Dosen UAJY Raih Hibah BRIN, Kembangkan Wisata Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

Bahana. • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 14:46 WIB
Dosen UAJY Raih Hibah BRIN
Dosen UAJY Raih Hibah BRIN

YOGYAKARTA – Upaya menciptakan destinasi wisata yang ramah bagi penyandang disabilitas terus dikembangkan. Salah satunya dilakukan dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Desideria Cempaka Wijaya M., S.Sos., M.A., Ph.D., bersama tim multidisipliner yang berhasil memperoleh hibah Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi Gelombang 11 dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hibah tersebut akan dimanfaatkan untuk mengembangkan konsep wisata inklusif bagi wisatawan dengan disabilitas, khususnya di kawasan kampung wisata budaya Yogyakarta.

Dalam proyek tersebut, Desideria tidak bekerja sendiri. Tim peneliti melibatkan I Nyoman Apraz Ramatryana, Ph.D. dari Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Gilang Ahmad Fauzi, S.S., MDS., M.Sc. dari Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta, serta Mutiara Cininta, S.T., M.Arch. dari Fakultas Teknik UAJY.

Penelitian yang mereka lakukan mengusung judul “Rancang Bangun Multimedia dan Multisensory Guidebook Inklusif untuk Turis Disabilitas di Kampung Wisata Budaya Yogyakarta”.

Baca Juga: Pemerintah Tanggapi 8 Tuntutan Mahasiswa Demo BEM UI: Semua Saran dan Masukan Akan Didengar 

Riset tersebut dirancang berlangsung selama dua tahun dan dijadwalkan mulai setelah penandatanganan kontrak pada September 2026.

Fokus di Tiga Kampung Wisata Kotagede

Penelitian akan mengambil lokasi di tiga kampung wisata yang berada di kawasan Kotagede. Tim akan merancang panduan wisata berbasis multimedia dan multisensori untuk membantu wisatawan dengan berbagai kebutuhan disabilitas menikmati destinasi secara lebih nyaman.

Desideria mengatakan, riset tersebut secara khusus memperhatikan kebutuhan wisatawan dengan disabilitas netra, tuli, maupun pengguna kursi roda.

“Di sini, kami akan lebih banyak memperhatikan turis disabilitas netra, tuli, dan juga wheelchair,” ujar Desideria.

Menurutnya, pendekatan lintas disiplin menjadi hal penting karena pembangunan wisata inklusif tidak hanya berkaitan dengan akses fisik. Kenyamanan pengunjung, desain arsitektur, teknologi, hingga aspek pariwisata perlu dipadukan agar fasilitas yang dihasilkan benar-benar dapat digunakan.

“Modeling gambarnya itu dibuat oleh orang-orang arsitek, tapi teknologinya dibuat oleh orang dari teknik elektro, dan ada dari aspek pariwisata juga,” jelasnya.

Manfaatkan Teknologi dan Pengalaman Multisensori

Konsep yang dikembangkan tim tidak hanya berorientasi pada penyediaan fasilitas fisik. Pengalaman wisata juga akan dirancang agar dapat dinikmati melalui berbagai indera.

Desideria menjelaskan, setiap orang memiliki cara berbeda dalam memahami dan menikmati sebuah ruang. Karena itu, destinasi wisata perlu memberikan pengalaman yang tidak hanya mengandalkan kemampuan melihat.

Wisatawan tunanetra, misalnya, dapat memperoleh pengalaman melalui sentuhan atau informasi berbasis suara. Sementara wisatawan tuli dapat memperoleh dukungan melalui penerjemah bahasa isyarat.

Baca Juga: Menjadi Urat Nadi Digital Dunia, Inilah Fakta Menarik Kabel Bawah Laut!

Bagi pengguna kursi roda, teknologi seperti augmented reality (AR) maupun virtual reality (VR) dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan representasi bangunan atau objek wisata yang sulit dijangkau secara langsung.

“Karena sensory experience bagi disabilitas itu adalah survival, maka sensory mereka jauh lebih tajam,” ungkap Desideria.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat pengalaman wisata menjadi lebih setara. Penyandang disabilitas tidak hanya ditempatkan sebagai penerima fasilitas tambahan, tetapi juga menjadi bagian dari perencanaan pengalaman wisata.

Diharapkan Jadi Model Wisata Inklusif

Desideria berharap penelitian yang didukung hibah BRIN tersebut tidak berhenti pada tahap riset. Hasil pengembangan nantinya diharapkan dapat diterapkan secara nyata dan menjadi contoh bagi destinasi wisata lainnya.

Menurutnya, pengembangan wisata inklusif dapat membuka akses yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk menikmati kekayaan budaya dan destinasi wisata Yogyakarta.

Dengan memadukan teknologi, arsitektur, pariwisata, serta pendekatan multisensori, penelitian tersebut diharapkan menghasilkan model yang dapat direplikasi di kawasan wisata lain.

Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah untuk mendorong sektor pariwisata Yogyakarta agar semakin terbuka dan dapat dinikmati oleh masyarakat dengan beragam kondisi dan kebutuhan.

 

Editor : Bahana.
BRIN Wisata Inklusif Disabilitas kotagede UAJY