SLEMAN – Upaya membangun pendidikan yang tidak hanya mencetak siswa cerdas, tetapi juga berkarakter dan berbudaya, terus diperkuat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY mendukung sinergi antara Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) dan Teori Komunikasi Hati yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Puji Lestari, S.IP., M.Si., Guru Besar Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta.
Dukungan tersebut mengemuka dalam pertemuan tim peneliti dan pengembang SIKOMHATI.ID dengan Kepala Dikpora DIY, Drs. Raden Suci Rohmadi, M.I.P usai implementasi SIKOMHATI di SMK Muhammadiyah Prambanan, Sleman, Selasa (11/8/2026).
Pertemuan itu sekaligus mempertegas arah kebijakan penguatan pendidikan karakter berbasis budaya dan literasi digital komunikasi hati di sekolah-sekolah DIY, termasuk pengurangan bullying menciptakan sekolah aman dan nyaman.
Baca Juga: Lautan Manusia di RW 57 Jurugsari, Ketika Senam Sehat HUT RI Satukan Mahasiswa, Seniman, dan Lansia
"Pendidikan Khas Kejogjaan sendiri merupakan kebijakan yang diluncurkan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan tujuan melahirkan generasi “Jalma Kang Utama”, yaitu manusia yang unggul secara intelektual sekaligus memiliki adab dan kepribadian luhur," ungkap Kepala Dikpora DIY.
Di tengah derasnya arus digital, tantangan pendidikan tidak lagi sebatas transfer ilmu pengetahuan.
Persoalan seperti cyberbullying, perundungan verbal, silent treatment, hingga krisis empati menjadi perhatian serius dunia pendidikan.
Prof. Puji Lestari menilai, Teori Komunikasi Hati dapat menjadi jembatan praktis untuk menghidupkan nilai-nilai budaya Jawa dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
Baca Juga: Gelombang Tinggi 5 Meter Terjang Perairan Kulon Progo, Nelayan Pantai Trisik Beralih Jadi Petani
“Pendidikan berbasis budaya tidak boleh berhenti sebagai teori di atas kertas atau sekadar memakai pakaian adat pada hari tertentu. Nilai itu harus hidup dalam interaksi sehari-hari antara guru, siswa, dan orang tua,” ujarnya.
Menurutnya, komunikasi hati dibangun melalui empat pilar utama; Olah Pikir: membangun pola pikir positif dan sehat; Olah Rasa: mengelola emosi dan perasaan dengan kelola sampah hati menjadi energi : mengelola iri, dengki, marah, dan prasangka negatif menjadi semangat dan kekuatan berprestasi.
Empati: Menumbuhkan kepedulian untuk memahami dan merasakan keadaan orang lain.
Ciptakan kedamaian hati, membuat hati nyaman dan aman, penuh rasa ikhlas, bersyukur, dan tetap tangguh walau di masa krisis.
Baca Juga: KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DIY NOMOR 33/K/DPRD/2026
Pendekatan empati ini dinilai sejalan dengan nilai-nilai Kejogjaan seperti ngajeni, unggah-ungguh, tata krama, dan harmoni sosial.
Selaras dengan Jiwa Satriya
Teori Komunikasi Hati juga dianggap mendukung pembentukan karakter Satriya, falsafah penting dalam Pendidikan Khas Kejogjaan, yang meliputi: Sawiji: fokus dan totalitas; Greget: semangat yang terkendali; Sengguh: percaya diri namun rendah hati; Ora Mingkuh: tangguh dan tidak mudah menyerah.
Selain itu, komunikasi hati dinilai mempermudah internalisasi filosofi luhur Yogyakarta seperti Hamemayu Hayuning Bawana, Sangkan Paraning Dumadi, dan Manunggaling Kawula Gusti.
Baca Juga: Makam Mertua Djaduk Ferianto Dirusak Juru Kunci Makam Kuncen Lama, Kasus Berakhir Damai
Implementasi nyata program ini dilakukan melalui Prototipe Literasi Digital SIKOMHATI.ID di beberapa SMA dan SMK di Yogyakarta, melalui hibah penelitian DPPM Kemendiktisaintek sejak tahun 2024 sampai tahun ini.
SMK Muhammadiyah Prambanan salah satu yang terpilih untuk penerapan SIKOMHATI.id.
Literasi digital komunikasi hati tersebut melibatkan siswa, guru, dan tim peneliti dari perguruan tinggi dan mitra tim Balai Tekomdik DIY.
Tim peneliti terdiri dari: Prof. Dr. Puji Lestari, S.IP., M.Si. (Ketua), anggota terdiri dari Dr. Dani Fadilah (UAD) dan Dra. Sri Isworo Ediningsih, M.M. (UPN Veteran Yogyakarta).
