RADAR JOGJA - Niat awal hanya ingin membuka media sosial selama beberapa menit untuk melepas penat, tetapi tanpa disadari layar ponsel terus digulir hingga berjam-jam.
Celakanya, konten yang dikonsumsi justru didominasi oleh kabar buruk, konflik, atau informasi yang memicu kecemasan.
Fenomena ini dikenal dengan istilah doomscrolling, sebuah kebiasaan mengonsumsi berita atau konten negatif secara berulang meskipun disadari hal tersebut dapat menguras emosi dan pikiran.
Mengapa seseorang begitu mudah terjebak dalam lingkaran ini?
Baca Juga: Mengapa Kucing Suka Tidur Seharian? Rahasia Besar di Balik Kebiasaan Terlelap Berjam-jam
Secara psikologis, otak manusia memiliki kecenderungan alami yang disebut negativity bias.
Istilah ini merujuk pada mekanisme pertahanan diri di mana pikiran lebih cepat merespons dan memberikan perhatian ekstra pada hal-hal yang dianggap mengancam atau berbahaya.
Ceruk ini kian diperparah oleh desain algoritma platform digital modern.
Ketika seseorang menghabiskan waktu lebih lama pada jenis konten tertentu, sistem secara otomatis akan merekomendasikan materi serupa secara terus-menerus.
Baca Juga: Kabupaten Magelnag Punya Lereng Gunung dan Hutan, mulai Antisipasi Kekeringan-Karhutla
Akibatnya, muncul persepsi bahwa realitas saat ini seolah-olah dipenuhi oleh kabar buruk semata.
Meski sering kali dianggap sebagai kebiasaan sepele di kala senggang, dampak doomscrolling terhadap kesehatan mental tidak bisa dipandang sebelah mata.
Paparan informasi negatif secara terus-menerus dapat memicu rasa cemas berlebihan, peningkatan stres kronis, penurunan tingkat konsentrasi saat beraktivitas, hingga gangguan pola tidur.
Seseorang yang mengalami jebakan ini umumnya menunjukkan beberapa gejala khas, seperti ketidakmampuan untuk berhenti menggeser layar, dorongan kuat untuk memantau perkembangan peristiwa yang sama secara obsessif, serta timbulnya rasa gelisah atau fear of missing out (FOMO) saat menjauh dari perangkat genggam.
Baca Juga: Pasien Jantung Tak Perlu ke Luar Purworejo, Dilayani dengan Cathlab di RSUD dr Tjitrowardojo
Guna mencegah dampak buruk yang lebih luas, langkah pemulihan perlu diterapkan secara bertahap dalam keseharian.
Pemilik perangkat dapat mulai memasang batasan durasi penggunaan aplikasi, mematikan notifikasi non-esensial yang berpotensi mengalihkan perhatian, serta mengurasi linimasa dengan mengikutkan akun-akun yang menyajikan edukasi, motivasi, atau informasi tepercaya.
Selain itu, mengalihkan fokus ke aktivitas fisik di dunia nyata—seperti rutin berolahraga, membaca buku fisik, menjalankan hobi, atau menjalin komunikasi langsung bersama anggota keluarga—menjadi cara ampuh untuk mengikis ketergantungan pada layar digital.
Pada dasarnya, platform media sosial tetap memiliki peran positif sebagai sarana koneksi dan sumber informasi utama di era digital. Namun, ketika interaksi di ruang siber mulai menimbulkan rasa lelah yang intensif dan mengganggu ketenangan jiwa, mengambil jeda secara bijak adalah keputusan terbaik demi menjaga keseimbangan mental. (Seli)
Editor : Iwa Ikhwanudin