GRES Hadir di SMAN 1 Tempel, Dorong Siswa dan Guru Ubah Limbah Plastik Jadi Sumber Daya

Bahana. • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 14:05 WIB
Workshop bertema Pengolahan dan Pemanfaatan Kembali Limbah Plastik untuk Mendukung Sekolah Berkelanjutan yang digelar di SMAN 1 Tempel, Sleman.
Workshop bertema Pengolahan dan Pemanfaatan Kembali Limbah Plastik untuk Mendukung Sekolah Berkelanjutan yang digelar di SMAN 1 Tempel, Sleman.

SLEMAN – Upaya membangun budaya sekolah yang peduli lingkungan terus dikembangkan di SMAN 1 Tempel, Sleman. Salah satunya melalui program GRES (Greenzyme Resource–Environment System) yang mengintegrasikan pengelolaan limbah dengan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan atau Education for Sustainable Development (ESD).

Program tersebut diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “GRES (Greenzyme Resource Environment System): Teknologi Pengolahan Limbah Terpadu untuk Penguatan Education for Sustainable Development di SMAN 1 Tempel Sleman.”

Kegiatan berlangsung di SMAN 1 Tempel, Rabu (12/8/2026), pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Workshop mengangkat tema “Pengolahan dan Pemanfaatan Kembali Limbah Plastik untuk Mendukung Sekolah Berkelanjutan.”

Sebanyak 65 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas 40 guru dan 25 siswa penggerak Adiwiyata.

Baca Juga: Ortu Korban Daycare Little Aresha Bentangkan Banner di PN Jogja, Tuntut 4 Pejabat Diproses Hukum

Kegiatan menghadirkan Dr. Ratri Retno Utami, STP., MT., dosen Politeknik ATK Yogyakarta sekaligus peneliti Kementerian Perindustrian, sebagai pembicara.

Program tersebut juga didukung tim pengabdi yang terdiri atas Siti Kholifah, S.Si., M.Pd., Yunilia Nur Pratiwi, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Rahmania Pamungkas, M.Pd.

Limbah Plastik Tak Lagi Dipandang Sebagai Sampah

Workshop tidak hanya mengajak peserta memahami dampak limbah plastik terhadap lingkungan. Peserta juga diperkenalkan pada potensi limbah sebagai material yang masih dapat dimanfaatkan.

Setidaknya ada tiga pengalaman utama yang diberikan dalam kegiatan tersebut. Peserta diajak mengenali jenis dan potensi limbah plastik, mempelajari teknik pengolahannya, serta mengembangkan limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna.

Pendekatan ini menempatkan persoalan lingkungan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Limbah tidak lagi hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi dapat dikelola melalui prinsip reduce, reuse, dan recycle.

Dengan demikian, kegiatan pengolahan limbah dapat menjadi pembelajaran kontekstual yang mempertemukan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Tim pelaksana program GRES di di SMAN 1 Tempel, Sleman.
Tim pelaksana program GRES di di SMAN 1 Tempel, Sleman.

Siswa Adiwiyata Jadi Penggerak

Keterlibatan siswa penggerak Adiwiyata menjadi bagian penting dalam program GRES. Mereka tidak hanya berperan sebagai peserta workshop, tetapi diharapkan menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah.

Pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat diteruskan kepada siswa lainnya. Dengan cara tersebut, kebiasaan memilah, mengurangi, mengolah, dan memanfaatkan kembali limbah dapat berkembang menjadi budaya bersama.

Salah seorang siswa penggerak Adiwiyata mengaku mendapat perspektif baru mengenai pengelolaan sampah plastik.

Baca Juga: Sidang Praperadilan Reno Candra Sangaji Ungkap Aliran Uang Kompensasi TKD Tanpa Izin Sejumlah Rp 1,3

“Kegiatan ini membuat saya lebih sadar untuk memilah dan mengurangi sampah plastik. Sebagai siswa penggerak Adiwiyata, saya ingin mengajak teman-teman lain untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekolah,” uajrnya.

Keterlibatan guru juga menjadi bagian strategis. Pengetahuan mengenai pengelolaan limbah dapat dikembangkan dan diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran maupun program lingkungan sekolah.

Pengelolaan Limbah Jadi Bagian dari Pembelajaran

Konsep GRES diarahkan untuk menjadikan pengelolaan limbah sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran berkelanjutan.

Melalui pendekatan tersebut, warga sekolah didorong untuk memahami persoalan lingkungan secara utuh. Prosesnya dimulai dari mengenali sumber masalah, mencari alternatif penyelesaian, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, hingga menghasilkan sesuatu yang memiliki manfaat.

Model pembelajaran seperti ini juga dapat mendorong kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Kreativitas serta tanggung jawab terhadap lingkungan turut dibangun melalui pengalaman langsung.

Program tersebut sekaligus memperkuat posisi sekolah sebagai ruang strategis dalam membentuk kebiasaan ramah lingkungan sejak dini.

Dukung SDGs 4 dan SDGs 13

Kegiatan GRES merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi tahun 2026.

Program ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDGs 13 mengenai penanganan perubahan iklim.

Melalui kegiatan tersebut, pengelolaan limbah tidak ditempatkan hanya sebagai persoalan kebersihan sekolah. Lebih jauh, praktik tersebut menjadi sarana pendidikan yang mendorong warga sekolah memahami hubungan antara perilaku sehari-hari dan keberlanjutan lingkungan.

Baca Juga: Pesta HUT Kemerdekaan RI di Tuban Dibatalkan, Bentuk Empati Terhadap Korban Gempa NTT

GRES diharapkan dapat menjadi salah satu langkah konkret untuk membangun budaya sekolah yang lebih peduli terhadap lingkungan. Kolaborasi antara guru dan siswa juga menjadi modal penting agar praktik pengelolaan limbah dapat berlangsung secara kreatif, konsisten, dan berkelanjutan.



Editor : Bahana.
GRES SMAN 1 Tempel Pengelolaan Limbah Plastik Education for Sustainable Development SDGs 13 Sekolah Adiwiyata