Baca Juga: John McGinn Tegaskan Aston Villa Belum Puas, Kalahkan PSG di UEFA Super Cup Sebagai Pembuka
Dalam sesi motivasi, Prof. Puji membagikan perjalanan hidupnya yang berasal dari keluarga sederhana hingga menjadi profesor pertama di FISIP UPN Veteran Yogyakarta.
“Saya lahir dari keluarga ekonomi bawah. Ayah saya buruh bangunan dan ibu hanya lulusan SD. Saya memilih berpikir positif, berempati kepada orang tua, dan terus belajar. Dari komunikasi hati itulah saya bisa menempuh S1, S2, S3 hingga menjadi profesor,” tuturnya di hadapan para siswa.
Ia menekankan bahwa pikiran negatif, overthinking, iri, dan marah perlu diolah menjadi energi positif agar tercipta kedamaian diri dan komunikasi yang harmonis.
Erick Syafriatna, S.Kom sebagai tim pengembang sikomhati mitra penelitian dari Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (Tekomdik) DIY didampingi Dini Nurul Insani, S.Tr.T dan Ngatifudin Firdaus, SPd menjelaskan kepada peserta bagaimana cara menggunakan aplikasi sikomhati.id dari login, mengerjakan pretest, cara belajar berbagai konten di sikomhati, hingga mengerjakan soal latihan, dan mengunduh sertifikat hasil literasi komunikasi hati.
Baca Juga: Bukan Sekadar Trofi, Unai Emery Ungkap Ambisi Besar Aston Villa untuk Naik Level
Staf Kurikulum SMK Muhammadiyah Prambanan, Bunga Satya Hardika, S.Pd., M.Pd., menyebut program ini sangat relevan bagi generasi Z dan Alpha.
“Bullying sering dianggap bercanda. Padahal memanggil teman dengan nama orang tua, nama hewan, atau julukan tertentu bisa sangat menyakitkan,” katanya.
Sekolah mencatat bahwa bullying verbal masih menjadi bentuk perundungan yang paling sering muncul. Bahkan, kasus cyberbullying juga pernah dialami siswa saat melakukan siaran langsung di media sosial dan menerima komentar kasar dari warganet.
Dengan jumlah sekitar 1.400 siswa dan 70 guru, sekolah menilai literasi komunikasi hati penting diterapkan tidak hanya kepada siswa, tetapi juga guru dan seluruh warga sekolah.
Baca Juga: PSG Lebih Diunggulkan, Unai Emery Tetap Pede Aston Villa Rebut UEFA Super Cup
Siswa kelas XII BPA, Desita Anggraeni, menjelaskan pertama kali menggunakan aplikasi SIKOMHATI.ID
“Setelah berhasil masuk, aplikasinya mudah digunakan. Saya jadi lebih paham tujuan SIKOMHATI.ID agar tidak ada pembullyan di kelas,” ujarnya.
Sementara itu, Mesya Titania Aurelia mengaku pernah menjadi korban bullying verbal.
“Saya pernah dipanggil memakai nama orang tua dan rasanya tidak nyaman. Karena kesal, saya sempat membalas,” katanya.
Baca Juga: Gelombang Setinggi Tiga Meter Terjang Pandansimo, Tiga Rumah Warga Rusak
Adapun Abiliyu Mu’ti Ali berharap dengan literasi komunikasi hati, pergaulan di sekolah menjadi lebih sehat dan rukun.
“Semoga kami bisa berkompetisi secara sehat tanpa saling membully dan tetap kompak sampai lulus,” tuturnya.
Guru Bimbingan dan Konseling, Zakka Nur Latifah Khasanah, S.Sos., M.A., menjelaskan bahwa sekolah terus berupaya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi siswa, termasuk menangani kasus perundungan yang berkaitan dengan penampilan atau kondisi keluarga.
“Atas literasi digital komunikasi hati yang diberikan Prof. Puji dan tim, kami merasakan kegiatan ini sangat bermanfaat bagi seluruh warga sekolah,” ungkapnya.
Baca Juga: Modal Laptop Pinjaman Teman, Sahrul Anak Petani di Alor NTT Berhasil Raih Gelar Sarjana
Dukungan Kepala Dikpora DIY terhadap pengembangan SIKOMHATI.ID menunjukkan bahwa pendidikan karakter di Yogyakarta diarahkan untuk menggabungkan kekuatan nilai-nilai budaya lokal, pendekatan ilmiah, dan teknologi digital.
Ketika sekolah mampu menghadirkan suasana aman, nyaman, dan damai, proses belajar tidak hanya menghasilkan prestasi akademik, tetapi juga membentuk generasi yang berintegritas, berempati, dan terwujudnya masyarakat yang harmoni.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja