Workshop Bioteknologi UGM Ajak Guru Biologi Dalami Teori Hingga Praktik Langsung di Laboratorium

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 10:39 WIB
 Program Studi Magister dan Doktor Bioteknologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Short Course & Workshop Bioteknologi yang berlangsung selama dua hari, 4-5 Agustus 2026.
Program Studi Magister dan Doktor Bioteknologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Short Course & Workshop Bioteknologi yang berlangsung selama dua hari, 4-5 Agustus 2026.

JOGJA - Belajar bioteknologi tidak selalu harus berhenti pada teori di ruang kelas. Hal itu yang coba dihadirkan Program Studi Magister dan Doktor Bioteknologi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Short Course & Workshop Bioteknologi yang berlangsung selama dua hari, 4-5 Agustus 2026.

Sekitar 30 guru Biologi SMA dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sejumlah daerah di Jawa Tengah mengikuti kegiatan yang berlangsung di Gedung PAU Pascasarjana UGM tersebut. Mereka tidak hanya mendapat materi, tetapi juga diajak melakukan praktik langsung di laboratorium.

Tahun ini, workshop tersebut mengangkat tema Kenali Panganmu, Lindungi Generasimu: Edukasi Bioteknologi untuk Makanan Aman dan Bergizi. Pemilihan tema tersebut berkaitan dengan persoalan keamanan pangan yang dinilai semakin dekat dengan kehidupan siswa.

Ketua Program Studi Magister Bioteknologi UGM, Dr. Dini Wahyu Kartika Sari, S.Pi., M.Si. mengatakan, bahwa kegiatan itu merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang rutin dilakukan Program Studi Magister dan Doktor Bioteknologi UGM.

Diakuinya, dalam tiga tahun terakhir, guru Biologi SMA menjadi salah satu kelompok yang secara khusus dilibatkan. Menurut Dini, guru dipilih karena materi bioteknologi juga terdapat dalam pembelajaran di tingkat SMA, sementara pengalaman praktik laboratorium belum tentu dimiliki seluruh guru.

Baca Juga: Everton Resmi Rekrut Gelandang Arsenal dari Denmark, Christian Norgaard

"Kami ingin memberi paparan keilmuan dan praktik di laboratorium. Dengan para guru hands-on lab, ketika mengajar bisa lebih komprehensif karena sudah langsung mengalami praktiknya," ujar Dini, Rabu (5/8).

Jika pada tahun-tahun sebelumnya tema kegiatan lebih banyak disesuaikan dengan materi bioteknologi dalam kurikulum SMA, tahun ini UGM mencoba mengaitkannya dengan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat, khususnya keamanan pangan.

Dini menyebut isu makan bergizi gratis (MBG) menjadi salah satu konteks yang membuat tema tersebut relevan. Program tersebut menurutnya memiliki tujuan baik dalam pemenuhan gizi siswa, tetapi aspek keamanan pangan tetap perlu mendapat perhatian.

"MBG itu bagus untuk peningkatan gizi. Tapi praktik di lapangan kadang kita dengar ada kasus keracunan. Itu sering kali diasosiasikan dengan mikrobiologis. Bagaimana kemudian guru juga bisa menjadi garda untuk keamanan pangan sebelum makanan dikonsumsi," katanya.

Menurut Dini, persoalan keamanan pangan tidak hanya berkaitan dengan apakah makanan terlihat bersih atau tidak. Kontaminasi mikrobiologis juga dapat terjadi tanpa selalu terlihat secara kasatmata.

Program Studi Magister dan Doktor Bioteknologi Universitas Gadjah Mada (UGM)
Program Studi Magister dan Doktor Bioteknologi Universitas Gadjah Mada (UGM)

 

Karena itu, para peserta diperkenalkan dengan dasar-dasar mikrobiologi pangan, termasuk bagaimana bakteri dapat tumbuh dan bagaimana potensi mikroorganisme dalam makanan dapat dikenali melalui pemeriksaan laboratorium.

"Ada beberapa bakteri patogen yang bisa menghasilkan toksin atau racun. Jadi, saat makanan sudah mengandung toksin, meski misal dihangatkan, belum tentu racunnya hilang karena ada toksin yang tahan panas. Itu yang bisa menyebabkan sakit," jelasnya.

Materi tersebut kemudian tidak berhenti pada pemaparan di kelas. Para guru diajak masuk ke laboratorium dan melakukan praktik secara langsung.

Pada hari pertama, peserta belajar mengenai keamanan pangan dan teknik mikrobiologi pangan. Mereka berlatih membuat media sederhana, melakukan sterilisasi, serta melakukan kultur awal bakteri.

Hari kedua berlanjut pada deteksi molekuler. Peserta diperkenalkan dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dan elektroforesis. Mereka juga melakukan praktik PCR koloni, pengecatan Gram, pembuatan gel, hingga elektroforesis.

