
MUNGKID - Bermodal botol plastik bekas, karton, kardus, plastisin, serta ketekunan mengutak-atik tekanan air dan udara, Muhammad Luthfi Zaidan GW, siswa SMP Negeri 2 Borobudur berhasil menembus persaingan kompetisi sains tingkat nasional.
Ia meraih Juara 2 Kompetisi Roket Air Nasional (KRAN) 2026 dan berhak melaju ke kompetisi roket air internasional di Malaysia pada Oktober mendatang.
Prestasi tersebut diraih Luthfi dalam KRAN 2026 yang digelar PT Langit Biru Anak Bangsa Indonesia (LABIABA) di Lapangan VDEC, Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (8/8). Raihan itu sekaligus menempatkan Luthfi dalam jajaran 25 peserta terbaik nasional.
Baca Juga: Manchester City Rekrut Geronimo Rulli sebagai Pelatih Gianluigi Donnarumma
Untuk membuat roket tersebut, ia menggunakan peralatan sederhana seperti gunting, lem, solder, serta sejumlah peralatan pendukung lainnya. "Roket air sederhana yang meraih juara 2 tersebut dibuat dari bahan botol plastik, karton, kardus, dop, dan plastisin," kata Luthfi, Rabu (12/8).
Namun, kesederhanaan bahan tidak berarti proses pembuatannya mudah. Justru ketepatan dalam merancang bentuk roket, menentukan tekanan air dan udara, hingga menghitung sudut peluncuran menjadi faktor penting untuk mencapai sasaran.
Target yang ditetapkan berada pada jarak 60 meter dengan diameter sasaran 10 meter. Kondisi itu membuat kemampuan teknis dan ketelitian menjadi penentu. Sedikit perubahan pada tekanan, komposisi air, bentuk roket maupun sudut peluncuran dapat memengaruhi arah dan jarak terbang.
Baca Juga: Bermain Pakai Hati, Pesan Sang Legenda Oni Kurniawan pada Kiper Muda PSIM Jogja Daib Pratama
Pembimbing Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMPN 2 Borobudur, Muna Maya menjelaskan, proses tersebut membutuhkan kesabaran karena hasil peluncuran tidak selalu sesuai dengan perhitungan.
Luthfi dan tim harus berulang kali melakukan evaluasi, memperbaiki rancangan, kemudian menguji kembali roket yang dibuat.
Setelah berhasil melewati kompetisi nasional, tantangan berikutnya sudah menanti. Luthfi harus kembali mempersiapkan diri untuk menghadapi peserta dari negara lain dalam kompetisi internasional di USIM Malaysia.
Baca Juga: Gelombang Tinggi Sebabkan Muara Baros Tersumbat Pasir, 55 Hektare Lahan Pertanian Terendam Air Laut
Kepala sekolah SMPN 2 Borobudur, Ahyar menilai, capaian Luthfi menunjukkan bahwa pembelajaran sains dapat dikembangkan melalui praktik sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menurut dia, roket air yang dibuat dari botol plastik menjadi media bagi siswa untuk memahami konsep sains secara langsung, mulai dari tekanan hingga aerodinamika.
"Ini prestasi membanggakan bagi dunia pendidikan di Kabupaten Magelang yang diukir Luthfi," terangnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo