School of Liberation Gelar Diskusi Palestina, Tekankan Pentingnya Literasi dan Kepedulian

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:35 WIB
RUANG EDUKASI: Ketua School of Liberation Ahmad Hanafi Rais (tengah baju hitam) bersama dua pembicara lain dalam acara talkshow Merawat Ingatan, Membela Palestina di Ruang Utama Masjid UGM, Sabtu (25/7/2026) - Foto fahmi fahreza
RUANG EDUKASI: Ketua School of Liberation Ahmad Hanafi Rais (tengah baju hitam) bersama dua pembicara lain dalam acara talkshow Merawat Ingatan, Membela Palestina di Ruang Utama Masjid UGM, Sabtu (25/7/2026) - Foto fahmi fahreza

JOGJA - School of Liberation menggelar talkshow bertajuk Merawat Ingatan, Membela Palestina”. Acara berlangsung di Ruang Utama Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (25/7/2027). Menghadirkan pembicara Founder sekaligus Ketua School of Liberation Ahmad Hanafi Rais, Direktur Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA) Dzikrullah W. Pramudya, dan CEO Institute Muslimah Negarawan (IMuNe) Dr. Fika Komara.

Dalam diskusi itu, ketiga narasumber membahas isu Palestina dari berbagai sudut pandang. Mulai dari nilai keagamaan, aspek kemanusiaan,  geopolitik, hingga perkembangan situasi internasional. Misalnya, Ahmad Hanafi Rais menilai, isu Palestina selama ini dipandang secara relatif konsisten oleh banyak organisasi dan tokoh Islam di Indonesia.

Menurut dia, isu tersebut tidak hanya dipahami sebagai persoalan kemanusiaan semata. "Yang terjadi di Palestina tidak bisa dianggap sekadar politics as usual. Namun juga dipahami banyak kelompok sebagai persoalan yang memiliki dimensi ideologis," kata Hanafi.

Mantan wakil ketua Komisi I DPR RI ini juga menyoroti pendekatan diplomasi pemerintah Indonesia. Pemerintah saat ini lebih menempatkan isu Palestina dalam kerangka diplomasi internasional. "Itu menjadi salah satu dinamika yang menurut saya menarik untuk dicermati," ujarnya.

Sedangkan Dzikrullah W. Pramudya lebih menekankan,pembahasan mengenai Palestina tidak seharusnya berhenti dengan mengikuti perkembangan berita semata. Pemahaman terhadap Baitul Maqdis perlu dibangun melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan.

"Semua info yang kita gali di acara ini tidak boleh hanya berhenti sebagai pemenuhan kebutuhan fomo atau update isi kepala kita agar tak ketinggalan berita. Jauh lebih penting, pembicaraan tentang Baitul Maqdis harus diintegrasikandalam perjalanan kita sebagai seorang muslim," ingatnya.

Baca Juga: Cahya Supriadi Perkuat Timnas Indonesia, PSIM Jogja Berharap Bawa Pengalaman Berharga

Dzikrullah juga menyampaikan, kecintaan terhadap Masjidil Aqsa perlu dibangun melalui pemahaman terhadap Alquran dan sejarah Islam. Dengan begitu, tidak hanya muncul ketika terjadi eskalasi konflik.

Dalam kesempatan yang sama, Fika Komara mengajak masyarakat, khususnya generasi muda meningkatkan literasi mengenai Palestina. Dia menilai isu tersebut perlu dipahami tidak hanya dari sisi konflik. Namun juga dalam konteks perkembangan teknologi, ekonomi, dan geopolitik global. "Kita harus selalu punya cara meningkatkan resonansi isu Palestina di negeri kita. Edukasi mengenai Baitul Maqdis penting untuk terus dilakukan," ajaknya

Melalui forum tersebut, Fika berharap masyarakat memperoleh ruang diskusi untuk memahami isu Palestina dari berbagai perspektif. Sekaligus mendorong peningkatan literasi publik terhadap isu-isu internasional terkait dengan kawasan Timur Tengah. Dia juga mengingatkan agar masyarakat memiliki kemampuan berpikir kritis menyikapi berbagai perkembangan global, termasuk kemajuan teknologi dan arus investasi. "Sehingga tidak mudah menerima setiap narasi tanpa kajian yang memadai," tandasnya. (iza/kus)

Editor : Bahana.
UGM Hanafi Rais diskusi