Baca Juga: Juara Premier League Arsenal Takluk di Tangan Real Betis Meski Mainkan Tim Inti

Dini mengatakan konsep hands-on sengaja ditekankan agar peserta benar-benar mengalami proses laboratorium, bukan hanya melihat demonstrasi.

"Hands-on itu masing-masing pegang sendiri. Misalnya punya pengalaman isolasi DNA, punya pengalaman PCR, punya pengalaman mengisolasi bakteri dan membuat media. Jadi bukan cuma menonton, tetapi masing-masing secara individu melakukan praktik," ujarnya.

Dalam praktik tersebut, para guru juga didampingi mahasiswa S2 dan S3 Bioteknologi serta laboran. Keterlibatan mahasiswa sekaligus menjadi bagian dari tujuan pengabdian masyarakat tersebut.

Menurut Dini, mahasiswa tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga dilatih untuk berkomunikasi, bekerja bersama, dan berinteraksi dengan masyarakat.

"Kita adakan ini memang untuk soft skill. Agar bisa lebih empati pada masyarakat, bisa bekerja bersama, dan kita libatkan juga mahasiswa S2 dan S3 untuk mendampingi di laboratorium," ujarnya.

Lebih jauh, pengetahuan yang diperoleh guru diharapkan dapat dibawa kembali ke sekolah. Praktik-praktik yang memungkinkan untuk dilakukan dengan fasilitas sekolah dapat dikembangkan menjadi bagian dari pembelajaran Biologi.

Dini menilai pilihan guru SMA sebagai peserta memiliki efek yang cukup luas. Satu guru dapat meneruskan pengetahuan tersebut kepada siswa dalam jumlah yang jauh lebih banyak.

"Satu guru bisa mengajar ratusan siswa. Jadi impact-nya lebih banyak," tuturnya.

Bagi Dini, kegiatan tersebut memang tidak diarahkan untuk menghasilkan penelitian baru. Fokus utamanya adalah memberikan pengalaman dan pengetahuan yang bisa disebarluaskan kembali oleh guru kepada siswa.

"Luaran pertama jelas berdampak kepada Bu Guru dan murid-muridnya yang ratusan itu setiap sekolah. Kita mengundang ini supaya bisa disebarluaskan," katanya.

Pengalaman tersebut turut dirasakan langsung oleh Mujiyati, guru Biologi SMA Negeri 6 Surakarta. Ia mengikuti kegiatan selama dua hari setelah mendapat informasi melalui jejaring guru Biologi.

Baca Juga: Newcastle United Tunjuk Matthis Jaissle sebagai Pelatih Kepala, Gantikan Eddie Howe yang Pergi

Bagi Mujiyati, praktik laboratorium menjadi bagian yang paling menarik. Beberapa teknik yang diperkenalkan UGM menurutnya memberikan pengalaman baru yang bisa dikaitkan dengan materi pembelajaran di sekolah.

"Ini sangat penting. Kalau boleh saya minta, ada rutinitas yang bisa melebar lagi. Biasanya dari sekolah kami, apa yang kita dapatkan terus diimbaskan ke teman, sehingga bisa melebar tidak hanya untuk kita sendiri," kata Mujiyati.

Salah satu materi yang menurutnya paling mudah dikaitkan dengan pembelajaran adalah pengenalan bakteri Gram positif dan Gram negatif. Materi tersebut relevan dengan pelajaran Biologi kelas X.

“Untuk materi kelas 10 ada materi mengenai bakteri. Kebetulan kita membuat pengenalan Gram positif dan Gram negatif dari bakteri. Jadi saya rasa kalau teman-teman mengajar kelas 10, ini sangat match,” ujarnya.

Mujiyati bahkan sudah membayangkan praktik lanjutan bersama siswanya. Ia berharap pengalaman yang diperoleh di UGM dapat menjadi bekal untuk membuat pembelajaran Biologi lebih dekat dengan praktik laboratorium.

Ia juga melihat forum MGMP Biologi sebagai ruang untuk memperluas pengetahuan tersebut kepada guru lain.

Baca Juga: JAWA POS - RADAR JOGJA, EDISI KAMIS, 6 AGUSTUS 2026

“Harapannya nanti dari sekolah kami, apa yang kita dapatkan terus diimbaskan ke teman, sehingga bisa melebar tidak hanya untuk kita sendiri.”

Dengan pola tersebut, kegiatan yang berlangsung dua hari di laboratorium UGM tidak berhenti ketika peserta meninggalkan kampus. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh diharapkan ikut bergerak dari laboratorium, ke ruang kelas, lalu kepada siswa. (iza)

Editor : Bahana.
Bioteknologi UGM UGM universitas gadjah mada workshop