Mahasiswa Polbangtan Kementan Sulap Salak dan Singkong, Ciptakan Olahan Pangan Kaya Gizi dan Bernilai Jual Tinggi

Yogi Isti Pujiaji • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 20:14 WIB
PRODUK LOKAL KEKINIAN: Tiga mahasiswa Polbangtan Yoma: Siti Mufidah, Bagus Tyo Prasetia, dan Desti Amelia Nur Rochmah meraih juara 2 ajang Agri Food Innovation Competition 2026 yang diselenggarakan Polbangtan Malang. (ISTIMEWA)
PRODUK LOKAL KEKINIAN: Tiga mahasiswa Polbangtan Yoma: Siti Mufidah, Bagus Tyo Prasetia, dan Desti Amelia Nur Rochmah meraih juara 2 ajang Agri Food Innovation Competition 2026 yang diselenggarakan Polbangtan Malang. (ISTIMEWA)

 

YOGYAKARTA - Sebagai perguruan tinggi vokasi, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) terus mendorong mahasiswanya untuk mengembangkan inovasi di bidang pertanian. Salah satunya dengan penumbuhan inovasi pangan berbahan dasar pangan lokal.

Melaui kreativitas tiga mahasiswa Polbangtan Yoma: Siti Mufidah, Bagus Tyo Prasetia, dan Desti Amelia Nur Rochmah, salak dan tepung singkong diubah menjadi kudapan kekinian. Mereka melabelinya dengan merek Mocaf Salak Krezz.

Mereka mampu menambah nilai jual produk potensi lokal. Tepung singkong yang dimodifikasi sebagai alternatif pengganti tepung terigu diduetkan dengan salak, komoditas lokal yang kaya akan antioksidan. Perpaduan keduanya menghasilkan camilan yang lebih sehat, memiliki nilai tambah, sekaligus berpotensi menjangkau pasar makanan bebas gluten.

Karena kreaktivitas mereka, inovasi ini pun berhasil meraih juara II pada gelaran Agri Food Innovation Competition 2026 yang diselenggarakan oleh Polbangtan Malang.

Melalui pemanfaatan teknologi dan pengolahan komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah, mahasiswa didorong untuk menghasilkan inovasi yang mampu mendukung proses hilirisasi pertanian sekaligus meningkatkan daya siang hasil pertanian Indonesia.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang terus mendorong lahirnya generasi petani muda melalui penerapan teknologi. "Kami ingin semakin banyak anak muda masuk ke sektor pertanian karena melihat peluang bisnis yang besar. Pertanian modern adalah masa depan," ungkapnya.

Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muda yang inovatif, adaptif, dan mampu menjadi garda terdepan pembangunan pertanian.

Ditemui pada Kamis (30/7/2026), Bagus Tyo Prasetia menjelaskan bahwa pemilihan salak dan mocaf didasarkan pada ketersediaan bahan baku yang melimpah serta keinginan mereka untuk menghasilkan produk yang dapat menambah nilai jual.

"Melalui pengolahan menjadi produk camilan ini, komoditas lokal dapat diangkat menjadi inovasi pangan yang bernilai jual tinggi sekaligus menjadi pilihan bagi masyarakat, khususnya penggemar makanan bebas gluten," jelasnya.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa Polbangtan Yoma tidak hanya mampu berinovasi, tetapi juga menghadirkan solusi berbasis potensi lokal yang memiliki prospek bisnis. 

Sekretaris Jurusan Pertanian Polbangtan Yoma Nur Rohmah Lufti A'yuni mengapresiasi kreativitas mahasiswa dalam mengembangkan inovasi ini sebagai bentuk diversifikasi pangan berbasis potensi lokal. 

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan kepedulian mahasiswa untuk memanfaatkan potensi pangan lokal menjadi produk bernilai tambah. Harapannya produk ini dapat dikembangkan supaya bisa lebih maju dan menghasilkan keuntungan serta membuka lapangan pekerjaan. "Kami meyakini upaya penumbuhkembangan inovasi menjadi bagian penting dalam mendukung pertanian modern, mulai dari sektor hulu hingga hilir," katanya.(yog)

Editor : Yogi Isti Pujiaji
agri food innovation competition Polbangtan YoMa salak singkong