PIONIR UGM 2026, Panitia Larang Pengibaran Bendera Identitas Sekolah Asal di Area Kegiatan

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:22 WIB
ILUSTRASI: Sebanyak 11.099 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti Pionir 2026 bertema "Mengukir Jati Diri Gadjah Mada Muda, Berdikari Membangun Bangsa" di Lapangan Pancasila UGM, Senin (3/8). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
ILUSTRASI: Sebanyak 11.099 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti Pionir 2026 bertema "Mengukir Jati Diri Gadjah Mada Muda, Berdikari Membangun Bangsa" di Lapangan Pancasila UGM, Senin (3/8). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

(SIARAN PERS)

UNIVERSITAS Gadjah Mada menegaskan bahwa tidak ada larangan bagi mahasiswa baru untuk melakukan foto bersama dengan teman-teman dari sekolah asalnya dalam rangkaian penutupan PIONIR Gadjah Mada 2026. 

UGM memahami bahwa kebersamaan dengan teman satu sekolah merupakan bagian dari kegembiraan dan rasa syukur para mahasiswa baru setelah bersama-sama diterima sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Gadjah Mada.

Namun demikian, dalam pelaksanaan PIONIR Gadjah Mada 2026, panitia menerapkan kebijakan untuk tidak memperkenankan pengibaran bendera, spanduk, maupun pelaksanaan yel-yel yang membawa identitas sekolah asal di area kegiatan.

Kebijakan tersebut berlaku bagi seluruh kelompok dan sekolah tanpa terkecuali. Kebijakan ini dilandasi semangat utama PIONIR Gadjah Mada sebagai ruang untuk membangun kebersamaan dan identitas baru bagi para Gamada sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada. 

Setelah memasuki UGM, mahasiswa baru berasal dari beragam sekolah, daerah, suku, budaya, dan latar belakang, kemudian bertemu dan melebur menjadi satu komunitas akademik UGM.

Pada akhir upacara penutupan, banyak kelompok mahasiswa secara bersamaan melakukan foto bersama di lokasi yang sama.

Dalam situasi yang sangat ramai tersebut, pengibaran bendera dan yel-yel yang membawa identitas kelompok tertentu juga berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan maupun gesekan antarkelompok. 

Atas pertimbangan tersebut, panitia meminta agar bendera sekolah yang sempat dikibarkan diturunkan. Tindakan panitia dalam kejadian tersebut tidak dimaksudkan sebagai bentuk represi maupun pelarangan terhadap ekspresi kebanggaan mahasiswa terhadap sekolah asalnya. 

Panitia hanya menjalankan ketentuan kegiatan yang berlaku bagi seluruh peserta untuk menjaga ketertiban, kenyamanan, keamanan, dan semangat kebersamaan selama PIONIR Gadjah Mada 2026.

UGM menghargai kebanggaan setiap mahasiswa terhadap perjalanan dan sekolah yang telah mengantarkan mereka menjadi mahasiswa UGM. Berfoto bersama dan merayakan kebersamaan dengan teman-teman dari sekolah asal tetap dapat dilakukan. Namun, dalam konteks kegiatan resmi PIONIR, ekspresi tersebut diharapkan tetap memperhatikan ketentuan penyelenggaraan serta semangat inklusivitas.

PIONIR Gadjah Mada pada hakikatnya menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk melangkah dari berbagai identitas asal menuju kebersamaan baru. Mereka datang dari sekolah dan daerah yang berbeda-beda, tetapi sejak memasuki Universitas Gadjah Mada, mereka adalah bagian dari keluarga yang sama: Gamada, mahasiswa Universitas Gadjah Mada.

UGM berharap klarifikasi ini dapat memberikan konteks yang utuh atas peristiwa yang terjadi sekaligus menghindari kesalahpahaman di tengah masyarakat.

(Ketua Taskforce Pionir UGM 2026, Mgs. Muhammad Prima Putra) 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Pionir UGM Sma jb Sma de Britto Pionir De britto