Pemkot Magelang Dorong Transisi PAUD yang Lebih Ramah Anak, Masuk SD Tak Lagi Cukup Bisa Calistung

Naila Nihayah • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 05:06 WIB
SERU: Anak-anak PAUD mengikuti kegiatan bertajuk "Ayo Membatik" di MAJT An-Nuur Kabupaten Magelang, kemarin (2/10).
SERU: Anak-anak PAUD mengikuti kegiatan bertajuk "Ayo Membatik" di MAJT An-Nuur Kabupaten Magelang, kemarin (2/10).

 

 

MAGELANG - Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) tidak lagi cukup dijadikan ukuran utama kesiapan anak memasuki sekolah dasar (SD). Pemkot pun mendorong masa transisi dari PAUD ke SD berlangsung bertahap dengan memperhatikan kemampuan sosial, emosional, komunikasi, hingga kemandirian anak.

 

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menuturkan, perpindahan dari PAUD ke SD seharusnya tidak dipandang sebagai pergantian jenjang pendidikan semata. Masa tersebut merupakan bagian dari proses pendidikan yang berkelanjutan dan perlu dipersiapkan sejak anak berada di usia dini.

 

"Anak juga perlu siap berinteraksi dengan lingkungan baru, mampu berkomunikasi dan bekerja sama, mengelola emosi, menyelesaikan masalah sederhana," kata Damar di Gedung Wanita, Selasa (1/9).

Baca Juga: Tak Hanya Fokus Bisnis Konsultan, Lidana Erfiandri Ingin Kembangkan Laboratorium PT SMB

 

Menurut Damar, penekanan berlebihan terhadap kemampuan akademik pada usia dini justru dapat mengabaikan kebutuhan dasar anak dalam beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru. Karena itu, kesiapan belajar perlu dipahami secara lebih utuh.

 

Damar menilai, satu tahun pendidikan di PAUD juga tidak semestinya dianggap sebagai tambahan waktu sebelum anak bersekolah. PAUD merupakan tahapan yang memberikan bekal dasar bagi anak untuk melanjutkan proses pendidikan ke jenjang berikutnya.

 

"Perpindahan anak dari PAUD ke SD bukan sekadar pergantian jenjang pendidikan, melainkan proses berkelanjutan yang harus dipersiapkan sejak usia dini," paparnya.

 Baca Juga: Penyerang PSIM Adrian Dalmau Ungkap Karakternya; Tajam di Kotak Penalti, Andalkan Sentuhan Pertama

Pandangan tersebut berkaitan dengan arah kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun. Pemkot pun mendorong agar kesinambungan pendidikan tidak berhenti pada persoalan administrasi penerimaan siswa baru, tetapi juga terlihat dalam cara satuan pendidikan memahami perkembangan anak.

 

Transisi yang baik, menurut Damar, membutuhkan komunikasi antara guru PAUD dan guru SD. Informasi mengenai perkembangan anak selama berada di PAUD perlu menjadi bagian dari pertimbangan ketika anak memasuki kelas awal SD.

 

Guru PAUD dan guru SD kelas awal juga diminta membangun komunikasi agar proses adaptasi anak tidak dimulai dari nol. Di sisi lain, orang tua perlu dilibatkan karena keberhasilan transisi tidak hanya ditentukan oleh sekolah.

 Baca Juga: Bukan Sekadar Usia, 3 Kebiasaan Modern Ini Disebut Bisa Mempercepat Penuaan Tubuh

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Nurwiyono Slamet Nugroho mengatakan, keterlibatan berbagai unsur tersebut diperlukan karena masa transisi anak tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah.

 

"Keluarga memiliki peran dalam menyiapkan anak, sedangkan guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang membantu anak beradaptasi dengan perubahan dari PAUD ke SD," bebernya.

 

Di Kota Magelang, terdapat 125 satuan PAUD dan 60 TK. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya ekosistem pendidikan anak usia dini yang perlu disiapkan agar memiliki pemahaman yang sama mengenai proses transisi menuju SD. (aya)

Editor : Heru Pratomo
masuk sd dAMAR PRASETYONO Pemkot Magelang calistung paud