SLEMAN - Dunia kerja sedang tidak baik-baik saja. Gelombang kecerdasan buatan (AI) yang datang begitu cepat perlahan namun pasti mulai menggerus berbagai sektor pekerjaan manusia. Keahlian teknis yang hari ini dibanggakan bisa saja tak lagi bernilai dalam beberapa tahun mendatang.
Peringatan menohok ini disampaikan langsung oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si usai Dies Natalis dan Wisuda Sarjana Terapan Poltek Nuklir di Sleman (9/9/2026).
Ia menyoroti betapa cepatnya masa kadaluarsa sebuah keahlian di era digital. Dalam kurun waktu lima tahun ke depan, relevansi keterampilan yang dimiliki pekerja diperkirakan menyusut drastis hingga tersisa 50 sampai 60 persen saja.
Kondisi tersebut menjadi alarm keras bagi ekosistem pendidikan dan industri nasional. Jika tidak ada langkah nyata, generasi muda Indonesia berisiko tergilas oleh efisiensi mesin cerdas. Menghadapi ancaman ini, Arif Satria menekankan krusialnya memiliki mentalitas sebagai pembelajar yang lincah atau agile learner.
Kunci ketahanan di era AI bukan lagi seberapa banyak teori yang dihafal, melainkan seberapa cepat seseorang mampu belajar hal baru dan beradaptasi. Sistem pendidikan nasional dituntut tak sekadar mencetak lulusan bergelar, tetapi melahirkan manusia-manusia tangguh yang haus akan pembaruan pengetahuan.
Baca Juga: Mirwan Suwarso Tak akan Duduk di Kursi VIP saat Como Lakoni Debut Bersejarah di Liga Champions
Di sisi lain, BRIN tidak hanya berfokus pada penguatan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga tancap gas memacu riset strategis. Salah satu fokus utamanya adalah pemanfaatan teknologi ketenaganukliran untuk tiga sektor vital bangsa: kesehatan, pangan, dan energi masa depan.
Terkait desas-desus lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), BRIN menegaskan sejauh ini belum ada keputusan resmi penempatannya. Khusus di wilayah Yogyakarta, fasilitas laboratorium reaktor yang ada terus dioptimalkan sebagai pusat pembelajaran dan peningkatan kompetensi para peneliti.
Langkah nyata merespons tantangan zaman ini langsung disambut oleh Politeknik Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir). Institusi pendidikan tinggi ini mengambil langkah berani dengan merombak total kurikulum agar tetap relevan dengan kebutuhan industri masa depan.
Plt Direktur Poltek Nuklir, Dr. Eng. Zainal Arief, S.T., M.T., menjelaskan bahwa pembaruan kerangka pengetahuan (body of knowledge) merupakan harga mati. Tiga program studi unggulan kini ditata ulang untuk menyasar peminatan strategis yang sangat dibutuhkan negara.
Baca Juga: BRI Multiguna Pre-Approved, Solusi Pembiayaan bagi Nasabah Terpilih untuk Berbagai Kebutuhan
Peminatan baru tersebut mencakup pengembangan energi nuklir, analisis radiasi industri, hingga instrumen medis berbasis nuklir. Tak ketinggalan, penguasaan teknologi akselerator serta produksi radioisotop dan radiofarmaka turut digenjot demi mewujudkan kemandirian kesehatan nasional.
Guna mencetak SDM yang siap tempur, Poltek Nuklir menerapkan pendekatan transformative learning. Mahasiswa digembleng melalui special project atau tugas proyek khusus berbasis tim yang mengasah pemikiran kritis, kemampuan komunikasi, serta kepekaan sosial dalam memecahkan masalah nyata.
Proses belajar ini juga menyasar pada aspek edukasi publik untuk mengikis stigma negatif soal nuklir. Mahasiswa diajak aktif merancang media edukasi interaktif yang mudah dipahami masyarakat luas, membuktikan bahwa nuklir sejatinya aman dan bermanfaat.
Salah satu karya konkretnya adalah pembuatan prototipe alat peraga PLTN berbasis visual yang siap dihibahkan kepada Pemerintah Provinsi DIY. Rencananya, karya inovatif mahasiswa ini bakal dipajang di Taman Pintar Yogyakarta sebagai sarana edukasi publik mengenai potensi besar energi nuklir bagi masa depan Indonesia.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja