Muncul Lagi! Disdik Sleman Tegaskan Larang Sekolah Wajibkan Siswa Miliki Lapotp, Program Kelas Digital Tak Boleh Bebani Ortu  

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 19:53 WIB
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Mustadi. Delima Purnamasari/Radar Jogja
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Mustadi. Delima Purnamasari/Radar Jogja

SLEMAN – Meski telah dilarang, fenomena kewajiban membeli laptop terjadi lagi di salah satu SMP negeri di Sleman. Hal ini dikeluhkan warganet yang mengunggah di media sosial dan viral.

Kebijakan tersebut dianggap memberatkan orang tua dan berpotensi menimbulkan diskriminasi bagi siswa tidak mampu. 

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Mustadi menegaskan, melarang kebijakan semacam ini, apalagi jika sampai ada sekolah yang menentukan spesifikasi laptop tertentu.

"Enggak boleh. Kok diwajibkan enggak boleh. Tegas saya. Jangan sampai memberatkan orang tua kalau enggak mampu ya sudah," katanya ditemui Rabu (22/7/2026). 

Baca Juga: Apel P4GN, Bupati Gunungkidul Ajak Siswa Jauhi Narkoba, Judol, hingga Kejahatan Jalanan

Meski demikian, setiap anak tetap berhak mendapatkan pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Terlebih di setiap sekolah sudah ada fasilitas guru yang bisa mengajar. Sementara sarana prasarananya bisa menggunakan yang tersedia dari sekolah.

Pemerintah sendiri disebut telah menyalurkan bantuan dari pusat berupa komputer chromebook maupun bantuan dari kabupaten sendiri pada sejumlah sekolah.

Dengan demikian, diharapkan  tidak terjadi ketimpangan kualitas pendidikan antara satu sekolah dengan yang lain.

Mustadi menilai, arahan agar siswa memiliki laptop karena sejumlah SMP di Bumi Sembada menyelenggarakan kelas digital.

Baca Juga: Sampaikan Duplik, Kejari Sleman Tegaskan Penetapan Tersangka dan Penahanan Raudi Akmal Sah

Program ini memang dianggap krusial di tengah perkembangan teknologi informasi saat ini sekaligus jadi upaya untuk meningkatkan kualitas di sekolah. Hanya, penyelenggaraannya juga tidak bisa serta-merta kebijakan dari sekolah semata.

Harus ada sosialisasi pada orang tua (ortu), pendataan siapa saja siswa yang akan mengikuti, sekaligus musyawarah terkait mekanismenya. 

"Programnya juga tidak boleh mewajibkan semua harus ikut. Kalau siswa enggak punya, tidak bisa diselenggarakan. Mana yang memang memungkinkan orang tuanya," ujarnya.

Baca Juga: Bangun Peternakan Sapi Perah Terbesar di Brebes, Mentan Amran: Selama Peternak Bisa Produksi Susu, Kami Tidak Akan Impor

Instansi ini memastikan tidak ingin para siswa merasa ditekan karena kewajiban semacam ini. Mustadi juga mencontohkan soal pelarangan pengadaan seragam oleh sekolah maupun komite.

Hal ini sebagai bentuk ketegasan agar tidak terjadi diskriminasi di lembaga pendidikan. 

"Enggak boleh anak-anak merasa ditekan, ada kewajiban semacam ini, enggak bisa. Kami sudah imbau sehingga ada ketegasan," tegasnya.

Atas beredarnya informasi ini, dia juga mengimbau agar wali murid benar-benar memahami dan mengkomunikasikan kebijakan dengan sekolah. Sebab dia sebut terkadang informasi belum dipahami dan belum lengkap, tetapi sudah disampaikan di media sosial.

Baca Juga: Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto: Festival Tresna Pancasila Jadi Inspirasi Generasi Muda Bangun Karakter Nilai Luhur Bangsa

Unggahan di media sosial atas kasus serupa juga terjadi sebelumnya. Saat itu siswa di SMP Negeri (SMPN) 4 Pakem dikabarkan wajib memiliki iPad. Sementara SMPN 1 Godean diwajibkan memiliki laptop dengan spesifikasi tertentu.

Keduanya memang dikenal sebagai sekolah tujuan yang banyak diminati karena memiliki sejumlah prestasi yang lebih dibandingkan sekolah lain di Bumi Sembada. 

Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Sleman Ponidi menjelaskan, atas informasi ini telah dilakukan pemantauan di sekolah-sekolah tersebut. Hasilnya tidak ada yang mewajibkan maupun memberi surat edaran pada wali murid untuk membeli laptop maupun iPad dengan spesifikasi tertentu.

"Kami sudah pantau dari ujung barat hingga ujung timur, utara hingga selatan di Sleman, hasilnya tidak ada yang mewajibkan apa-apa," katanya.

Baca Juga: Jawa Tengah Jajaki Kerja Sama dengan Iran, Gubernur Ahmad Luthfi Bidik Transfer Teknologi dan Investasi

Jika ada pelanggaran dari sekolah, disdik dipastiksn akan memberikan teguran keras. Dia memastikan seluruh anak bisa tetap masuk ke sekolah tujuannya sesuai minat masing-masing.

Ponidi memastikan tidak ada kendala dengan alasan ekonomi untuk bisa memilih sekolah tertentu di Sleman. (del/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
wajibkan siswa kelas digital melarang sekolah disdik sleman laptop