GUNUNGKIDUL - Berawal dari upaya memberantas buta aksara, PKBM Ngudi Kapinteran di Padukuhan Nitikan Timur, Kalurahan Semanu, kini berkembang menjadi lembaga pendidikan nonformal yang membekali warga dengan ijazah sekaligus keterampilan kerja.
Selama 25 tahun terakhir, lembaga tersebut telah menjadi ruang belajar bagi ratusan warga untuk meningkatkan kompetensi, membuka peluang usaha, hingga memperbaiki taraf hidup.
Sejak berdiri pada 2001, lembaga pendidikan swadaya masyarakat tersebut memusatkan perhatian pada pemberantasan buta aksara dan buta angka. Selama lebih dari satu dekade, para tutor mendatangi masyarakat untuk membuka akses belajar bagi mereka yang belum pernah mengenyam pendidikan.
Ketua PKBM Ngudi Kapinteran Tugino mengatakan, program pemberantasan buta aksara menjadi fokus utama hingga 2015. Setelah sebagian besar masyarakat telah memiliki kemampuan dasar membaca dan menulis, kebutuhan pendidikan pun bergeser.
Warga mulai membutuhkan ijazah sebagai syarat memperoleh pekerjaan maupun melanjutkan pendidikan.
"Sejak 2001 hingga 2015 kami fokus memberantas buta aksara. Setelah itu kebutuhan masyarakat berubah sehingga kami membuka pendidikan kesetaraan," ujarnya.
Perubahan kebutuhan tersebut membuat PKBM Ngudi Kapinteran membuka program Paket A, Paket B, dan Paket C. Kini, lembaga itu menjadi tempat belajar bagi 376 peserta didik dengan latar belakang yang beragam.
Baca Juga: 941 Atlet Ikuti Kejuaraan Atletik Open Se-DIY Tahun 2026 di Stadion Mandala Krida Jogja
Mayoritas peserta Paket C telah bekerja sebagai buruh pabrik, pegawai kontrak, hingga aparatur sipil negara (PNS). Sementara peserta lainnya merupakan ibu rumah tangga yang ingin meningkatkan kompetensi maupun memperoleh keterampilan baru.
Namun, PKBM Ngudi Kapinteran tidak hanya berfokus pada penerbitan ijazah. Lembaga tersebut memasukkan pendidikan keterampilan ke dalam kurikulum dengan porsi sekitar 30 persen.
Sebelum mengikuti pembelajaran, setiap peserta diminta memilih bidang yang ingin ditekuni, mulai dari pertanian terpadu, pemasaran, pengelasan, menjahit, tata boga, hingga ecoprint.
Model pembelajaran pun dirancang fleksibel agar dapat diikuti peserta yang sebagian besar telah bekerja. Tatap muka dilakukan satu kali setiap pekan, kemudian dilanjutkan melalui pembelajaran mandiri dan tutorial berbasis aplikasi daring yang dikembangkan PKBM.
Baca Juga: Hasil Timor Leste vs Indonesia 0-3 ASEAN Championship 2026, Mitchell Baker Nyekor Lagi
Seluruh layanan pendidikan diberikan tanpa dipungut biaya. Operasionalnya didukung melalui bantuan operasional penyelenggaraan (BOP) bagi peserta berusia di bawah 24 tahun.
Sedangkan peserta di atas usia tersebut mendapat dukungan melalui BOPDA dari Pemkab Gunungkidul.
Menurut Tugino, pendidikan nonformal memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Gunungkidul, terutama ketika rata-rata lama sekolah masyarakat masih berada di kisaran 7,3 tahun.
"Harapannya rata-rata lama sekolah bisa meningkat sehingga ikut mendongkrak indeks pembangunan manusia Gunungkidul," katanya.
Manfaat pendidikan berbasis keterampilan itu dirasakan langsung oleh salah satu alumni, Roni Irawan. Pandemi Covid-19 membuat warga Nitikan Timur itu kehilangan pekerjaan sebagai buruh bangunan di Jakarta.
Sekembalinya ke kampung halaman, ia mengikuti pendidikan Paket C di PKBM Ngudi Kapinteran dan memilih pelatihan budi daya melon.
Ilmu yang diperoleh selama mengikuti pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas. Dengan pendampingan tutor, Roni mulai mencoba membudidayakan melon di lahan sewaan.
Ketekunannya membuahkan hasil. Usaha yang dirintis dari nol kini mampu menghasilkan keuntungan puluhan juta rupiah setiap musim tanam, bahkan mengantarkannya membeli lahan yang sebelumnya hanya disewa.
Baca Juga: Dinamika dan Tekanan Mengelola PSIM Jogja Membuat Liana Tasno Lebih Bijak Mengambil Keputusan
"Dulu sekolah Paket C dapat ilmu budi daya melon. Saya mencoba dengan pendampingan tutor PKBM," ungkap Roni.
Kisah Roni menjadi gambaran perubahan yang dibawa PKBM Ngudi Kapinteran selama seperempat abad terakhir.
Lembaga yang dahulu hadir untuk memberantas buta huruf itu kini tidak hanya mengantarkan masyarakat memperoleh ijazah, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan yang membuka peluang kerja, berwirausaha, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.(cr1/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita