JOGJA - SMK-SMTI Yogyakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat daya saing lulusan di dunia industri. Salah satunya dengan Test of English for International Communication (TOEIC). Program tersebut bertujuan membekali siswa kemampuan berbahasa Inggris.
Guru Bahasa Inggris SMK SMTI Yogyakarta Refrilia Ulfah mengatakan, pada tahun ini ada sebanyak 326 siswa kelas XI yang telah mengikuti TOEIC pada 22 Juni 2026 lalu. Ujian diikuti oleh siswa dari konsentrasi keahlian kimia analisis, teknik kimia industri, teknik mekatronika, serta siswa dari kelas teknologi industri baja. Dalam pelaksanaannya, SMK-SMTI Yogyakarta menggandeng Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) LIA Yogyakarta untuk pelaksanaan tes.
Adapun tujuan TOEIC sendiri, kata Refrilia, utamanya sebagai bahan evaluasi pembelajaran bahasa Inggris di SMTI untuk melihat seberapa jauh siswa mampu menyerap materi bahasa Inggris yang telah diberikan , termasuk dalam hal komunikasi.
Lalu kedua, menjadi bagian dari implementasi link and match antara kurikulum pendidikan vokasi dengan tuntutan kebutuhan industri masa kini.
Baca Juga: Liverpool vs Wrexham: Rio Ngumoha Cetak Gol Tunggal, The Reds Menang 1-0 di Laga Pramusim
“Bagi guru sendiri tes itu akan bermanfaat untuk memetakan bagian mana saja yang memang perlu ditingkatkan dalam proses pembelajaran selanjutnya,” ujar Refrilia saat ditemui di kantornya, Rabu (29/7/2026).
Menurutnya, hasil TOEIC siswa SMK-SMTI Yogyakarta tahun ini cukup memuaskan. Skor rata-rata siswa mencapai 505, melampaui target yang ditetapkan sekolah sebesar 420. Bahkan ada siswa yang meraih skor tertinggi dengan angka 880.
Refrilia menjelaskan, TOEIC telah menjadi agenda rutin tahunan di SMK-SMTI Yogyakarta. Seluruh siswa yang mengikuti ujian dipastikan memperoleh sertifikat resmi. Sertifikat TOEIC bisa sangat bermanfaat bagi siswa. Baik saat menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL), magang, maupun ketika bersaing di bursa kerja profesional.
Refrilia menegaskan bahwa penguasaan bahasa asing merupakan modal penting yang tidak boleh diabaikan meskipun pembelajaran SMK berkutat pada bidang teknis. Banyak peralatan, mesin industri modern, maupun buku petunjuk operasional di pabrik dan laboratorium masih menggunakan bahasa Inggris.
Selain itu, tidak sedikit lulusan SMK-SMTI Yogyakarta yang melanjutkan studi, mengikuti rekrutmen di perusahaan multinasional, hingga berkarir di luar negeri. Sehingga kemampuan public speaking , presentasi, serta interaksi dengan rekan kerja lintas negara menjadi kebutuhan mutlak.
"Tanpa kemampuan bahasa yang memadai, siswa tentu akan kesulitan mengikuti standar operasional prosedur (SOP) secara akurat," ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, 100 persen lulusan unit pendidikan vokasi yang berada di bawah Kemenperin dipastikan akan diterima bekerja di sektor industri, termasuk para siswa lulusan SMK-SMTI.
Secara umum, ia menilai kualitas pendidikan vokasi yang ada di bawah Kemenperin sudah bagus dan ideal. Baik dari segi pelaksanaan program, maupun jejaring yang dilakukan dengan industri. Namun memang perlu terus ditambah kuantitasnya.
"Selain kualitas, aspek kuantitas juga terus ditingkatkan, baik program kelas atau SDM, untuk memenuhi kebutuhan industri," harapnya.
Baca Juga: FIFA Selidiki Kericuhan Final Piala Dunia 2026, Tiga Pemain Argentina Terancam Skorsing
Agus menambahkan, kebutuhan SDM yang unggul dan kompeten di sektor industri, secara pola juga terus bertambah secara signifikan. Menurutnya, fenomena tersebut jadi indikator yang positif, karena berarti menunjukkan signifikansi sektor industri di Indonesia yang terus maju dan berkembang.
"Industri kita bertumbuh pesat, peningkatan dan kebutuhan SDM di industri juga terus terjadi," bebernya belum lama ini. (inu)
Editor : Bahana.