahasiswa baru Program Studi D3 Radiologi Unisa Yogyakarta tahun ajaran 2026/2027. Keputusan ini bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan bagian dari pengabdiannya kepada kongregasi dan masyarakat.

Saat ini, Sebastiana tinggal di Biara DSY Pringgolayan, Gejayan, Yogyakarta. Ia telah berada di kota pelajar ini selama sekitar tiga bulan untuk mempersiapkan masa studinya. Baginya, Yogyakarta bukan tempat yang asing, namun tetap saja ada rasa haru ketika harus memulai babak baru dalam hidupnya.

Alasan memilih Unisa Yogyakarta diungkapkannya dengan lugas. "Saya memilih kuliah di Unisa Yogyakarta karena pertama, di bidang pendidikan kesehatan itu unggul. Yang kedua, sarana prasarana yang sangat memadai. Karena mengambil jurusan radiologi, dan sebelum itu saya sudah mencari tempat di Jogja dan Unisa Yogyakarta punya fasilitas yang sangat memadai untuk mengembangkan minat dan bakat," ujar Sebastiana saat pembukaan Masa Ta'aruf (Mataf) Unisa Yogyakarta, Kamis (10/9/2026).

Namun, ada alasan yang lebih menyentuh hati. Sebastiana mengaku mendapat mandat langsung dari pimpinan Kongregasi DSY yang berpusat di Manado. Ia diutus untuk menimba ilmu demi mengembangkan layanan kesehatan di Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate, Maluku Utara, yang dikelola kongregasinya. "Memilih jurusan itu bukan pilihan saya, tetapi karena kebutuhan Kongregasi kami. Di rumah sakit kami diwajibkan untuk setiap unit itu harus dipegang oleh para suster. Di apoteker dan lain-lain sudah ada, tapi di radiologi belum ada," jelasnya.

Baca Juga: Hari Pertama Kembali Sekolah, Seorang Anak di Gaza Tewas dalam Serangan Drone Israel

Yang membuat hatinya semakin yakin, Unisa Yogyakarta menerimanya dengan tangan terbuka. "Saya memilih Unisa Yogyakarta juga karena mempunyai iman yang lebih dan bertoleransi tinggi di tempat ini. Dan juga terbuka bagi siapa saja, terlebih khusus bagi saya seorang biarawati juga diterima dengan baik di tempat ini," katanya dengan mata berbinar.

Meski datang dari latar belakang keagamaan yang berbeda, Sebastiana mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam beradaptasi. Pengalaman bekerja di rumah sakit di Ternate telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang mudah bergaul. "Kalau saya pribadi mau bersosialisasi sudah terbiasa. Di Ternate, kami punya mayoritas karyawannya masih dibilang 90 persen Islam. Jadi untuk mau beradaptasi atau mau bersosialisasi dengan yang lain saya sudah terbiasa," ungkapnya.

Tantangan yang dirasakannya justru lebih berkaitan dengan perbedaan usia. Sebagai seorang biarawati yang telah bergabung dalam kongregasi sejak 2015, ia sempat merasa canggung ketika harus berbaur dengan teman-teman yang sebagian besar baru lulus SMA. "Pas mulai dari pra Mataf, itu kelompok baru bagi saya, semua masih mau dibilang adik-adik yang baru tamat SMA. Kalau saya kan masuk biara sudah dari 2015, jadi untuk membuat dengan teman-teman ini sebenarnya rasa canggung ada. Tapi karena teman-teman yang lain juga menerima saya dengan baik, kami membangun komunitas seperti kelompok saya dari Khafilah 37," tuturnya.

Pendidikan Sebastiana di Unisa Yogyakarta sepenuhnya ditanggung oleh Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate. Ia berharap dapat segera kembali ke Ternate setelah menyelesaikan studi untuk mengembangkan layanan radiologi di rumah sakit tersebut. "Jadi saya diutus untuk berkuliah radiologi untuk bisa kembali mengembangkan rumah sakit kami yang ada di Ternate," katanya.

Baca Juga: Bukan Ballon d'Or, Kylian Mbappe Ingin Juara Liga Champions bersama Real Madrid

Kehadiran Sebastiana menjadi bagian dari keberagaman mahasiswa baru Unisa Yogyakarta tahun akademik 2026. Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti, menyampaikan bahwa dari 14.872 pendaftar, sebanyak 2.878 mahasiswa baru diterima. Mereka berasal dari berbagai latar belakang daerah, budaya, dan agama. Pada tahun ini, Unisa Yogyakarta mencatat terdapat puluhan mahasiswa non-Muslim yang berasal dari kalangan Hindu, Katolik, dan Kristen. Para mahasiswa baru juga berasal dari 34 provinsi di Indonesia serta empat negara, yakni Palestina, Timor Leste, Nigeria, dan Thailand.

Dari total mahasiswa baru tersebut, sebanyak 2.326 merupakan perempuan dan 504 laki-laki. Mereka tersebar pada berbagai jenjang dan jalur pendidikan, mulai dari Diploma dan Sarjana, Pascasarjana, Profesi, hingga Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Unisa Yogyakarta juga menyalurkan dana beasiswa sebesar Rp18,3 miliar kepada 596 mahasiswa. Warsiti menegaskan, keberagaman yang ada di Unisa Yogyakarta merupakan kekayaan yang perlu dijaga dan dikembangkan bersama.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) 'Aisyiyah, Salmah Orbayinah, mengatakan Mataf Unisa Yogyakarta bukan sekadar momentum bagi mahasiswa baru untuk saling mengenal. Mataf juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenali dan mengembangkan potensi yang dimiliki. "Jadi selain kalian akan menempuh ilmu yang kalian minati di Unisa Yogyakarta, tentunya potensi yang kalian punya itu juga akan dikembangkan di Unisa Yogyakarta melalui berbagai macam program-program yang ada. Jangan sampai ada yang tertinggal. No one left behind," ujar Salmah.

Bagi Sebastiana, harapannya sederhana namun mendalam. Ia berdoa agar Unisa Yogyakarta terus mempertahankan dan mengembangkan lingkungan pendidikan yang terbuka terhadap keberagaman. "Harapan saya semoga hal baik yang telah dikembangkan oleh universitas bisa ke depannya dikembangkan lebih baik lagi. Walaupun saya dari agama lain, tetapi saya merasa bahwa tempat ini mempunyai toleransi yang tinggi," pungkasnya. Kisah Sebastiana menjadi bukti bahwa ilmu dan kebaikan tak pernah memandang perbedaan.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Biarawati kuliah di Unisa Yogyakarta Sebastiana Bwarleling kampus inklusif Yogyakarta D3 Radiologi Unisa toleransi beragama