Siapkan Jadi Pelestari Tradisi, SMPN 4 Banguntapan Kenalkan Budaya Jawa lewat Ekstrakurikuler

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 08:07 WIB
LATIHAN: Para murid SMPN 4 Baguntapan sedang berlatih karawitan. Dokumentasi SMPN 4 Banguntapan
LATIHAN: Para murid SMPN 4 Baguntapan sedang berlatih karawitan. Dokumentasi SMPN 4 Banguntapan

BANTUL - Kekhawatiran akan semakin pudarnya kemampuan generasi muda berbahasa dan memahami budaya Jawa mendorong SMP Negeri (SMPN) 4 Banguntapan menghadirkan sejumlah ekstrakurikuler berbasis budaya.

Mulai dari pranatacara atau MC berbahasa Jawa, aksara Jawa, hingga karawitan. Ini menjadi ruang bagi siswa untuk belajar sekaligus melestarikan warisan leluhur.

Guru Bahasa Jawa SMPN 4 Banguntapan Sarjiono mengatakan, pembentukan ekstrakurikuler tersebut merupakan bagian dari upaya menyelaraskan karakteristik sekolah sebagai sekolah berbudaya dengan profil lulusan yang diharapkan mampu melestarikan budaya Jawa.

"Anak-anak sekarang banyak yang mulai tidak tertarik, bahkan belum mengenal pranatacara berbahasa Jawa," katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (7/8/2026).

Baca Juga: Bukan Sekadar APBD, Anggota DPRD DIY Soroti Pengolahan Sampah Butuh Terobosan Regulasi

Oleh karena itu, pihaknya mencoba mengangkat kembali budaya tersebut melalui kegiatan ekstrakurikuler agar mereka mengenalnya sejak di bangku sekolah. 

Tujuan utama kegiatan itu adalah mengenalkan bahasa Jawa kepada generasi muda sekaligus membekali siswa agar memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan di lingkungan masyarakat. 

Ia berharap lulusan SMPN 4 Banguntapan mampu menjadi pranatacara berbahasa Jawa dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, mulai dari pertemuan pemuda hingga acara tradisi di lingkungan tempat tinggal.

Baca Juga: Targetkan Seribu Peserta, Sleman Temple Run Kesebelas Tawarkan Pemandangan Lima Candi

Ekstrakurikuler pranatacara mulai dibuka pada tahun ajaran 2025/2026. Pada tahun pertama, jumlah pendaftar sekitar 10 siswa. Meski demikian, pihak sekolah optimistis minat siswa akan terus meningkat setelah membuka pendaftaran untuk tahun ajaran baru.

"Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap Rabu pukul 14.30 hingga 16.00," ujarnya. 

Kemampuan siswa juga telah diterapkan secara langsung dalam kegiatan sekolah, salah satunya menjadi pembawa acara berbahasa Jawa saat pengajian rutin yang dihadiri orang tua siswa setiap Rabu Kliwon.

Baca Juga: Perkuat Silaturahmi dan Beri Solusi Finansial, Gelar Hajatan FIFGROUP Cabang Sleman II

Selain pranatacara, SMPN 4 Banguntapan juga mengembangkan ekstrakurikuler aksara Jawa yang dibuka pada tahun ajaran yang sama. Kegiatan ini lahir dari keprihatinan para guru terhadap semakin rendahnya minat siswa mempelajari aksara Jawa. Padahal saat ini telah berkembang aksara Jawa berbasis digital. 

"Itu menjadi peluang agar anak-anak bisa belajar sekaligus mengikuti perkembangan zaman," jelasnya.

Guna mendukung pembelajaran, sekolah menghadirkan tenaga profesional yang telah berpengalaman menjadi juri berbagai lomba aksara Jawa. Hasilnya mulai terlihat. Pada lomba yang diselenggarakan Balai Bahasa, salah satu siswa SMPN 4 Banguntapan berhasil masuk 10 nominasi terbaik tingkat Kabupaten Bantul dan berhak melaju ke tingkat Provinsi DIY pada cabang literasi aksara Jawa.

Baca Juga: Cegah Keracunan MBG, Yayasan Bijana Paksi Hadirkan Simetris: Perketat Pengawasan dari Hulu ke Hilir

Sementara itu, pada bidang karawitan, SMPN 4 Banguntapan juga mencatatkan sejumlah prestasi. Sejak tahun ajaran 2023/2024, tim karawitan sekolah rutin mewakili Kabupaten Bantul dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat provinsi. Pada 2024 berhasil meraih Juara III tingkat Provinsi DIY, kemudian meningkat menjadi Juara II pada 2025.

Tahun ini, tim karawitan kembali dipercaya mewakili Bantul untuk berkompetisi di tingkat provinsi. Regenerasi pemain juga terus dilakukan dengan melibatkan siswa kelas VII, VIII, dan IX agar keberlangsungan kelompok karawitan tetap terjaga.

Sarjiono berharap berbagai ekstrakurikuler berbasis budaya tersebut mampu menjadi bekal bagi siswa untuk tetap mencintai budaya daerah di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga: Dugaan Keracunan MBG Masih Terjadi Berulang di DIY, Disdikpora Fokus Penanganan Siswa dan Evaluasi

Selain itu, lulusan sekolahnya tidak hanya belajar budaya Jawa di sekolah, tetapi benar-benar bisa hadir di tengah masyarakat dan mengambil peran sebagai pelestari budaya. 

"Mulai dari menjadi MC berbahasa Jawa hingga ikut menjaga eksistensi aksara Jawa dan karawitan," tambahnya.  (cin/wia

Editor : Winda Atika Ira Puspita
SMPN Banguntapan ekstrakurikuler berbasis budaya budaya jawa Pranatacara