Atasi Stagnasi Keilmuan, Para Guru Sosiologi di Jogja Dibekali Cara Membaca Perubahan Habit Siswa

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 21:34 WIB
Para guru Sosiologi di kota Jogja mengikuti sesi workshop dan diskusi untuk memperkuat pembelajaran Sosiologi yang kontekstual. Dokumen pribadi narasumber
Para guru Sosiologi di kota Jogja mengikuti sesi workshop dan diskusi untuk memperkuat pembelajaran Sosiologi yang kontekstual. Dokumen pribadi narasumber

JOGJA - Perubahan sosial yang berlangsung cepat membuat para guru dituntut tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga terus memperbarui perspektif keilmuannya.

Fenomena yang dihadapi siswa saat ini dinilai semakin jauh berbeda dibandingkan contoh-contoh sosial yang selama ini digunakan di ruang kelas.

Kondisi itu menjadi perhatian dalam pendampingan kolaboratif yang melibatkan Departemen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi Kota Jogja.

Kegiatan pendampingan ini merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi tahun 2026.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Suratini Yang Berhasil Kenalkan Umbi-umbian lewat Konten Uniknya

Sesi pertama program bertajuk Pendampingan Kolaboratif bagi Guru untuk Mengatasi Stagnasi Keilmuan dan Dekontekstualisasi Pembelajaran tersebut telah digelar di Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNY. Sebanyak 51 guru Sosiologi yang tergabung dalam MGMP Sosiologi Kota Jogja mengikuti kegiatan tersebut.

Tim pengabdi dari Departemen Pendidikan Sosiologi UNY Grendi Hendrastomo mengatakan, bahwa percepatan perubahan masyarakat membuat pembelajaran Sosiologi juga harus terus beradaptasi. Menurutnya, guru tidak cukup hanya mengandalkan contoh-contoh sosial yang sudah lama digunakan dalam pembelajaran.

"Sosiologi itu ilmu yang sangat dekat dengan perubahan masyarakat. Karena itu, ketika realitas sosial terus berubah, pembelajaran Sosiologi juga tidak bisa berhenti pada contoh-contoh lama," kata Grendi, Jumat (21/8/2026).

Baca Juga: Bantul Kukuhkan Mulyodadi sebagai Kampung Siaga Bencana ke-16, Siapkan 60 Relawan Hadapi Banjir

Dia menilai pembaruan perspektif menjadi penting agar konsep yang diberikan kepada siswa tetap relevan untuk membaca persoalan sosial yang mereka temui sehari-hari.

"Guru perlu terus memperbarui perspektif teoretis yang dipelajari oleh siswa agar benar-benar sesuai untuk membaca realitas sosial saat ini," lanjutnya.

Para peserta sendiri diajak membahas tema Mengajar Sosiologi di Era Konvergensi: Kontekstualisasi Habitus Sosial dalam Pembelajaran Sosiologi. Materi tersebut disampaikan oleh Heru Nugroho dari Departemen Sosiologi UGM.

Heru mengajak para guru melihat perubahan habitus sosial siswa yang berlangsung seiring perkembangan teknologi, media, serta lingkungan sosial. Perubahan tersebut, menurutnya, perlu masuk ke dalam proses pembelajaran agar teori Sosiologi tidak berhenti sebagai konsep abstrak.

Baca Juga: Belum Kantongi Izin, Pembangunan Tower Telekomunikasi di Kemadang Dihentikan

"Tantangan mengajar Sosiologi saat ini bukan hanya bagaimana menjelaskan teori, tetapi bagaimana membuat teori tersebut hidup dan mampu menjelaskan pengalaman sosial siswa,"  ujar Heru.

Dia menambahkan, perubahan teknologi dan media turut memengaruhi cara siswa berinteraksi serta memahami lingkungan sosialnya. Karena itu, guru perlu menjembatani konsep-konsep Sosiologi dengan pengalaman yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

"Habit mereka berubah seiring perkembangan teknologi, media, dan lingkungan sosial. Karena itu, pembelajaran Sosiologi harus terus dikontekstualisasikan," katanya.

Baca Juga: Yogyakarta Dibidik Jadi Pasar Strategis Wisata Kesehatan Malaysia, Ini Pertimbangannya!

Pendampingan tersebut tidak diarahkan sebatas penyampaian materi. Peserta juga dilibatkan dalam diskusi untuk merumuskan strategi pembelajaran yang lebih kontekstual dan kritis.

Grendi mengatakan pola pendampingan sengaja dirancang berkelanjutan agar hasil kegiatan tidak berhenti setelah sesi pertama selesai. Guru nantinya diminta mencoba menerapkan pengetahuan yang diperoleh, mengembangkan media pembelajaran, kemudian merefleksikan praktik tersebut.

"Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti pada pemberian materi. Guru perlu diberi ruang untuk mencoba, mendiskusikan, menghasilkan media pembelajaran, kemudian merefleksikan kembali praktik tersebut," jelasnya.

Baca Juga: Diduga Henti Jantung, Seniman Ketoprak Meninggal Dunia saat Pentas di Panggung

Sebagai tindak lanjut, para guru mendapat penugasan mandiri untuk mengidentifikasi realitas sosial di sekitar siswa. Fenomena tersebut kemudian dideskripsikan menggunakan perspektif teori Sosiologi sekaligus diterjemahkan menjadi rancangan aktivitas pembelajaran.

Hasil penugasan itu akan menjadi bahan untuk sesi berikutnya yang berfokus pada kontekstualisasi teori melalui kreasi media visual berupa komik Sosiologi.

Rangkaian program selanjutnya ditutup melalui Showcase Media Pembelajaran yang melibatkan anggota MGMP Sosiologi Kota Jogja, mahasiswa, serta siswa SMA di Jogja.

Melalui tahapan tersebut, pendampingan diharapkan tidak hanya memperbarui pengetahuan guru, tetapi juga mendorong lahirnya praktik pembelajaran Sosiologi yang lebih dekat dengan realitas sosial siswa. (iza)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
habit siswa guru sosiologi Stagnasi Keilmuan materi pembelajaran